Buku dan Cinta Pada Pandangan Pertama

Banyak buku yang membuat saya jatuh cinta di kali pertama saya membacanya. Satu-dua kata atau sebuah kalimat utuh.

Hal ini yang sering menjadi alasan saya membeli buku.

Tapi saya salah.

Saya banyak kecewa pada buku-buku baru itu. Ternyata saya hanya ‘suka’ pada kata atau kalimat, pada titik di mana saya jatuh cinta. Tapi tidak pada kata-kalimat yang lain.

Akhirnya buku-buku itu tidak saya baca hingga selesai. Mereka lalu berakhir di dalam lemari. Tidak pernah saya sentuh lagi.

Mungkin jatuh cinta juga seperti itu. Apalagi jatuh cinta pada pandangan pertama.

Bisa jadi hal yang membuat kita jatuh cinta itu adalah satu-satunya hal dari diri seseorang yang kita suka. Yang lain tidak. Tidak satupun.

Ya, tidak satupun.

PicsArt_08-16-06.25.45

November Rain to Wonderful March

November

“Tawwa Cha dih Mappetuada pas ulangtahunnya.”kata abang beberapa hari setelah acara Mappetuada Cha, adik kami. Mappetuada itu acara adat yang isinya lamaran secara resmi.

“Ulangtahunmu nanti bagusnya diisi apa? Kalau nikah terlalu cepat dih? Lamaran saja kalau begitu?”tanyanya.

Saya tertawa saat itu. “Boleh.. boleh..!”

I said yes but inside saya sebenarnya tidak terlalu yakin. Bukan tidak yakin dengan keseriusan abang tapi memang to do list sebelum lamaran atau apalah itu memang belum selesai semua. Kami masih harus menyelesaikan banyak hal.

Ngomong-ngomong apakah latar cerita ini adalah hujan seperti di judul? Tidak, seingat saya. Hahaha. Ini sih asal-asalan saya. Tapi anggap saja November Rain itu berarti November yang sejuk. Sesejuk rencana abang hari itu.😀

Maret

Kami di warung sate langganan tidak jauh dari kantor saya, malam itu.

“Bapak mau datang pekan depan. Ke rumah adek.”

“Eh? Bapak?”saya kaget.

“Iya. Bapak mau melamarkan adek untuk saya.”

Well, saya tidak tahu bagaimana ekspresi saya waktu itu. Seingat saya, saya cuma senyum-senyum gimanaaa gitu. Dan saya melihat si abang senyum gimanaaa begitu. Tapi entahlah. Kadang kalau kita bahagia, hal-hal sekitar kita jadi terlihat gimanaaa begitu.

For your information, pekan depan itu tanggal 16. Ulangtahun saya.

Aaaaaaaaaaaakkk!!!!

cd1fc181c76ac0a5291aee429c3aed08

 

 

Jambu Bangkok Abang

Awal Ramadhan kemarin pohon jambu bangkok di halaman rumah mulai berbuah. Buahnya waktu itu masih sebesar bola pingpong. Kata abang -yang ilmu flora dan faunanya jauh melebihi diriku yang sangat metropolitan ini- jambu-jambu itu baru bisa dimakan ketika ukurannya sudah sedikit lebih besar dari bola tenis.

“Kapan Bang jambunya segede itu?”tanya saya.

“Nanti. Mungkin habis lebaran.”katanya sambil membungkus beberapa buah jambu dengan kantung plastik.

“Kok dibungkus?”

“Biar tidak dimakan ulat kecil. Oh iya, yang dibungkus plastik merah ini jatahnya abang yaa…”

Saya sebenarnya masih mau bertanya tapi urung mengingat waktu berbuka puasa sudah hampir tiba.

“Yuk masuk.”katanya.

“Lanjutkan goreng bala-balanya.”katanya sambil ketawa usil. Baru saya mau terharu disuruh cepat masuk untuk buka puasa. Pfft.

***

Sepekan setelah lebaran ketika berita duka itu sampai. Salah seorang pamannya abang berpulang. Abang tentu saja harus segera pulang ke kampung halaman.

Awalnya berjalan seperti biasa. Rindu dan alay bercampur menjadi satu setiap hari hingga saya tiba-tiba teringat dengan si jambu!

Pulang kantor saya langsung menghampiri jambu yang tidak pernah lagi saya liat keadaannya itu. Jambunya ternyata sudah besar! Lalu dengan penuh keharuan serta ucapan basmalah saya memetik jambu itu perlahan.

Abang, adek petik jambunya untuk abang ya.

tapi nanti adek yang makan.😀

Begitulah cerita jambu bangkok yang disimpan abang sejak  Ramadhan tapi akhirnya saya yang petik di bulan Syawal.

Rejeki juga begitu kali ya. Sekuat dan serapi mungkin kita jaga tapi kalau bukan rejeki kita ya tidak bakalan pernah jadi milik kita.

Sabar Abang, ya. Tahun depan berbuah lagi kok! ^_^

20160730_072104

Burung Mati dalam Selokan

Tadi pagi tetangga saya terlihat sedang jongkok di depan selokan tidak jauh dari rumahnya. Apakah dia sedang eek sembarangan? Saya hampir berpikir demikian sampai saya melihat dua kandang burung besar di sebelahnya.

Uhh, burungnya mati…

Saya merintih dalam hati melihat beberapa ekor burung terbaring tak berdaya di dasar kandang. Bulu mereka cantik, ya saya dapat melihat itu dari tempat saya.

Jadi back to my tetangga, dia ngapain di situ? Saat itulah saya melihat dia mengambil salah satu jasad burung di situ dan… membuangnya dalam selokan!

Yes. Semuanya dibuang dalam selokan. Dilempar sih lebih tepatnya. T_T

Saya masih ingat kemarin –betul-betul kemarin- saya baru saja mengubur jasad tikus kecil yang mati di halaman rumah. Lah ini burung, peliharaannya sendiri, dan cantik begitu! Apa dia tidak menganggap burung-burung itu bagian dari dirinya? Keluarganya? Separuh hatinya? Lagipula membuang sampah di selokan saja tidak boleh, apalagi ini jasad!

Menurut saya, bagaimanapun hewan itu makhluk hidup juga. Setidaknya kita harus memberikan penghormatan terakhir dengan mengubur dengan layak kalau mereka tiada. Apalagi kalau mereka pernah jadi peliharaan kita. CMIIW

*Babay burung-burung cantik. Berkurang lagi yang bertasbih di bumi ini :’)

https://id.pinterest.com/pin/275071489720307877/

Puss, Jangan Eek di Jalan!

cat

Ada hal yang mengganggu Emon di sepanjang jalan tempat naik pete-pete: eek kucing! Emon harus lebih banyak menunduk untuk menghindari eek kucing di sepanjang jalan. Sangat mengganggu!

Biasanya kucing kalau eek pasti menutup sisa-sisa buang hajatnya itu dengan tanah atau pasir kan? Tapi kenapa tidak seperti itu? Kenapa kucing-kucing ini malah eek di atas paving-block? Mengapa mereka bertingkah seperti kucing yang tidak terdidik saja?

***

Lain Emon, lain papa Emon. Kalau Emon tadi memusingkan eek kucing, si papah tadi mengeluhkan tingkah salah seorang anak tetangga.

“Kenapa dia Pa?”tanya Emon.

“Dia main bola di depan rumah. Terus bolanya ditendang keras-keras ke tembok, ke pagar. Bunyinya kan keras sekali. Papa jadi sering kaget kalau dia nendang seperti itu.”

“Papa sudah tegur anak itu?”

“Itu dia. Papa sudah tegur. Papa bilang main bola boleh tapi jangan tendang ke tembok atau pagar. Selain bunyinya, di situ juga kan banyak pot bunga mama. Dia bilang iya. Eh pas papa balik mau masuk ke rumah, dia malah tendang bolanya keras-keras ke tembok. Kan menantang namanya?”

Yang bikin papa miris, anak itu adalah muadzin di masjid kami. Usianya masih muda. Kata papa dia masih SMP.

***

Dari cerita pertama, apa teman-teman akan menyalahkan si kucing? Dari cerita kedua, si anak yang main bola itu memang tampak tidak sopan ya?

Secara aksi mereka salah. Dua-duanya, baik si kucing maupun si anak yang main bola itu. Tapi kalau kita lihat segalanya lebih dekat? Lebih dalam?

Coba lihat. Di sepanjang jalan dari rumah Emon ke jalan raya, apa ada tanah? Pasir? Rasa-rasanya tidak ada. Jalanan sudah penuh paving-block. Selokan ditutup dengan semen. Jadi wajarlah kalau kucing-kucing jalanan itu eek di pinggir jalan dan eeknya tidak tertutup apa-apa. Karena mereka memang tidak punya tempat lagi untuk eek dengan layak.

Dan si anak main bola. Apakah anak-anak sekarang punya lahan untuk main bola sore-sore bersama tetangganya? Saya tidak tahu kalau di tempat lain. Tapi kalau di daerah rumah kami, sudah tidak ada lagi lapangan terbuka. Semua sudah jadi rumah dan jadi ruko. Lahan publik sudah tidak ada lagi. Ya masa tiap sore mereka satu kompleks berbondong-bondong ke Karebosi – misalnya – untuk lari-lari main bola? Eh, kalau mau pakai lapangan di Karebosi mesti bayar tidak sih?

Emon jadi kasihan kepada para kucing jalanan dan anak yang bermain bola itu. Di sisi lain mereka mengganggu tapi di sisi lain mereka juga hanyalah korban. Iya kan?

Kucing yang eek di jalan. Anak-anak bermain bola yang mengganggu tetangga. Jadi kucing-kucing itu mesti eek di mana? Jadi anak-anak itu bermain bola di mana? Atau mereka main game online saja? Biar tidak ribut? Terus kalau mereka kecanduan main game online bagaimana? Bagaimana kalau mereka main game kekerasan? Kalau mereka akhirnya akrab dengan kekerasan terus jadi begal? Bagaimana?

Bagaimana?
April 2016

Pagi Ini Aku Hanya Ingin Memelukmu Saja

Pagi ini aku hanya ingin memelukmu saja
Tanpa harus berkata apa-apa
Tanpa ingin melakukan apa-apa

Rebahkan jiwamu walau tak lama
Kau boleh melepaskan semua resah yang ada
Keluarkan saja semua gelisah tertahan dalam dada
Yang selama ini coba kau anggap tiada

Pagi ini aku hanya ingin memelukmu saja
Tanpa harus berkata apa-apa
Tanpa ingin melakukan apa-apa

Ditulis dalam Abang

Permalink 1 Komentar

Kemarilah di Sini Bersamaku

bolehkah kuminta sayapmu?
tidak, bukan sebelah. keduanya.

sini, berikan padaku
akan kusimpan mereka dalam lemari

katanya di luar sedang ada badai
tidak ada yang tahu kapan ia reda
karena itu, kata ibu, tetaplah di sini
bersamaku

dalam sangkar ini ada selimut yang tebal
teh manis yang selalu hangat
dan penganan kecil yang menggugah selera

kau mau?

bolehkah kuminta kau menemaniku di sini?
karena diriku hanya ada di sini
hanya bisa ada di tempat ini
di luar sana tidak ada aku

kau boleh memilih.

kau akan memilih aku, bukan?

kemari. kemarilah.

temani aku di sini.

Februari 2016

wings

Ketik e-mail untuk mem-follow blog ini dan menerima notifikasi via email. ^^

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya

Suka dengan Blog ini?

My Twitter

Komunitas

yang Mampir

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 37 pengikut lainnya