Ketemu Mama Abang, Ketemu Bapak Abang

Saya sedikit tergelak membaca cerita seorang teman blogger. Jadi dia sedang cemas karena bulan depan dia akan diperkenalkan kepada keluarga inti kekasihnya.

Dia –katanya- Anxious.

Yang membuat saya tergelak adalah ingatan setahun lalu. Ketika saya menghadapi hal yang sama: bertemu calon mertua.

Saya tambahin dikit ya: bertemu calon mertua untuk pertama kalinya.

Bagaimana perasaan saya? Cemas? Takut? Grogi? Eyalah itu hati pokoknya sudah dag-dig-dug-ser sejak beberapa hari sebelumnya. Untungnya saya sedikit disibukkan dengan persiapan wisuda jadi ada sedikit pengalih pikiran.

Tapi pilihan kata anxious itu memang benar.

The DAY, setahun yang lalu…

Sesuai rencana kami akan menjemput kedua orangtua abang plus kakaknya yang nomer dua plus seorang pamannya. Banyak yaaa. Sampai di situ tingkat ketegangan sudah kayak sidang ujian tesis.

Saya nervous pake ‘kunci-kunci dunia’. Apalagi memikirkan akan ketemu mamahnya abang. Amboiii.. Kan katanya kita sebagai perempuan harus berhasil mengambil hati (calon) mamah mertua. Pokoknya kira-kira ambil hati mamah mertua atau –> BABAY!😥  😥  😥

menantu

Saking lebaynya semalaman saya browsing pake keyword ‘mengambil hati calon mertua’ dan ‘tips bertemu calon mertua’.

tips-bertemu-mertua

Saya bahkan meng-update informasi tentang harga pasar! Harga ayam potong, bawang merah dan putih sekilo berapa, harga sawi dan lain-lain. Serius!😆

Saya juga buka-buka google map, melihat peta kampung halaman si abang. Tujuannya? Biar saya lebih merasa dekat gituh. Hahaha. Apasih.

Dan saking serius menghapalkan banyak hal ditambah nervous yang tak kunjung reda, saya jadi mules-mules sampai pagi. Karena mules-mules inilah saya terlambat bangun!

Omaigat!!!

Saya tahu kalau naik pete-pete (baca:angkot) saya benar-benar akan terlambat. Jadi saya memutuskan naik taksi ke bandara. Klo via tol mungkin butuh waktu 40 menit. Worth it-lah dibanding naik pete-pete di jam macet yg bisa sampai 2,5 jam perjalanan. Si abang? Dia sudah meluncur duluan. Kami memang tidak berencana pergi sama-sama.

Sampai di bandara saya langsung lari-lari kecil mencari Rangga, eh, abang! Kami bertemu daaan untung pesawatnya baru saja mendarat. Alhamdulillahhh..

Ngomong-ngomong Anda tau sesak napas? Tau mules? Tau keringet dingin? Nah itu. ITU SAYA RASAKAN SEMUA. Yes semuanya sampai ketika abang ngomong, “Itu Bapak sudah ada!”

Sumpah waktu itu kayaknya saya mau menghilang saja. Tapi itu tidak mungkin sodara-sodara. Saya dengan lidah kelu disertai tangan kaki yang dingin pun bergerak mengikuti abang.

“Assalamualaikum, Pak.”cuma itu yang bisa saya ucapkan sambil cengengesan tidak jelas. Oke, mines lima! Gara-gara cengengesan.😥  😥  😥

Tidak lama muncullah berturut-turut: paman abang, kakak abang, daaaaann.. mama! Itu mama abang ada di belakang! Gustiiii..😥  😥  😥

Oke, saya mencoba bersikap santai sambil salim ke semuanya dan tetep -> cengengesan. Okeh, mines lima kali tiga. Lima belas!😥  😥  😥

“Saya panggilkan mobil carteran dulu ya.”kata abang sigap.

“Sisi, saya tidak bawa helm. Kamu ikut di mobil sama yang lain.”katanya lagi sambil berlalu.

What? WHAATT??? &^%$^gfh&%&HFHG%&**^*

Abang. Kamu adalah abang paling jahat sedunia pada saat itu. JAHAT!

Jadi bisa ditebak kejadian selanjutnya. Saya duduk di tengah diapit oleh mama dan kakaknya si abang. Setelah dua pertanyaan basa-basi (sudah sarapan dan berangkat jam berapa) yang SAMA SEKALI tidak bermutu akhirnya dengan berbekal hasil browsingan semalam saya pun dengan penuh percaya diri –> diam. Iya, saya cuma diam. DIAM SEPANJANG PERJALANAN. Puas kamu Abang? PUASSS?😥

Dan sedikit menambah derita cerita ini, terjadi kemacetan sejak keluar bandara sampai di sekitar Daya. Jadi jangan coba-coba menanyakan perasaan saya saat itu. JANGAN!

Yahh begitulah. Dari bandara itu kami cuma singgah sebentar untuk menyimpan barang terus lanjut untuk makan siang. Early lunch. Tapi biarlah. Saya ini sudah dehidrasi lahir batin sejak tadi. 😛

Dan si abang itu. Iya! Abang yang brewokan itu tidak sedikit pun menanyakan keadaan saya, perasaan saya, isi hati saya. Dia tidak tahu apa ini adeknya sudah kayak gimana kejiwaannya? Huh!

Yang saya ingat sekali ada dalam pikiran saya di perjalanan pulang setelah makan siang itu adalah: saya takut sekali berkata atau melakukan apa-apa. Kayak semuanya akan salah. Bahkan bernapas pun saya salah. Serius. Saking groginya saya sempat mendapati diri saya menahan napas.  :lol:   :P

Pas itu saya pengin sekali pulang ketemu mama saya.😆  😆  😆

Padahal ya keluarga si abang hari itu baik sekali. Mamanya terutama. Saya makan dikit disuruh tambah. Minum dikit disuruh minum. Dan saya tetap saja kelam eh, kalem. Makan nasi, kalem. Ngambil ayam, kalem. Minum, kalem. Sambil sesekali senyum kayak putri keraton.

Saya tidak berani menanyakan bagaimana first impression yang saya kasih ke depan mama dan bapak abang waktu itu. *walaupun kata abang, keduanya langsung ngasih lampu hijau.❤❤❤

Sumpah saya tidak mau merasakan perasaan itu untuk yang kedua kali. Groginya kagak nahan cinn! Untung saja saya memang tidak perlu lagi melakukan itu karena saya, mama dan bapak sudah akrab sekali sekarang. 😉

Yah jadi begitulah cerita ketika pertama kali bertemu calon mertua. Insya Allah segala jalan dan usaha untuk menghilangkan kata ‘calon’ ini dimudahkan oleh Gusti Allah dan diberkahi selalu. Aaaminn.

Buat yang mau menapaki proses ini, semoga lancar yaaa. Semoga suasananya bisa jauh lebih cair dan menyenangkan. Semoga tidak grogian alay kayak saya.😆

Terima kasih sudah membaca. Love u to the moon and back, my readers. Muah!❤

 

 

 

 

Buku dan Cinta Pada Pandangan Pertama

Banyak buku yang membuat saya jatuh cinta di kali pertama saya membacanya. Satu-dua kata atau sebuah kalimat utuh.

Hal ini yang sering menjadi alasan saya membeli buku.

Tapi saya salah.

Saya banyak kecewa pada buku-buku baru itu. Ternyata saya hanya ‘suka’ pada kata atau kalimat, pada titik di mana saya jatuh cinta. Tapi tidak pada kata-kalimat yang lain.

Akhirnya buku-buku itu tidak saya baca hingga selesai. Mereka lalu berakhir di dalam lemari. Tidak pernah saya sentuh lagi.

Mungkin jatuh cinta juga seperti itu.

Bisa jadi hal yang membuat kita jatuh cinta itu adalah satu-satunya hal dari diri seseorang yang kita suka. Yang lain tidak. Tidak satupun.

Ya, tidak satupun.

PicsArt_08-16-06.25.45

November Rain to Wonderful March

November

“Tawwa Cha dih Mappetuada pas ulangtahunnya.”kata abang beberapa hari setelah acara Mappetuada Cha, adik kami. Mappetuada itu acara adat yang isinya lamaran secara resmi.

“Ulangtahunmu nanti bagusnya diisi apa? Kalau nikah terlalu cepat dih? Lamaran saja kalau begitu?”tanyanya.

Saya tertawa saat itu. “Boleh.. boleh..!”

I said yes but inside saya sebenarnya tidak terlalu yakin. Bukan tidak yakin dengan keseriusan abang tapi memang to do list sebelum lamaran atau apalah itu memang belum selesai semua. Kami masih harus menyelesaikan banyak hal.

Ngomong-ngomong apakah latar cerita ini adalah hujan seperti di judul? Tidak, seingat saya. Hahaha. Ini sih asal-asalan saya. Tapi anggap saja November Rain itu berarti November yang sejuk. Sesejuk rencana abang hari itu.😀

Maret

Kami di warung sate langganan tidak jauh dari kantor saya, malam itu.

“Bapak mau datang pekan depan. Ke rumah adek.”

“Eh? Bapak?”saya kaget.

“Iya. Bapak mau melamarkan adek untuk saya.”

Well, saya tidak tahu bagaimana ekspresi saya waktu itu. Seingat saya, saya cuma senyum-senyum gimanaaa gitu. Dan saya melihat si abang senyum gimanaaa begitu. Tapi entahlah. Kadang kalau kita bahagia, hal-hal sekitar kita jadi terlihat gimanaaa begitu.

For your information, pekan depan itu tanggal 16. Ulangtahun saya.

Aaaaaaaaaaaakkk!!!!

cd1fc181c76ac0a5291aee429c3aed08

 

 

Jambu Bangkok Abang

Awal Ramadhan kemarin pohon jambu bangkok di halaman rumah mulai berbuah. Buahnya waktu itu masih sebesar bola pingpong. Kata abang -yang ilmu flora dan faunanya jauh melebihi diriku yang sangat metropolitan ini- jambu-jambu itu baru bisa dimakan ketika ukurannya sudah sedikit lebih besar dari bola tenis.

“Kapan Bang jambunya segede itu?”tanya saya.

“Nanti. Mungkin habis lebaran.”katanya sambil membungkus beberapa buah jambu dengan kantung plastik.

“Kok dibungkus?”

“Biar tidak dimakan ulat kecil. Oh iya, yang dibungkus plastik merah ini jatahnya abang yaa…”

Saya sebenarnya masih mau bertanya tapi urung mengingat waktu berbuka puasa sudah hampir tiba.

“Yuk masuk.”katanya.

“Lanjutkan goreng bala-balanya.”katanya sambil ketawa usil. Baru saya mau terharu disuruh cepat masuk untuk buka puasa. Pfft.

***

Sepekan setelah lebaran ketika berita duka itu sampai. Salah seorang pamannya abang berpulang. Abang tentu saja harus segera pulang ke kampung halaman.

Awalnya berjalan seperti biasa. Rindu dan alay bercampur menjadi satu setiap hari hingga saya tiba-tiba teringat dengan si jambu!

Pulang kantor saya langsung menghampiri jambu yang tidak pernah lagi saya liat keadaannya itu. Jambunya ternyata sudah besar! Lalu dengan penuh keharuan serta ucapan basmalah saya memetik jambu itu perlahan.

Abang, adek petik jambunya untuk abang ya.

tapi nanti adek yang makan.😀

Begitulah cerita jambu bangkok yang disimpan abang sejak  Ramadhan tapi akhirnya saya yang petik di bulan Syawal.

Rejeki juga begitu kali ya. Sekuat dan serapi mungkin kita jaga tapi kalau bukan rejeki kita ya tidak bakalan pernah jadi milik kita.

Sabar Abang, ya. Tahun depan berbuah lagi kok! ^_^

20160730_072104

Burung Mati dalam Selokan

Tadi pagi tetangga saya terlihat sedang jongkok di depan selokan tidak jauh dari rumahnya. Apakah dia sedang eek sembarangan? Saya hampir berpikir demikian sampai saya melihat dua kandang burung besar di sebelahnya.

Uhh, burungnya mati…

Saya merintih dalam hati melihat beberapa ekor burung terbaring tak berdaya di dasar kandang. Bulu mereka cantik, ya saya dapat melihat itu dari tempat saya.

Jadi back to my tetangga, dia ngapain di situ? Saat itulah saya melihat dia mengambil salah satu jasad burung di situ dan… membuangnya dalam selokan!

Yes. Semuanya dibuang dalam selokan. Dilempar sih lebih tepatnya. T_T

Saya masih ingat kemarin –betul-betul kemarin- saya baru saja mengubur jasad tikus kecil yang mati di halaman rumah. Lah ini burung, peliharaannya sendiri, dan cantik begitu! Apa dia tidak menganggap burung-burung itu bagian dari dirinya? Keluarganya? Separuh hatinya? Lagipula membuang sampah di selokan saja tidak boleh, apalagi ini jasad!

Menurut saya, bagaimanapun hewan itu makhluk hidup juga. Setidaknya kita harus memberikan penghormatan terakhir dengan mengubur dengan layak kalau mereka tiada. Apalagi kalau mereka pernah jadi peliharaan kita. CMIIW

*Babay burung-burung cantik. Berkurang lagi yang bertasbih di bumi ini :’)

https://id.pinterest.com/pin/275071489720307877/

Puss, Jangan Eek di Jalan!

cat

Ada hal yang mengganggu Emon di sepanjang jalan tempat naik pete-pete: eek kucing! Emon harus lebih banyak menunduk untuk menghindari eek kucing di sepanjang jalan. Sangat mengganggu!

Biasanya kucing kalau eek pasti menutup sisa-sisa buang hajatnya itu dengan tanah atau pasir kan? Tapi kenapa tidak seperti itu? Kenapa kucing-kucing ini malah eek di atas paving-block? Mengapa mereka bertingkah seperti kucing yang tidak terdidik saja?

***

Lain Emon, lain papa Emon. Kalau Emon tadi memusingkan eek kucing, si papah tadi mengeluhkan tingkah salah seorang anak tetangga.

“Kenapa dia Pa?”tanya Emon.

“Dia main bola di depan rumah. Terus bolanya ditendang keras-keras ke tembok, ke pagar. Bunyinya kan keras sekali. Papa jadi sering kaget kalau dia nendang seperti itu.”

“Papa sudah tegur anak itu?”

“Itu dia. Papa sudah tegur. Papa bilang main bola boleh tapi jangan tendang ke tembok atau pagar. Selain bunyinya, di situ juga kan banyak pot bunga mama. Dia bilang iya. Eh pas papa balik mau masuk ke rumah, dia malah tendang bolanya keras-keras ke tembok. Kan menantang namanya?”

Yang bikin papa miris, anak itu adalah muadzin di masjid kami. Usianya masih muda. Kata papa dia masih SMP.

***

Dari cerita pertama, apa teman-teman akan menyalahkan si kucing? Dari cerita kedua, si anak yang main bola itu memang tampak tidak sopan ya?

Secara aksi mereka salah. Dua-duanya, baik si kucing maupun si anak yang main bola itu. Tapi kalau kita lihat segalanya lebih dekat? Lebih dalam?

Coba lihat. Di sepanjang jalan dari rumah Emon ke jalan raya, apa ada tanah? Pasir? Rasa-rasanya tidak ada. Jalanan sudah penuh paving-block. Selokan ditutup dengan semen. Jadi wajarlah kalau kucing-kucing jalanan itu eek di pinggir jalan dan eeknya tidak tertutup apa-apa. Karena mereka memang tidak punya tempat lagi untuk eek dengan layak.

Dan si anak main bola. Apakah anak-anak sekarang punya lahan untuk main bola sore-sore bersama tetangganya? Saya tidak tahu kalau di tempat lain. Tapi kalau di daerah rumah kami, sudah tidak ada lagi lapangan terbuka. Semua sudah jadi rumah dan jadi ruko. Lahan publik sudah tidak ada lagi. Ya masa tiap sore mereka satu kompleks berbondong-bondong ke Karebosi – misalnya – untuk lari-lari main bola? Eh, kalau mau pakai lapangan di Karebosi mesti bayar tidak sih?

Emon jadi kasihan kepada para kucing jalanan dan anak yang bermain bola itu. Di sisi lain mereka mengganggu tapi di sisi lain mereka juga hanyalah korban. Iya kan?

Kucing yang eek di jalan. Anak-anak bermain bola yang mengganggu tetangga. Jadi kucing-kucing itu mesti eek di mana? Jadi anak-anak itu bermain bola di mana? Atau mereka main game online saja? Biar tidak ribut? Terus kalau mereka kecanduan main game online bagaimana? Bagaimana kalau mereka main game kekerasan? Kalau mereka akhirnya akrab dengan kekerasan terus jadi begal? Bagaimana?

Bagaimana?
April 2016

Pagi Ini Aku Hanya Ingin Memelukmu Saja

Pagi ini aku hanya ingin memelukmu saja
Tanpa harus berkata apa-apa
Tanpa ingin melakukan apa-apa

Rebahkan jiwamu walau tak lama
Kau boleh melepaskan semua resah yang ada
Keluarkan saja semua gelisah tertahan dalam dada
Yang selama ini coba kau anggap tiada

Pagi ini aku hanya ingin memelukmu saja
Tanpa harus berkata apa-apa
Tanpa ingin melakukan apa-apa

Ditulis dalam Abang

Permalink 1 Komentar