Gender · Humanisme · Sosial

Merangkul Perbedaan Gender dan Seksualitas dalam Bingkai Kemanusiaan

“Saya rela operasi ganti kelamin kalau kamu mau sama saya.”

“Heh? Dia bilang begitu?” tanya saya kaget. Si abang mengangguk.

“Kapan dia bilang begitu?” kejar saya lagi.

“Waktu kami berdua sama-sama di kamar.”

“Hehhh? Abang sekamar sama diaaa?”kali ini saya benar-benar terkejut, spontan tertawa dan sedikit cemburu buta.

Ini adalah percakapan yang paling absurd yang pernah saya dengar. Oke, sering sih kalau di film-film. Tapi di kehidupan nyata dengan calon korban yang kekasih sendiri tentu saja rasanya jadi berbeda. LOL

***

Percakapan ini masih sempat saya pikirkan hingga beberapa hari ke depan sampai si abang harus meyakinkan saya kalau dia straight dan laki-laki yang rela operasi kelamin itu sama sekali tidak menarik di matanya. Oh dear, ada yang rela sampai segitunya demi kamu, sayang. Hahaha.

Oke tawa saya di atas kejam dan sangat rasis. Kegelisahan kaum LGBT terhadap orientasi seksualnya tentu saja bukan bahan untuk bercanda apalagi lucu-lucuan. Apalagi kalau kita tidak pernah “mengalami” kegelisahan yang sama. Sebenarnya saya merasa prihatin juga. Menjadi pelaku penyimpangan tentu saja sangat mengganggu mereka lahir dan batin.

Suatu hari di saat kami sudah menikah, akhirnya saya bertemu lelaki itu. Dia sangat baik dan menyalami saya dengan ramah. Dia bahkan protes karena ternyata abang tidak mengundang dia. Saya mendelik ke abang, Harusnya dia diundang kali, Bang. Begitulah kira-kira arti tatapan saya.

***

Di tempat berbeda, saya mengenal seorang laki-laki yang sudah nyaris berubah menjadi perempuan. More than the man before, teman saya ini bahkan sudah memakai toilet wanita dan tidak sholat jumat. Saya sempat syok saat pertama kali  berpapasan dengan dia di dalam toilet.

Jiwa kepo saya pun tidak tenang saat itu. Saya akhirnya pelan-pelan mencari tahu dan mendapati  mengetahui orientasi seksualnya yang memang sudah berbeda. Pun kisah sedih di mana dia ternyata pernah ditolak oleh keluarganya dalam waktu yang lama.

Hal ini membuat dia harus hijrah ke kota saya ini, mencari pekerjaan dan hidup sendirian tanpa siapa-siapa. Ini berlangsung beberapa tahun hingga akhirnya saya membaca postingan dia di social media: Alhamdulillah, pulang kampung! Saya yang membaca spontan berhamdalah. Artinya keluarganya sudah menerima dia lagi. Mungkin tidak menerima sifat, kepribadian dan orientasi seksualnya tapi  menerima sebagai anggota keluarga. Toh bagaimanapun blood is thicker than water.

Sampai saat ini teman saya itu belum berubah. Masih seperti yang sudah-sudah. Sebenarnya saya dan teman-teman lain juga prihatin. Terlepas dari penyimpangan orientasi seksualnya, dia sangat ramah dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Dia selalu bisa diandalkan dan selalu mau bekerja keras.

***

Berusaha “menyembuhkan” teman saya itu hanya ada dalam tahapan niat saja. Yang bisa saya lakukan hanya tetap menerima dia sebagai rekan kerja, tidak mengucilkan atau bahkan terang-terangan mengatakan benci. Tidak. Kita boleh menolak kondisi dan pilihan hidupnya. Tapi kita tidak boleh membenci dia sebagai manusia. Tapi saya juga berusaha menunjukkan sikap selembut mungkin bahwa saya tidak mendukung ‘kepribadian’ dia yang satu itu. Susah-sasah gampang memang.

***

Budaya kita yang sangat majemuk dan heterogen ini tentu saja menoleransi ‘banyak’ perbedaan. Namun secara luas, perilaku para kaum LGBT belum mendapatkan dukungan penuh. Bentuk toleransi terbesar adalah tetap menerima mereka di lingkungan sosial tanpa mendukung orientasi seksual yang ‘berbeda’ dari masyarakat pada umumnya.

Walaupun tidak dapat dipungkiri, para rekan-rekan LGBT makin ke sini mereka makin berani menunjukkan identitasnya seiring dengan ‘terbiasanya’ orang-orang lain dalam menyadari keberadaan mereka.

***

Pikiran saya kemudian melintas di fenomena Pesantren Waria di Jogja. Saya sempat membaca artikel-artikel terkait dan menonton beberapa video mereka di Youtube. Saya terkejut melihat para waria itu sholat dan mengaji dengan menggunakan mukenah. Wajah mereka ada yang sebagian bermakeup tebal. Sungguh saya tidak merasa itu lucu. Saya malah terharu, sebenarnya. Terharu lalu kembali prihatin.

Setahu saya pesantren itu telah dibubarkan karena penyimpangannya sudah melewati batas toleransi. Terlihat para santri(wati?) di pesantren itu bersedih karena mereka tidak bisa lagi beribadah seperti biasa. Di masjid/mushollah lain, mereka harus sholat di shaf laki-laki atau perempuan?

Saya setuju pesantren itu “dibubarkan”. Dalam artian, kita tentu tidak bisa menerima seorang laki-laki memakai mukenah dan beribadah. Tapi membubarkan bukan berarti melepaskan. Saya tidak tahu apakah selepas pembubaran itu ada pihak yang menampung mereka, merangkul dan dengan penuh kasih sayang mengajak mereka kembali straight, kembali ke jalan yang lurus.

Niat beribadah mereka tentu saja tidak boleh disia-siakan. Lagipula kita tidak pernah tahu, kekhusyukan mereka mungkin jauh di atas khusyuknya kita yang mengaku “lurus”, bukan?

Membubarkan lalu meninggalkan adalah tindakan yang kejam dan tidak bertanggung jawab. Mereka akan merasa tidak punya siapa-siapa lagi kecuali kaum mereka sendiri. Akibatnya apa, mereka hanya akan berada dalam lingkaran itu saja. Bagaimana mereka bisa sembuh jika mereka terputar di situ-situ saja? Bagaimana mereka bisa keluar dari lingkaran itu jika tidak ada yang menarik tangan mereka keluar dan segera bertaubat?

Apakah Ada Solusinya?

Perlu disadari bahwa tidak seperti kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan seksual itu bila tidak disalurkan tidak akan menyebabkan kematian. Paling jauh yang terjadi adalah kegelisahan. Jadi tidak beralasan bahwa orientasi seksual, terutama yang menyimpang, adalah panggilan hati, kondisi biologis dan harus dituruti.

Namun kenyataannya, para pendukung LGBT tentu saja mengklaim tidak ada solusi selain mengikuti orientasi tersebut. Tapi tentu saja bagi kita yang menolak akan mengatakan selalu ada solusi. Para psikolog dan psikiater menunjuk terapi yang berkesinambungan bisa menyembuhkan, lingkungan yang jauh dari suasana LGBT, dukungan keluarga dan  tentu saja niat yang kuat dari dalam diri sendiri.

Berat, memang. Sangat tidak mudah. Bahkan bagi mereka kaum LGBT, hal ini terasa tidak akan pernah berhasil. Tapi mungkin inilah bentuk cobaan bagi mereka. Cobaan yang bila berhasil dilalui, tentu saja pahalanya akan sangat besar.

Selain itu dukungan pemerintah juga sangat turut andil dalam membantu para rekan-rekan LGBT untuk bisa sembuh, walau sampai saat ini tidak ada krimininalisasi terhadap kaum LGBT.

Namun walau belum ada kriminalisasi, hukum dan perundang-undangan perkawinan membatasi hak untuk kaum gay dan lesbian.

Dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU Perkawinan”), perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanit sebagai suami isteri.

Selain itu, di dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan dikatakan juga bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Ini berarti selain negara hanya mengenal perkawinan antara wanita dan pria, negara juga mengembalikan lagi hal tersebut kepada agama masing-masing.

Sedangkan untuk kaum transgender, belum ada undang-undang yang mengatur tentang hal ini.

Adanya undang-undang seperti ini adalah salah satu warning bagi kaum LGBT bahwa bagaimanapun aktifitas seksual mereka tidak mendapatkan tempat di dalam hukum. Juga menjadi langkah awal bagi pemerintah untuk meneruskan pembuatan undang-undang lainnya.

Adapun andil pemerintah yang lain adalah dengan membuat lingkungan yang kondusif yang sekaligus membantu para psikiater dan psikolog serta relawan-relawan dalam membuat program-program konseling dan terapi yang berkesinambungan dan menyeluruh. Dengan bersatu-padu dan gotong royong, diharapkan rekan-rekan LGBT bisa kembali ‘lurus’ secara bertahap dan kembali melanjutkan kehidupan mereka dengan perasaan jauh lebih positif dan bahagia.

***

Terakhir, saya pernah membaca beberapa artikel tentang beberapa orang yang telah melakukan operasi ganti kelamin. Awalnya mereka merasa bahagia. Namun selang  beberapa tahun kemudian, di antara mereka ada yang memutuskan mengembalikan ‘jenis kelamin’ mereka seperti seperti sedia kala. Mereka mengoperasi kembali diri mereka menjadi seperti di awal mereka dilahirkan. Alasannya beragam, namun dapat disimpulkan mereka merasa ‘membohongi diri sendiri’. Mereka merasa gelisah karena telah mengubah apa yang telah Tuhan pilihkan untuk mereka.

Artinya pada fitrahnya, apa yang ada dalam diri kita saat dilahirkan itulah jati diri kita. Tuhan Yang Maha Kuasa tidak mungkin salah menciptakan hambaNya. Adapun ‘keberagaman’ orientasi sesungguhnya adalah bagian dari ujian kehidupan ini, persis seperti cobaan-cobaan hidup lainnya yang juga beraneka ragam.

Semoga ujian apapun itu, siapapun yang mengalaminya dapat selesai dengan baik dan bijaksana. Toh, yakin saja Tuhan tidak pernah memberikan kita cobaan yang tidak dapat kita lalui, bukan?

Wallahu’alam bishawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s