Abang · Family · Married Life

My Very First Ferry – Sebuah Perjalanan Pulang dengan yang Tersayang

“Kita mudik tahun ini via Raha, ya.”kata papa K, suami saya, tiga bulan sebelum Ramadhan kemarin.

Saya mengernyit. Awalnya kami berencana mudik ke Pure, Sulawesi Tenggara, dari Makassar via Baubau. Dari Baubau kami harusnya melalui perjalanan darat dengan mobil selama kurang lebih 3 jam.

“Loh, bukannya kalau dari Raha ke Pure harus menyeberang selat Muna ya?”selidik saya.

“Iya.”

“Waaahhh! Naik perahu katinting?”tanya saya excited. Sebagai anak perempuan bungsu dengan orangtua dan saudara-saudara posesif, saya tidak pernah sama sekali menyeberang ke pulau naik speedboat, perahu, dan transportasi laut apapun kecuali kapal Pelni. Ya masak ke pulau Samalona naik Pelni? 😀

“Kamu tinggal di zaman mana sih? Naik Kapal Ferry lah. Raha-Pure cuma sejam kalau naik Kapal Ferry.”

“Ferry? Kita mau naik Kapal Ferry?”saya berbinar-binar.

Akhirnya jiwa petualang saya yang selama ini terpendam bisa muncul juga ke permukaan. Setelah menikah, tentunya segala larangan tentang perahu dan teman-temannya sudah lepas. Tapi memang belum ada kesempatan untuk berpetualang ke pulau. Padahal di Makassar ini, wisata pulau ada di mana-mana. Terlebih lagi si K, my precious baby, sudah lahir. Ya mau bagaimana lagi, makin susah berpetualang. ^^;

***

Sepekan sebelum hari H

Lebaran tinggal sepekan lagi. Kami akan landing di Bandara Sugimanuru tanggal 13 siang dan akan naik Kapal Ferry menuju Desa Pure keesokan harinya, tanggal 14 Juni pagi.

Sebenarnya saya khawatir. Perjalanan sehari sebelum lebaran yang saya tahu pasti hectic. Penuh manusia di mana-mana yang haus akan kesegaran rumah di kampung halaman. Apalagi perjalanan kali ini bukan cuma saya, baby K, dan papa K. Mama-papa saya yang sudah sepuh juga ikut!

Bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti kami desak-desakan? Rebutan kursi? Didorong-dorong oleh penumpang lain? Bagaimana kalau Kapal Ferry-nya kelebihan muatan?

“Kamu mengkhawatirkan itu?”tanya papa K pada satu malam. Enam hari sebelum lebaran. Saya menatapnya dengan tanda tanya.

“Saya malah khawatir kita tidak kebagian tiket.”tambahnya.

“Ehh? Memangnya tidak bisa dipesan online?”

“Tidak bisa. Nanti di atas Kapal Ferry baru beli tiket.”

Saya melongo.

***

Tanggal 13, off to Raha

Setelah percakapan tentang Kapal Ferry tempo hari, saya selalu merapalkan doa agar kami kebagian tiket. Saya tidak bisa membayangkan kalau kami tidak bisa menyeberang ke Pure hari itu. Sebenarnya kami bisa saja naik Jhonson, kapal mesin yang lebih kecil. Tapi mama saya pasti tidak berkenan. Beliau ada trauma dengan kapal kecil. Hahaha.

And here we are!

Selamat datang di Kota Raha. Kebetulan kakak ipar saya ada yang tinggal di Raha dan dekat dengan pelabuhan penyeberangan. Jadi sebelum ke rumah beliau, kami lewat sebentar di pelabuhan.

1 Pelabuhan Raha
Pelabuhan Raha

Pelabuhannya cantik juga. Bersih dan hey, tidak terlalu ramai!

Memang jadwal Kapal Ferry hari itu sudah selesai (dua kali dalam sehari, pagi dan siang). Tapi secara ini dekat dengan hari H lebaran, saya pikir akan ramai padat merayap.

Kami turun ke pelabuhan sebentar. Pelabuhan ini lega walau tidak terlalu besar dibandingkan Pelabuhan Soekarno Hatta di Makassar (ya iyalah). Dan untung juga saat ini PT. ASDP Indonseia Ferry  telah membuka jalur penyeberangan rute Raha – Pure. Kata papa K, jalur operasi Kapal Ferry ini mulai resmi dibuka sejak tahun 2013. Artinya sudah sekitar 5 tahun. Kalau jalur ini tidak ada, maka kami harus naik Ferry via Kendari atau Baubau yang akan makan waktu jauh lebih lama.

Ya, cek lokasi sudah. Saatnya menjelajahi senja di Kota Raha. Lalu pulang dan berdoa semoga kami besok dapat tiket Kapal Ferry. Aamiin.

***

The Day

Early in the morning, pukul 6 pagi lebih sedikit kami semua sudah siap. Kakak ipar saya bilang, pukul tujuh kami sudah harus ke pelabuhan karena mobil beliau akan kami bawa ikut ke Pure.

Di Pelabuhan

Matahari pagi masih hangat. Angin laut bertiup tidak terlalu kencang. Para pejuang Kapal Ferry -yang sejak semalam terus berdoa- pagi ini bisa bernapas lega. Mobil yang antri untuk naik baru tiga. Orang-orang juga belum terlalu ramai.

KMP Mujair. Itu nama Kapal Ferry yang akan kami tumpangi pagi ini. Kapalnya tidak terlalu besar juga kecil.

kmp mujair 2
KMP Mujair – Diambil dari website ASDP Indonesia Ferry

Setelah mendaftarkan mobil dan memarkirnya naik di atas Ferry, kamipun membeli tiket. Alhamdulillah masih kebagian. Tarifnya cukup terjangkau. Kita cukup membayar Rp.15.000 untuk satu orang penumpang, Rp.35.000 untuk motor dan Rp.175.000 untuk mobil.

Saya sudah bisa merasa lega sekarang. Lalu saking excitednya, dengan semangat 45 saya memimpin rombongan naik tangga menuju tempat duduk penumpang di dek 2.

2 Pelabuhan Raha
Pelabuhan Raha dari Dek 2 Kapal Ferry
3 Antrian Pelabuhan Raha
Loading Penumpang, Mobil dan Motor

Yeay! Sudut kanan depan masih kosong. Segera saya blok untuk kami berlima. Posisi yang asyik karena bisa langsung melihat laut.

Toottttt!

Air horn Kapal Ferry berbunyi sekali. Lalu dua kali. Kata papa K, ketika air horn ketiga sudah berbunyi, Kapal Ferry akan mulai jalan.

Toot! Toot! Tooottt!

Bismillah. Pure here I coooomeee! \0/

Sepanjang jalan saya pikir baby K akan gelisah. Ternyata tidak. Dia malah menikmati pemandangan laut, tiupan angin dan pemandangan Desa Pure di kejauhan. Papa mama saya juga tidak kalah excited. Mereka sudah lama tidak naik Kapal Ferry katanya. Papa saya malah bilang akan sering-sering menjadwalkan liburan ke Pure naik Kapal Ferry. Hahaha.

4 Pulau Buton
Pure – Pulau Buton Sulawesi Tenggara

Perjalanan sejam tidak terasa. Pure makin lama makin jelas terlihat. Pelabuhannya sudah kelihatan terang. Matahari makin tinggi. Kami merasa disambut datang ke tempat ini.

Alhamdulillah kecemasan saya tidak satupun yang terjadi. Kami dapat tiket, tempat duduk yang nyaman, pemandangan yang indah dan tidak ada kejadian kelebihan penumpang. Itu karena kedisiplinan para kru dan awal Kapal Ferry yang tercinta.

Kekurangannya ada sih. Di atas Ferry ini ada kantin yang menjual minuman dingin. Tapi sayangnya tidak bisa kami beli karena lagi puasa. Hihihi.

Air horn Kapal Ferry berbunyi tiga kali. Fery kami segera sandar di pelabuhan Pure. Bau pantai yang segar menyeruak seketika. Hati senang gembira. Sejak naik Kapal Ferry tadi saya tahu, ini akan jadi mudik lebaran paling menyenangkan yang pernah saya rasakan.

Sebelum turun, saya menepuk pagar Kapal Ferry pelan, seperti dua sahabat yang sudah kenal lama.

See you soon my Ferry Mujair. Kita ketemu pekan depan kalau saya sudah mau kembali ke Raha, ya!”

THE END

 

Catatan:
Artikel ini telah diikutsertakan dalam Asyiknya Naik Ferry Blog Competition yang diselenggarakan oleh ASDP Indonesia Ferry. Postingan bersifat karya asli dan pengalaman pribadi.

kompetisi_blog1
Sumber : https://www.indonesiaferry.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s