buku · novel · resensi

The Scent of Sake

the scent of sake

Waktu pertama nemu novel ini, hati saya langsung bilang, “Pasti ini cerita sedih tentang perempuan Jepang.”

Kayaknya sudah masuk di alam bawah sadar saya, ya. Mungkin karena cerita film Jepang di abad 19an itu memang hampir selalu sedih. Oshin, sama… hmm… pernah nonton di metro TV tapi saya sudah lupa judulnya. Ceritanya ada perempuan Jepang, keturunan bangsawan tapi miskin yang dijodohkan dengan anak rakyat jelata tapi kaya raya. Intinya di pernikahan mereka tidak ada cinta, karena suaminya menikah lagi dengan teman kuliahnya apa gitu. Pokoknya syedih.

*cuma tahu dua film tapi langsung nuduh. Ah, lemah!*

Nah, jadi pas ketemu The Scent of Sake saya langsung menjudge novel ini ada bau-bau perempuan yang terabaikan lagi.

Pada abad sembilan belas, setiap perempuan Jepang harus siap “membunuh dirinya sendiri”. Bahwa hak-haknya telah dibatasi dan perempuan tak dianggap kehadirannya. Namun, Rie, putri satu-satunya keluarga Omura, menolak melakukannya.

Ini sinopsis di belakang novel. Nah, betul kan! 😀

Jadi novel ini adalah sudut pandang dari Rie Omura, putri pertama dari keluarga pembuat sake yang terkenal. Hal ini otomatis membuat Rie punya passion dalam segala hal yang berhubungan dengan pembuatan sake apalagi dunia bisnis persakean. Sayangnya karena Rie perempuan, ia jadi punya banyak batasan. Rie bahkan tidak boleh masuk ke Kura (tempat membuat sake). Masuk ke Kura saja tidak boleh, apalagi mengurusi bisnis sake ya.

Karena adik laki-laki Rie meninggal waktu kecil, akhirnya Rie menjadi anak tunggal di keluarga Omura. Jadi untuk meneruskan bisnis sake, Rie dijodohkan dengan seorang anak saudagar. Harapannya, suami Rie itu bisa menjadi pewaris bisnis sake keluarga Omura.

Sayangnya -yang pertama-, Rie sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki itu. Rie malah menyukai temannya yang sebenarnya anak saudagar juga dan suami Rie selingkuh dengan salah seorang Geisha di kota mereka. 😦

Sayangnya -yang kedua-, suami Rie ternyata sangat tidak pandai berbisnis.

Rie pun menjadi frustrasi. Baik di love life-nya, juga di bisnis keluarga. Makin sedih lagi ketika suami Rie membawa pulang anak-anak hasil selingkuhnya dengan Geisha itu ke rumah mereka.

Agar bisa menyelamatkan keluarga, Rie harus rela mengurus anak-anak sekaligus berusaha menggantikan suaminya sebagai penerus bisnis sake keluarga Omura meski hanya “di balik layar”.

Yang keren, Rie selalu mencoba menanggung beban hidupnya dengan keberanian. Meski dalam usahanya, dia juga terus berusaha menemukan kebahagiaannya sendiri.

Bagaimana kisah lengkapnya? Silakan baca sendiri yaaa…

Terima kasih sudah  membaca resensi ini. *kiss

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s