harihariku · kerja

Brownies Imung

“Nanti saya buatkan brownies ya, Kak.” kata Imung pagi itu. Eh pagi apa siang ya? Lupa. Pokoknya saya langsung berbinar-binar mendengarnya.

“Brownies? Asyiiikkk. Sudah beberapa hari ini saya memang mau makan brownies.”komentar saya sumringah.

“Iya, kebetulan ada cokelat yang kayaknya sudah hampir expired di rumah.”

“Eh?”

***

Empat hari selang percakapan di atas, akhirnya adek saya si Imung benar-benar membawa brownies ke kantor. Saya yang hari itu shift siang sudah mewanti-wanti.

“Imung, tolong kakak disimpankan ya. Maksudnya umpetkan beberapa potong.”

Pesan saya ini bukan tanpa maksud. Sudah beberapa kali terjadi di kantor saat saya shift siang. Jadi pernah saya minta disimpankan sesuatu. Kadang donat, kadang kacang, pokoknya makanan-makanan yang biasa mampir di ruangan. Sayangnya Alhamdulillahnya ruangan saya itu sering kedatangan tamu dari unit lain yang sedang mencari suaka. Suaka margasatwa. Eh becanda ding. Suaka di sini maksudnya adalah tempat mengungsikan diri dari kondisi kantor yang sangat dinamis. Ruangan gueh gitu loh. Strategis nyaman dan manis. Nah akhirnya apa? Sampai di kantor saya tidak kebagian. Katanya sudah dihabiskan oleh para tamu. :’)

Oke, kembali ke brownies ya.

Jadi siangnya, pas saya sampai di kantor, alhamdulillah di meja saya sudah ada beberapa potong brownies yang dibungkus tisu. Browniesnya aman karena berkamuflase sempurna seperti onggokan tisu bekas yang tidak berguna. Hihihihi.

Penghuni terakhir ruangan yang shift pagi sudah pulang ketika saya mengeluarkan brownies dari Imung. Kentara pelitnya ya? LOL

Saya membuka bungkusan tisu perlahan. Lalu kemudian nampaklah tiga potong brownies yang berwarna cokelat. Brownies itu biasa saja. Polos tanpa garnish. Sederhana tanpa topping. Apa adanya tanpa filling.

Tapi begitu saya memasukkan potongan pertama. Nyess. Itu brownies adem, sodara-sodara! Teksturnya padat tapi tetap lembut. Rasa cokelatnya pekat, seperti paporit saya. Manisnya pas hingga tidak ada lagi kata diabetes dalam kamus saya.

Saya suka brownies ini. Saya suka brownies buatan Imung. *terharu *cari tisu

Tiga potong itu saya habiskan pelan-pelan. Sepotong demi sepotong dengan khusyuk dan penuh rasa syukur. Sambil berdoa moga-moga Gusti Allah menggerakkan hati Imung untuk bikin brownies ini lagi pekan depan.  😀

Bahkan, off the record, abang yang datang sejam kemudian pun tidak saya sisakan. Tadinya saya mau makan dua, abang satu. Tapi kelupaan. Keburu habis. Sowwy ya, Bang. *kiss *kiss

Jadi begitulah cerita saya tentang brownies Imung. Sebenarnya banyak brownies lain yang bisa saya beli dengan mudah di luar sana. Mulai dari yang rasanya hambar sampai yang bikin eneg. Dari yang murah sampai yang mahal. Juga aneka varian seperti orijinal, pakai topping keju atau siraman cokelat, sampai yang ada isi-isiannya. Sebenarnya enak tapi kurang berkesan. Kayak cewek yang makeupnya macam-macam dengan the power of berbelas-belas brush dan berlapis-lapis pondation, bedak, blush on dan kawan-kawan. Cantik sih tapi tidak ngangenin. Akhirnya biasa-biasa saja.

Beda dengan brownies Imung yang bersahaja. Biasa saja. Tapi begitu dicoba, rasanya berkesan. Perasaan jadi tenang dan perut senang. Bikin kita tidak rela bagi-bagi dan kepingin dibikinkan lagi.

Makasih ya Mung. Brownies ini selain nikmat juga memberikan beberapa pelajaran hidup. Bahwa yang apa adanya terkadang jauh lebih baik daripada berusaha “luar biasa” tapi sebenarnya palsu dan terlalu dipaksa-paksakan. 🙂

Jadi, kapan Imung mau bikin brownies lagi? 😀

brownies
Sumber
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s