harihariku · holiday

Liukang Loe – Emon’s First Island!

Ini cerita tentang Emon. Sudah bukan cerita baru kalo Emon ini selalu dilarang mamah untuk menyeberang ke pulau-pulau kecil. Boleh, katanya, asal naik pesawat.

Ya elah. Masa cuma ke Samalona terus mau naik pesawat? T_T

Tapi  begitulah. Peraturan tetap peraturan. Kata mamah, nanti boleh ke pulau kalau sudah menikah. Soalnya kan izinnya ke suami, bukan ke mamah lagi.

Sejak saat itu, selain jadi aktris, Emon bercita-cita untuk menikah. Menikah agar bisa ke pulau.

Tahun demi tahun berlalu. Setelah beberapa kali ditikung dan patah hati, Emon akhirnya bertemu dengan seorang lelaki. Sejak saat itu Emon tahu kenapa perjuangan cintanya yang kemarin-kemarin tidak membuahkan hasil. Itu semua karena hatinya dipersiapkan untuk lelaki yang satu ini. Lelaki charming yang lucu dan menggemaskan. *ditabok abang 😀

Singkat cerita. Mereka menikah.

Kalau Emon menikah artinya apaaaahhhh? *sodorin mic

Ke pulau. Yeay.

YEAAYY, KE PULAAAUUU!!!!! \0/

Akhirnya ya. Si Emon bisa ke pulau juga. Dan ini adalah cerita si Emon saat pertama kali ke pulau kecil naik kapal motor, bukan pesawat atau helikopter.

Minggu, di awal Desember yang cerah.

Emon sekeluarga sedang liburan ke Pantai Bira, Bulukumba. Tau Bira, kan? Ituloh, pantai pasir putih yang jadi salah satu wisata andalan di Sulawesi Selatan.

Nah di seberang Pantai Bira itu ada pulau namanya Liukang Loe. Rombongan pada mau ke situ karena ada penangkaran penyu. Emon doesn’t care mau ada penyu, kek, gurita kek, ikan duyung. Pokoknya pulau. Ayoookkk! 😀

Rombongan Emon ada 16 orang termasuk the krucils: Ayra, Ayman dan Aydin. Jadinya ada dua kapal motor yang disewa seharga 200 ribu per kapal. Geng ciwi-ciwi sudah duluan duduk manis di kapal pertama, plus si mamah papah. Tadinya sih Emon mau mengajak serta mamah papah bersama dirinya dan si abang. Tapi karena sudah terlanjur, ya sudahlah. Emon naik kapal kedua beserta 4 lelaki dewasa yang semua jago renang plus si kecil Ayman.

Waktu mau berangkat, kapal Emon sekali starter juga langsung bunyi dan siap membelah lautan (padahal nyebrang doang). Dengan lincah kapal bergerak meninggalkan Pantai Bira. But wait, kapal pertama tadi kok belum berangkat juga? Emon dkk berbalik. Kapal sebelah tidak mau jalan sodara-sodara. Sudah dicoba berkali-kali mesin tidak jua mau menyala.

Emon melihat ketegangan yang ada di sebelah. Soalnya isi kapal itu ciwi-ciwi solehah semua plus mamah papah, Ayra dan si balita kita Aydin. Tidak ada yang pintar berenang di sana! Omaigatt!

Butuh waktu sekitar 10 menit sampai akhirnya mesin kapal sebelah mau nyala dan mulai bergerak perlahan. Alhamdulillah. Karena sebelah sudah jalan, kapal Emon pun dinyalakan kembali dan segera melaju dengan cepat meninggalkan kapal sebelah yang jalannya lambat. Lambaaaattt. 😀

Ke Pulau Liukang Loe tidak butuh waktu lama. Sekitar 15 menit. Waktu itu angin agak keras walau ombak tidak terlalu kencang. Karena isi kapal anak muda semua dan Emon satu-satunya penumpang cantik jelita, bapak supir membawa kapal dengan penuh semangat. Para penumpang bersorak dan Emon merasakan kapalnya loncat-loncat di atas air saking cepatnya.

Seruuuu. Cheeehoooo!!!! \0/

Pulau Liukang Loe lalu semakin dekat. Bapak sopir nanya mau ke penangkaran penyu yang mana. Ternyata ada dua penangkaran. Emon dkk memilih penangkaran terdekat dari kapal saat itu. Kata pak supir pilihan sudah tepat karena Emon dkk bisa sekalian snorkeling di situ.

Emon menoleh. Kapal satunya mana? Kata pak supir masih jauh di belakang karena jalannya lambat. Loh, bagaimana mereka bisa tahu kalo kapal Emon memilih penangkaran yang ini, bukan yang itu? Kata abang sih gampang. Nanti tinggal dikasih tanda. Oh, oke.

Di penangkaran pertama

Emon dkk naik ke penangkaran. Tempatnya tidak terlalu luas. Cuma seperti rumah panggung di atas laut. Di tengah-tengah rumah tidak berdinding itulah penangkaran penyunya. Ada tanggah menuju ke bawah. Pengungung bisa turun, mengajak si penyu naik ke permukaan dan berfoto bersama. Selain itu di sekeliling rumah pengunjung bisa nyemplung ke laut dan bersnorkeling. Lumayan ada beberapa karang dan ikan-ikan yang bisa dilihat.

Anak-anak cowok yang lain sudah terjun ke laut dan berenang kayak lumba-lumba. Terus Ayman juga ikut nyemplung. Terus si abang juga. Dan tinggallah Emon seorang diri di tepian rumah.

Ayok turun, kata abang. Takut Bang. Ayok tidak apa-apa, kan ada pelampung.

Plung! *kayak suara Eek. Hihihihi

Plung ini maksudnya si Emon nyemplung ke laut. Harap tau ya, terakhir Emon nyemplung ke laut sedalam ini waktu SMA. Duabelas tahun yang lalu. Itupun loncat langsung berdiri di atas karang (oke, ini perbuatan tidak senonoh tapi begitulah kejadiannya). Jadi pas turun ini si Emon rada-rada panik dan segera mencari pegangan. Untung ada abang dan tali. Pelan-pelan si abang melepaskan tangan Emon. Kata abang jangan panik. Berusaha ke posisi lurus mengapung dan berpegangan di tali. Ehh, bisa! Emon bisa.

Di laut memang tidak boleh panik. Harus tenang dan konsentrasi agar tetap pada posisi yang tepat.

Ada sepuluh menitan si Emon mengapung manja di air sampai akhirnya abang menyuruh Emon naik ke atas rumah. Ini karena sekian lama Emon dkk tidak berhasil memberi tanda ke kapal sebelah dan itu berarti kapalnya mamah papah ke penangkaran penyu yang satunya lagi. Hadeuhh.

Di penangkaran kedua

Waktu ondewei ke penangkaran penyu ke dua, si bapak sopir sudah memperingatkan Emon kalo mereka harus bayar lagi. Soalnya pemiliknya berbeza. Iyuh. Tapi tidak apa-apa yang penting ketemu rombongan sebelah. Lagian mamah papah pati gelisah galau merana kalau tidak melihat Emon kesayangan mereka.

Nah, pas kapal Emon sudah sampai ke sebelah, di situlah insiden terjadi. Saat semua sudah pada turun, bahkan abang sudah sampai di atas rumah penangkaran, Emon baru sadar kalau: celananya sobek. Sobek di tempat yang tidak seharusnya lagih. XD

“Kak, ayok turun.” Itu suara salah satu sepupu emon. “Tunggu, tolong bilang ke suami akyuh ambilkan sarung bali. Celanaku sobek.” “Sobek? Oh oke, Kak. Tunggu sebentar ya.”

Memalukan. Mungkin sobeknya pas mau naik ke atas rumah selepas nyemplung tadi. Soalnya memang Emon memakai gaya yang tidak senonoh demi bisa kembali ke atas penangkaran.

Okeh. Tidak lama pertolongan Allah SWT melalui abang pun tiba. Dengan lilitan sarung pantai, Emon segera bergabung dengan yang lain di atas penangkaran.

Di penangkaran kedua ini, lokasinya lebih luas. Ada rumah makan, toko souvenir, dan kayaknya ada kamar juga yang bisa disewa. Penangkarannya lebih luas, tidak beratap. Airnya lebih rendah karena bukan di laut dalam. Selain penyu, di penangkaran kedua ini ada beberapa jenis ikan, lobster dan kepiting.

Buat Emon dan rekan-rekan sekapalnya, penangkaran pertama lebih bagus. Selain lebih adem, lautnya lebih dalam jadi bisa snorkeling. Cuma kalau membawa keluarga besar apalagi banyak anak-anak, lebih aman dan nyaman di penangkaran kedua.

20161204_100752
Megang kakak penyu harus hati-hati dan penuh kasih sayang

20161204_101002

 

Hari sudah semakin siang. Matahari sudah sangat panas. Saatnya kembali ke Pantai Bira dan siap-siap untuk balik ke Makassar.

Sebelum pulang, kapal Emon mempersilakan kapal sebelah untuk menyalakan mesin lebih dahulu. Soalnya keingat dengan kejadian pas mau berangkat tadi. Hihihi. Untungnya mesin kapal mamski dkk langsung menyala dan bergerak meninggalkan Pulau Liukang Loe.

Tidak lama, kapal Emon dkk menyusul. Dan seperti tadi, kapalnya lajuuuuu. Saking lajunya kerudung Emon nyaris terlepas. Serius! Hampir terbang. Untung ada abang yang memegang kepala Emon agar kerudungnya aman selama kurang lebih 15 menit hingga sampai di Pantai Bira.

“Makasih abang sayang.” kata Emon. Sini kiss dulu. :* :* :*

Dan inilah kisah pulau pertama Emon yang membahagiakan. Eh tapi sebenarnya bukan pulau pertama sih. Soalnya Emon dkk tidak sampai ke Liukang Loe. Cuma sampai di penangkaran penyu. 😀 😀 😀

Makasih sudah baca, readers kesayangan. Mudah-mudahan ada cerita pulau lagi. Which it means Emon ke pulau lagi. Yeay! \0/

Dadahhh! :*

Iklan

4 thoughts on “Liukang Loe – Emon’s First Island!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s