harihariku · Uncategorized

Puss, Jangan Eek di Jalan!

cat

Ada hal yang mengganggu Emon di sepanjang jalan tempat naik pete-pete: eek kucing! Emon harus lebih banyak menunduk untuk menghindari eek kucing di sepanjang jalan. Sangat mengganggu!

Biasanya kucing kalau eek pasti menutup sisa-sisa buang hajatnya itu dengan tanah atau pasir kan? Tapi kenapa tidak seperti itu? Kenapa kucing-kucing ini malah eek di atas paving-block? Mengapa mereka bertingkah seperti kucing yang tidak terdidik saja?

***

Lain Emon, lain papa Emon. Kalau Emon tadi memusingkan eek kucing, si papah tadi mengeluhkan tingkah salah seorang anak tetangga.

“Kenapa dia Pa?”tanya Emon.

“Dia main bola di depan rumah. Terus bolanya ditendang keras-keras ke tembok, ke pagar. Bunyinya kan keras sekali. Papa jadi sering kaget kalau dia nendang seperti itu.”

“Papa sudah tegur anak itu?”

“Itu dia. Papa sudah tegur. Papa bilang main bola boleh tapi jangan tendang ke tembok atau pagar. Selain bunyinya, di situ juga kan banyak pot bunga mama. Dia bilang iya. Eh pas papa balik mau masuk ke rumah, dia malah tendang bolanya keras-keras ke tembok. Kan menantang namanya?”

Yang bikin papa miris, anak itu adalah muadzin di masjid kami. Usianya masih muda. Kata papa dia masih SMP.

***

Dari cerita pertama, apa teman-teman akan menyalahkan si kucing? Dari cerita kedua, si anak yang main bola itu memang tampak tidak sopan ya?

Secara aksi mereka salah. Dua-duanya, baik si kucing maupun si anak yang main bola itu. Tapi kalau kita lihat segalanya lebih dekat? Lebih dalam?

Coba lihat. Di sepanjang jalan dari rumah Emon ke jalan raya, apa ada tanah? Pasir? Rasa-rasanya tidak ada. Jalanan sudah penuh paving-block. Selokan ditutup dengan semen. Jadi wajarlah kalau kucing-kucing jalanan itu eek di pinggir jalan dan eeknya tidak tertutup apa-apa. Karena mereka memang tidak punya tempat lagi untuk eek dengan layak.

Dan si anak main bola. Apakah anak-anak sekarang punya lahan untuk main bola sore-sore bersama tetangganya? Saya tidak tahu kalau di tempat lain. Tapi kalau di daerah rumah kami, sudah tidak ada lagi lapangan terbuka. Semua sudah jadi rumah dan jadi ruko. Lahan publik sudah tidak ada lagi. Ya masa tiap sore mereka satu kompleks berbondong-bondong ke Karebosi – misalnya – untuk lari-lari main bola? Eh, kalau mau pakai lapangan di Karebosi mesti bayar tidak sih?

Emon jadi kasihan kepada para kucing jalanan dan anak yang bermain bola itu. Di sisi lain mereka mengganggu tapi di sisi lain mereka juga hanyalah korban. Iya kan?

Kucing yang eek di jalan. Anak-anak bermain bola yang mengganggu tetangga. Jadi kucing-kucing itu mesti eek di mana? Jadi anak-anak itu bermain bola di mana? Atau mereka main game online saja? Biar tidak ribut? Terus kalau mereka kecanduan main game online bagaimana? Bagaimana kalau mereka main game kekerasan? Kalau mereka akhirnya akrab dengan kekerasan terus jadi begal? Bagaimana?

Bagaimana?
April 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s