Uncategorized

Menulis Berantai #TimMoveOn #LoveCycle : Lifted Up #5

Cerita sebelumnya:
Abduraafi Andrian (@raafi) di blog Raafirmation (Part 1)
Bimo Rafandha (@bimorafandha) di blog Embertumpah (Part 2)
Andhika Citra Handayani (@andhkctra) di blog chaznologic (Part 3)
Mandewi (@mandewi) di blog Mandewi (Part 4)

Lifted Up 5 - Why do I Keep Asking Why

Gilang dan Tiffany tiba lima menit yang lalu. Tak satu pun dari kami bersuara setelah pelayan mencatat pesanan mereka. Jus alpukat pesananku sudah berganti dengan secangkir kopi. Jangan sampai Tiffany melihat bahwa aku masih sering memikirkannya. Menikmati apa yang dia sukai dan sebagainya.

Why do I keep asking why?

Pertanyaan ‘mengapa’ memenuhi kepalaku sejak Tiffany memutuskan untuk pergi. Dalam emosi yang belum stabil, aku berusaha mencari-cari kesalahan diri sehingga Tiffany melakukan ini kepadaku. Tentu saja tak kutemukan jawabannya.

“Aku…”

“Aku…”

Aku dan Tiffany memecah keheningan bersamaan.

“Mengapa?” Satu kata itu terlontar begitu saja. Aku mendongak dan menatap wajah mereka satu per satu.

Lagi-lagi tak ada suara. Hanya ketukan dasar gelas yang diletakkan pelayan di atas meja kaca yang terdengar. Segelas jus alpukat dengan sedikit gula dan banyak susu kental manis cokelat. Gemuruh itu datang lagi.

“Mengapa?” Kuulangi pertanyaan itu dan kedua wajah di hadapanku menegang. “Mengapa kalian tega melakukan semua ini padaku?”

Mereka kini saling memandang. Lalu Gilang menghela napas berat dan mengembuskannya cepat. “Fi. Gue minta ma—”

“Aku nggak butuh kata maaf. Aku hanya butuh jawaban!” potongku segera.

Mereka kembali terdiam. Jari-jari Tiffany kulihat saling menelusuri, kebiasaannya bila sedang merasa tidak nyaman.

“A—aku minta maaf.” Kali ini Tiffany yang buka suara. Nadanya bergetar.

Aku mendengus. “Kalian adalah dua orang terpenting di dalam hidupku, dan rasanya aku rela memberikan semua hal di dunia ini untuk kalian. Tapi, kalian…”

“Fi, kamu tahu nggak bagaimana seseorang bisa menjadi berharga bagi orang lain?” tanya Tiffany tiba-tiba.

“A—apa?”

“Mereka memberikan satu hal yang nggak bisa kamu berikan. Waktu. Satu hal yang Gilang bisa berikan.”

Deg.

Itukah jawaban atas pertanyaanku?

“Kesibukan kamu sering membuat aku bertanya-tanya: apa aku masih berarti buat kamu. Aku seperti tak dianggap ada.” Tiffany menahan isakannya, sementara Gilang dengan tekun mengusap bahu istrinya itu. “Bahkan saat anniversary kita yang keempat, kamu malah minta Gilang buat datang. Jadi sebenarnya, aku yang harus bertanya, kenapa?”

“A—aku kerja buat kamu, Fan. Buat kita.”

“Tapi, aku nggak lihat itu.” Ada bulir air mata yang ia seka. “Ada saat ketika aku butuh kamu, dulu. Tapi kamu nggak ada, Fi. Dan di saat itulah Gilang datang.”

“Fi, gue selalu cari cara untuk bilang ke lo tentang ini, tapi jujur gue bingung. Tiffany juga. Lo sama pentingnya buat gue seperti gue buat lo. Dan nggak ada niat gue sama sekali buat bikin lo sakit hati.” Gilang mengambil alih pembicaraan. “Jadi, menurut gue dan Tiffany, biar aja ini jadi rahasia. Dan biar lo tahu sendiri pada akhirnya.”

Gilang tidak melanjutkan. Di sampingnya, bahu Fany berguncang keras. Lengan Gilang memeluk bahu Tiffany semakin erat.

Di kepalaku, hari-hari kemarin terputar kembali. Kebersamaan kami yang semakin lama tergerus oleh pekerjaan, membuatku menyadari bahwa tak semua rencana baik berakhir baik. Tiffany tak mengerti dan ia malah jatuh cinta pada laki-laki yang dapat memberikan waktunya saat itu. Sementara Gilang, ia hanya jatuh cinta pada seorang wanita yang menginginkannya.

“Aku…”

Aku tak melanjutkan. Kata-kataku hilang begitu saja. Sebagai akhirnya, aku beranjak dari hadapan mereka berdua.

Dengan satu jawaban atas pertanyaan mengapa.

***

Simak kelanjutan Lifted Up #6 oleh Host #TimMoveOn, Widya Octavia (@widya_oktavia) di penjual kenangan.

cats

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s