Abang · harihariku

Merica dan Perempuan yang Gelisah

1592-merica

Seperti biasa, akhir pekan di Laboratorium Kecerdasan Buatan Elektro Unhas (yang punya nama keren AIMP -> Artificial Intelligent and Multimedia Processing) selalu berjudul akademik di awal pertemuan, namun berakhir dengan kegiatan yang kadang lucu kadang absurd. Misalnya saja dua pekan lalu ada workshop yang diselip dengan ceramah motivasi hati atau pekan lalu dengan mengisi papan progres tesis yang diakhiri pesta durian.

Pekan ini pun demikian. Judulnya adalah Ary mau klinik jurnal (yang lain nebeng) dan entah kenapa kami lanjut membahas tentang merica. Hmm.. merica dan perempuan yang gelisah.

Jadi begini, katanya jika seorang laki-laki memegang sebutir merica di antara telunjuk dan ibu jari sambil memandangi seorang perempuan, perempuan tersebut akan menjadi gelisah dan tidak tenang. Tentu saja ada ‘baca-baca’ atau mantra yang diucapkan supaya aksi ini berhasil.

Penuturan korban, eh, saksi mata pun akhirnya keluar dari salah seorang kawan saya, sebut saja Gurita. Ia mengaku pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri seniornya berhasil membuat seorang perempuan merasa gelisah di tempat duduknya. Perempuan itu tampak tidak tenang dan tentram. Dan di tangan senior kawan saya itu ada sebutir merica. Bibir seniornya itu bergumam-gumam sambil tersenyum menang.

Saya bergidik mendengar cerita itu. Sebegitu mudahnyakah seseorang dikendalikan hanya dengan mantra tertentu?

Dan apakah sebegitu mudahnyakah seorang laki-laki ‘mengerjai’ seorang perempuan tanpa tujuan yang jelas selain ingin senang-senang dan tes-tes ilmu saja? Betapa menjengkelkannya laki-laki macam itu! Betapa tidak jantannya mereka!

Sampai di sini saya murka. Saya malah sempat berpikir membalas laki-laki seperti itu dengan perlakuan yang sama atau lebih kejam. Mungkin anggota geng motor juga akan saya ikutkan. Soalnya mereka sama-sama menjengkelkannya sekarang.

Melihat kekesalan saya, si Gurita kemudian mengatakan bahwa tidak sembarang perempuan yang jadi korban keusilan itu. Mereka -para lelaki usil- juga pilih-pilih korban. Kalau perempuan baik-baik juga mana tega mereka jahili seperti itu.

Saya manggut-manggut sambil berpikir serius apakah saya ini masuk kategori baik-baik atau bukan. Semoga saja iya. Hehehe.

Percakapan kemudian diteruskan lebih jauh dengan tema yang sama. Sungguh dunia hitam nan magis itu mengerikan. Intinya kita memang harus banyak-banyak meminta perlindungan kepada Allah Swt serta pandai-pandai bersikap dan membawa diri.

Sebagai penutup, saya ingin sekalian menyampaikan sesuatu kepada seseorang yang tidak boleh ditebak oleh Anda sekalian duli readers tersayang.

“Kau bahkan tak perlu merica untuk membuatku gelisah.
Cukup senyummu saja.
Ya, cukup senyummu saja.”

Terima kasih sudah membaca ya!
Ciao!😉😉😉

8 thoughts on “Merica dan Perempuan yang Gelisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s