Uncategorized

Jadi Penulis Harus Galau?

The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar

“Jadi penulis itu harus galau.” — (Ginatri S. Noer)

Quote ini saya baca di postingan blog punya Mbak Nik. Saya jadi mikir perkataan ini ada benarnya. Saya ingat kemarin-kemarin waktu sedang dalam keadaan galau berkepanjangan, saya hampir selalu punya ide menulis walau itu hanya satu-dua baris kalimat. Isinya tentu saja galau. Tapi galau membuat saya jadi produktif. Hahaha.

Beberapa hari yang lalu saya membuka blog saya. Barulah saya sadar. Kalau diibaratkan rumah, blog saya pasti sudah berdebu sekali. Postingan terakhir saya itu bulan Maret, sedang saat ini bulan Mei sudah masuk pertengahan. Apa saja yang saya lakukan selama itu sampai tidak pernah menulis?

Oke, mungkin kesibukan saya mengerjakan tugas, rajin kuliah, dan bekerja adalah salah satu alasannya. Ditambah lagi saya semakin sulit begadang. Hahaha. Mungkin pengaruh usia juga. :p

Lalu selesai memaki-maki diri sendiri karena absen menulis, saya penasaran melihat timeline tema tulisan saya. Hey, tulisan saya bulan-bulan terakhir itu ‘tulisan biasa saja’. Maksud saya, biasanya kan saya menulis dengan syahdu dan penuh haru. Ke mana kata-kata lebay tapi keren yang biasa saya tulis itu? Ke mana mereka? Ke mana?

Mungkin karena saya sudah tidak segalau dulu. *pencitraan*

Tapi serius, kawan-kawan. Mungkin karena saya tidak segalau dahulu. Dan saya jadi semakin memikirkan line pertama tulisan ini. Sepertinya untuk menulis itu, penulis memang butuh galau.

Tapi apa iya? Jadi tidak ada penulis yang bahagia kalau begitu? Atau mereka bahagia, bahagia merayakan luka. Uhh!

Saya lalu teringat film Monster Ink. Walaupun film itu punya simbol iluminati yang kuat, setidaknya kita bisa belajar satu hal. Pada awalnya mungkin para monster meyakini bahwa teriakan takut manusia adalah sumber energi yang nyata. Tapi di akhir cerita mereka tahu bahwa ternyata ada sumber energi lain dengan daya jauh lebih besar yang bisa mereka dapatkan: tawa manusia.

Jadi, mungkin kita bisa belajar dari monster-monster itu bahwa kebahagiaan pun adalah amunisi para penulis agar tetap dapat berkarya. Tidak melulu dengan kegalauan dan kesedihan yang mendalam.

Paling tidak jangan menunggu galau hanya untuk berkarya. Kalau dalam sekali galau bisa jadi berjudul-judul puisi, kenapa tidak berusaha membuat puluhan puisi saat berbahagia? Iya, kan?

At least, semua kata-kata di atas itu note to my self lah ya. Soalnya kesian sekali blog saya ini malah jadi berdebu. Pake mengkambing-hitamkan kegalauan lagi. Hihihihi

Tapi besok-besok kalau tulisan saya sendu dan biru, jangan marah ya? Anggap saja khilaf. Hahahaha. Ciao!

Makassar, 15 Mei 2014

5 thoughts on “Jadi Penulis Harus Galau?

    1. Dehh kanda Ela…
      bikinki tulisan motivasi
      yang di halaman pertama nanti tertulis
      “untuk manisku mirna yang pernah galau”
      hahaha

      kalo mo dijadikan buku bagusnya kalo 1 tema isinya..
      heuheueheu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s