Flica Cake and Chocolate · harihariku · masakmasak

Tumpeng Komplit Flica; Tumpeng Kehidupan

Tanggal 3 November lalu Flica Cake and Chocolate mendapatkan pesanan nasi tumpeng porsi besar. Kok bisa ya Flica yang judulnya ‘Cake and Chocolate’ menerima pesanan tumpeng? Ya  bisalah. Selama itu makanan, ya diterima saja. Lagian karena sebelumnya belum pernah punya pengalaman, chef Flica jadi tertantang dan penasaran membuat tumpeng. =))

Tadinya saya merasa tidak perlu membuat postingan khusus. Yah, inikan cuma tumpeng biasa. Maksud saya ini murni pesanan dari calon pelanggan setia. Tapi semua berubah ketika saya menyadari bahwa di balik bentuknya yang kuning kerucut dan aneka lauk-pauk yang lengkap ini, nasi tumpeng sepertinya punya filosofi yang luhur.

***

Saya suka ketawa-ketawa sendiri mengingat proses pembuatan nasi tumpeng ini. Dimulai dari saat belanja di pasar. Waktu itu saya, Kak Dini, Mala, dan Cha yang bertugas belanja. Seharusnya kami mulai belanja sekitar pukul 4 sore. Tapi karena kelamaan makan siang, membeli persiapan kejutan ulangtahun dan menjemput si Cha. Jadi akhirnya kami mulai belanja pukul 5.30 sore!

Itupun lokasi belanjanya berubah. Tadinya kami rencana belanja di Pasar Pa’baeng-Baeng. Namun ketika lewat di Jalan Andi Tonro dan sampai di pasar pinggir kanal, kami memutuskan belanja di situ dengan alasan sudah kesorean. Tapi bahan di pinggir pasar kurang lengkap. T_T Kami akhirnya masuk jauh ke pasar lebih dalam dan menyusuri kanal. Karena sudah sangat sore, suasana di situ agak menyeramkan. Gelap dan suram. Beberapa lelaki bertampang preman menghiasi sisi jalan. Walau saya cukup takut, saya terus saja berjalan mengikuti si Mala. Daaann semakin ke jauh saya semakin menyadari bahwa pasarnya jauh pemirsa! Kami jalan mulai dari ujung kanal Andi Tonro hingga ke ujung kanal satunya lagi yang ternyata itu adalah Pasar Pa’baeng-Baeng. Doh! Tahu begitu mending dari tadi kita parkir di Pa’baeng-Baeng saja. (_ _”)

Langit sudah gelap dan kami masih berbelanja. Saya dan Cha kebagian tugas jadi kuli gendong alias mengangkut semua belanjaan. Untuk menghibur diri, di sepanjang jalan ada saja yang kami tertawakan. Entah itu jalanan yang becek, sepatu yang kena lumpur, penjual wortel yang galak, sampai khayalan saya dan cha yang duduk minum-minum kopi sambil main domino seperti bapak-bapak di sudut pasar itu. Ya, ceritanya saya dan Cha menunggu Mala dan Kak Dini berbelanja sambil minum kopi, makan gorengan, main domino, dan hehehe merokok! #dikeplak

Alhamdulillah tidak berapa lama akhirnya Mala mengumumkan ia telah selesai belanja. Tapi tunggu sebentar. Mobil di parkir di Andi Tonro sementara kami ada di Pa’baeng-Baeng. Artinya kami harus menyusuri kanal lagi yang berbecek, ada premannya, dan gelap pula. Oh no!

“Kita lewat kanal seberangnya saja, yang berbatasan dengan rumah penduduk.”

Saya melirik jalan yang Mala maksud. Sama gelapnya, sama tidak pastinya, tapi sepertinya tidak lebih menyeramkan ketimbang jalan awal yang kami tempuh. Okesip. Markijal. Mari kita jalan.

Sekali lagi kami menyusuri kanal. Berat benar ini belanjaan. Terpaksa kami bercanda lagi agar beban hidup ini tidak terlalu terasa. Ini pelajaran hidup yang pertama: Jika perjalananmu mulai terasa berat, bercanda dan tertawalah. Itu bisa mengurangi sedikit penderitaan. Hehehe.

Kami terus berjalan dan terkikik perlahan. Kenapa perlahan? Karena ini sudah maghrib, woi! =))

Tapi pemirsa, candaan kami itu tiba-tiba berhenti ketika tahu bahwa kami harus ke sisi sebelah, menyebrangi kanal itu dengan jembatan ala kadarnya yang kelihatannya sangat rapuh. Seperti rapuhnya hati saya dan Cha. Hihihihi. Kenapa harus nyebrang? Kami baru ingat, tadi kami memesan kelapa parut di penjual seberang. Huhuhuhu.

Jadi dengan mengucapkan basmalah, kami mulai beriringan menyebrangi jembatan itu. Mala jalan terlebih dahulu, kemudian Cha, saya, lalu terakhir Kak Dini. Awalnya jembatan itu bergoyang biasa saja. Namun semakin ke tengah goyangannya semakin keras. Saya jadi ingat jembatan Sidratul Muntaha. T_T

Kan saya sudah bilang jembatannya rapuh! Tapi Alhamdulillah kami selamat sampai di seberang walau sempat deg-degan bukan kepalang. Demi kelapa parut ini!

Sampai di tempat kelapa parut, ibunya tidak ada. Jualannya ditinggal begitu saja. Kami berseru memanggil si ibu tapi yang ditunggu tak kunjung tiba. Akhirnya dengan berat hati kami pergi dan berlalu. Mencari penjual kelapa parut di tempat lain. Sambil melangkah pergi, saya sempat berbalik dan menatap jembatan rapuh itu tadi. Tahu begitu kan kami tidak usah menyebrang. ^_^;

Ini pelajaran hidup yang kedua: Kita bisa saja merencanakan sesuatu sematang mungkin, tapi bagaimanapun, Allah Swt lah yang menentukan segalanya.

Kami lanjut jalan lagi dan singgah di Lotte Mart membeli hati sapi, sholat Maghrib dan dilanjut dengan sholat Isya. Hehehe

Hati sapi selesai dan tujuan kami selanjutnya adalah rumah Fitri di Antang. Sayangnya Kak Dini tidak bisa mengantar kami sampai ke sana karena harus menghadiri malam Mappacci tetangganya. Jadinya kami akan diturunkan nanti di pinggir jalan dan naik taksi ke rumah Fitri. Karena tidak tega melihat adek-adeknya ini, Kak Dini memberikan kami ongkos taksi. Duh, baiknya. Tapi ndak sekalian duit buat makan, Kak? Hihihihi #dikeplak

Tahukah teman-teman di mana kami diturunkan di pinggir jalan? Tepat di depan Taman Makam Pahlawan. Dan kami lupa kalau malam itu adalah malam minggu. Yah, taksi  kosong susah didapatkan. Jadilah kami, tiga orang gadis cakep-cakep berdiri di depan Taman Makam Pahlawan sambil menenteng plastik berisi ayam, hati, dan bumbu-bumbu dapur, plus tapisan beras dan bed cover yang besar. Lah, kenapa ada bed cover? Itu kado buat teman saya yang besok akan menikah. Eh, jadi ketahuan ya kadonya apa. Hihihi.

Huft. Saya capek menceritakan kelanjutan perjalanan ini. Masih panjang sih. Tapi sudahlah. Langsung saja saya kabarkan bahwa sekitar pukul Sembilan akhirnya kami sampai ke rumah Fitri. Ugh, pegel. Kasur mana kasur?

Sungguh, kami capek sekali. Tapi bukankah pesanan adalah amanah? Lagian ini bahan makanan mau diapakan kalau kami mangkir dari kenyataan? Hehehe.

Maka dimulailah pertempuran kedua kami. Kostum sudah diganti dan kamipun memulai aktivitas memasak kami. Ada yang membersihkan ayam, memotong bawang, memotong hati, menghaluskan bumbu, dan menggodok. Yah, kalau teman-teman bisa menyaksikan bagaimana kami melakukan semua itu, pasti teman-teman akan mencap kami sebagai gadis-gadis #nikahable  banget. Hahahaha.

Sambil memasak kami mengobrol, sesekali menyanyi dan mengupas. Eh, bukannya kata mengupas sudah disebutkan sebelumnya. Iya sih. Tapi itu kupas bawang. Di paragraf ini bukan bawang yang dikupas tapi hati. Iya, HATI. *suasana mulai meredup, instrument korea mengalun*

Sudah, ah. Ini bukan bagian yang akan saya ceritakan. Ini off the record. Hahaha.

Oke lanjut. Jadi kami terus saja masak dan bercerita hingga pukul tiga subuh. Cha yang ada tes CPNS akhirnya dengan tidak rela naik ke tempat tidur. Fitri naik ke lantai dua bersama suaminya. Jadi tinggal saya dan Mala. Kami sempat ngobrol sedikit hingga pukul empat. Saya memilih tidur karena paginya harus masuk kerja.

The Day

Saya terbangun pukul setengah enam dan langsung lari sholat subuh. Sebenarnya alarm sudah bunyi dari tadi. Tapi kami tidak bangun-bangun. Hehehe.

Cha bergegas siap-siap tes. Saya, Mala dan Fitri kembali ke dapur. Di dapur kami tidak langsung memasak. Mala mengeluarkan empat potong cake dari dalam kulkas dan Fitri mencari lilin. Rencananya akan ada kejutan kecil buat Cha yang berulang tahun dua hari yang lalu. Terlambat memang. Tapi momennya baru ketemu sih. Hahaha.

Tidak lama kemudian Cha berangkat tes dan kami kembali ke dapur.

Saya suka bagian ini. Finishing touch!

Pagi itu saya kebagian tugas mencetak nasi tumpeng. Karena tidak punya cetakan besi, kami membuat cetakan sendiri dari karton yang dilapisi daun pisang. Saya sempat bingung cara membuat kerucut dari karton. Saya tanya Mala dan Fitri tapi jawaban mereka tidak memuaskan. Sepertinya ragu-ragu. Dan kami pun merasa gagal menjadi sarjana. Itu pelajaran SD! SD!

Tapi sudahlah. Apa gunanya meratapi kegagalan? Saya segera mengambil henpon dan mengetik di google: cara membuat kerucut dari karton. Serius! Saya mengetik itu. Dan hasilnya adalah cetakan tumpeng yang lucu dan kerucut. =))

Proses membentuk tumpeng ternyata tidak segampang yang kelihatan, pemirsa! Apalagi kartonnya ternyata rapuh. Lebih rapuh dari hati saya. Saya harus dibantu Mala untuk menuang-nuangkan nasi ke dalam cetakan. Setelah penuh dan dipadat-padatkan, cetakan itu kemudian dibalik daaann voila! Jadilah nasi tumpeng yang kerucut daann –ehm- miring. Miring seperti Menara Pisa. Hehehe. Kami sudah berusaha memperbaiki. Tapi daripada runtuh, jadi kami membiarkannya begitu saja. Tumpeng yang tegak kan sudah mainstream ya? =))

Kemudian finishing touch-nya dilanjut. Saya harus bergegas karena harus masuk kerja. Garnish adalah tanggung jawab saya kemudian. Saya paling suka bagian ini. Saya harus mengiris wortel yang sudah berbentuk bunga, kemudian menancapkannya di dinding tumpeng. Wahh, lucu sekali! Warna oranye wortel dan warna kuning nasi menyatu dengan baik sekali.

Selesai dengan bunga wortel, saya dihadapkan dengan sekantung tomat. Tadinya tomat ini akan dibentuk jadi bunga mawar. Yang bertugas sebenarnya Cha. Tapi si Cha sudah pergi ke tempat tesnya. Jadi sayalah yang kemudian mengambil alih. Nah, permasalahan yang kedua adalah: saya tidak tahu membuat mawar dari tomat, begitupun Mala dan Fitri. Karena itu sekali lagi saya bertanya kepada Google: video membuat mawar dari tomat. Dan tadaaa… jadilah mawar dari tomat yang lucu dan keriting. Hihihihi

Dan akhirnya, Alhamdulillah wa syukurillah, tumpeng perdana kami jadi juga. Walau miring, tumpengnya tetap cantik. Rasa lauk pauknya insya Allah tidak diragukan lagi. Kami sudah mencobanya sedikit. Saya bahkan sempat menculik nasi, ayam dan sambel goreng hati untuk bekal di kantor. Hehehe.

Tumpeng Flica Cake and Chocolate Foto by Mala
Tumpeng Flica Cake and Chocolate
Foto by Mala

Tumpeng Flica; Tumpeng Kehidupan

Dan inilah sebenarnya bagian inti dari postingan saya kali ini.

Tumpeng kecil pertama kami yang tersayang ini ternyata penuh makna. *mulai terharu*

Melihat tumpeng itu seperti melihat kehidupan. Mulai dari bawah. Kita lihat begitu banyak lauk pauk yang beraneka ragam. Artinya dalam hidup ini kita akan selalu berusaha memenuhi kebutuhan kita, keinginan kita. Harta, keluarga, jabatan. Dalam berbagai bentuk, kekayaan materiil itu akan mengelilingi kita. Namun semakin ke sini kita semakin menyadari. Seperti tumpeng yang semakin ke atas semakin mengerucut, kita tahu bahwa walaupun di hidup ini kita mengumpulkan banyak hal, kita tahu bahwa suatu saat kita hanya akan punya satu tujuan. Yaitu Allah Swt. Pada akhirnya kita akan kembali padaNya. Kita akan pulang kepadaNya.

Oh iya. Saya sempat ditanya oleh seorang junior yang melihat foto tumpeng ini. Katanya kenapa sampai tumpeng Flica itu bentuknya padat dan kokoh? Kata dia, kalau membuat tumpeng, bentuk kerucutnya tidak semulus dan sekokoh itu.

 “Kalau kamu mau tahu, tumpeng yang mulus dan kokoh itu sebenarnya miring. Miring seperti Menara Pisa.”jawab saya sambil terbahak.

Tapi pemirsa, di balik tawa itu saya sebenarnya berpikir. Ini bisa dikaitkan dengan proses kita dalam berusaha tegar menghadapi hidup. Sekuat apapun kita bertahan, akan ada satu momen di mana kita akan merasa goyah dan tidak sanggup lagi. Namun tidak apa-apa. Semua itu sensasi dalam hidup. Tak peduli sesering apa kita galau, yang jelas kita selalu berusaha untuk kembali move on. Tak peduli seberapa sering kita jatuh, yang penting kita selalu ingat untuk bangkit.

Nah, bagaimana? Tumpeng ini penuh filosofi kan?

Makanya, pesan tumpeng seperti di atas ke Flica Cake and Chocolate! Dijamin nambah lagi! ^_^v

Terima kasih sudah membaca, ya! ^_^

12 11 2013

6 thoughts on “Tumpeng Komplit Flica; Tumpeng Kehidupan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s