cerita pendek

Lelaki Nina

Siang tadi seorang adik, sebut saja namanya Nina, datang ke rumah. Ia datang dengan senyum ceria tapi aku tahu ada yang ingin dia ceritakan.

“Ada apa denganmu?”

“Aku jahat, Kak.”katanya.

“Kenapa?”

Lalu mengalirlah cerita itu. Tentang seorang lelaki yang setia bersamanya dua tahun terakhir. Menurut Nina, lelaki selalu ada untuk dia. Lelaki itu selalu rela membantunya melakukan hal-hal yang tidak biasa. Lelaki itu memberikannya perhatian penuh, selalu dan selalu.

Ya, lelaki itu berhasil melakukan apa yang semua perempuan -termasuk Nina- butuhkan kecuali satu: merebut hati Nina.

Sudah selama lelaki itu setia, selama itu pula hati Nina setia. Tapi bukan pada lelaki itu. Hati Nina selalu dimiliki seorang lelaki lain dari masa lalu. Masa lalu Nina.

“Kurang apa dia?”tanyaku pada Nina.

“Entahlah, Kak. Saat ini aku benar-benar tidak bisa menganggapnya lebih.”jawabnya lalu terdiam. Aku juga ikut-ikutan diam dan berpikir. Aku seperti mengingat jenis perasaan-perasaan ini.

“Kakak mau baca pesan-pesan singkatku padanya?”tanyanya kemudian. Aku mengangguk. Sejurus kemudian Nina menyerahkan ponselnya. Aku lalu membaca pesan demi pesan. Sesekali tertawa, sesekali menahan napas. Aku sepertinya pernah tahu perasaan semacam ini. Di mana? Kapan?

Aku menyerahkan ponsel itu kembali dan menatap Nina.

“Tidak menerimanya lebih baik daripada menerimanya hanya karena kasihan.”kataku kemudian.

“Itu dia yang aku maksud,Kak. Bagaimana mungkin aku bersamanya sementara hatiku masih mengingat nama yang berbeda?”

***

Kita memang benar-benar tidak bisa memaksa perasaan seseorang, bukan?

Aku akhirnya benar-benar ingat pernah paham dengan perasaan ini, perasaan lelaki Nina itu. Ini terjadi padaku dulu, bertahun-tahun yang lalu ketika pohon-pohon mahoni di belakang rumahku bahkan belum ditanam.

Kini mahoni-mahoni itu mulai rindang. Suamiku bahkan berencana menggantung sebuah ayunan kayu untuk Kinanti, anak kedua kami.

Aku tersenyum pada Nina. Ia balas menatapku tanpa ekspresi apa-apa.

“Kau tahu Nina? Dulu aku pernah dinasehati oleh temanku seperti ini: kau mau disayangi atau sekedar dikasihani?”kataku sambil tertawa pelan.

“Aku memilih yang pertama walau tidak mudah. Kuharap lelakimu itu bisa menemukan pemahaman ini juga.”lanjutku sambil menoleh ke langit. Matahari sudah rendah siap terbenam.

“Sudah waktunya pulang, Nina sayang. Lebih baik kalau kau tiba di rumah sebelum gelap.”

 ***

Makassar, 13 11 2013

happy_but_sad_by_s_s_j-d3382e9

2 thoughts on “Lelaki Nina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s