cerita pendek · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Sepotong Percakapan Hati, Pagi-pagi

“Kak…”kataku dengan mata berkaca. Rasa-rasanya aku tak sanggup mengatakan apa-apa lagi.

“Kau mencintainya, bukan? Setialah dengan keyakinanmu itu.”ia berkata pelan. Hembusan napasnya terdengar jelas dan berat.

“Walau mungkin saja cintanya bukan untukku?”tanyaku lagi.

Kakak itu tertawa pelan. Aku mengernyit, menatapnya tak percaya. Bagaimana mungkin persoalan sepelik ini ditanggapi dengan tawa?

“Se-tia-lah-de-ngan-ke-ya-ki-nan-mu.”katanya pelan tapi penuh penegasan.

Aku menghela napas. Persoalan ini tidak akan selesai jika hanya dengan setia dan yakin saja. Setia pada apa? Yakin pada kepastian yang mana?

Kakak kali ini tersenyum. Aku masih merasa gusar. Hey, jangan hibur aku dengan senyum seperti itu!

“Apapun jadinya, kau telah memiliki dua hal: setia dan keyakinan yang tak terbandingkan.”

Aku menatapnya nelangsa. Di antara semua orang yang menyuruhku pergi, cuma kakak yang selalu meyakinkan aku untuk tetap di sini. Tetap setia. Seperti setianya dia pada seorang perempuan yang mencuri hatinya tempo hari.

Perempuan itu kini pergi tanpa pernah memberi tahu kapan ia kembali. Setelah itu, kakak lalu menjelma sebagai pecinta sejati yang tak pernah berhenti menanti sembari mencari cara agar perjuangan ini dapat ia menangkan, meski kadang ia merasa berjuang seorang diri. Setiap celah akan ia lewati, sekecil apapun itu. Katanya, bersama perempuan itu atau musnah seorang diri.

“Selamanya, Kirana. Selamanya.”

“Meskipun suatu saat datang kepadaku laki-laki lain dengan janji kehidupan yang lebih baik?”tanyaku lagi.

Kali ini kakak benar-benar tertawa. Aku menatapnya kesal.

“Nampaknya kau bersikeras atas pertanyaanmu itu?”tanyanya. Aku tidak menjawab.

“Seharusnya kau tahu bahwa itu tidak akan mengurangi ‘setia’ dan ‘keyakinan’ yang pernah kau bangun.”ia berkata lagi. Kali ini wajah seriusnya ditekuk dalam-dalam.

“Mungkin benar kau akan mendapatkan lelaki dengan ‘janji akan masa depan yang lebih baik’. Namun cinta yang sejati bukankah tak pernah mengarahkan panahnya ke banyak hati? Ia yang kau hidupkan dalam ‘setia’ dan ‘keyakinanmu’ itu selamanya akan begitu, abadi, meski tak kau miliki.”

Aku menghela napas. Kegamanganku tadi berubah menjadi kristal-kristal bening di mata yang siap menganak sungai.

“Kirana, setialah. Toh kau sepatutnya belum mencemaskan apa akhir dari ini semua, bukan?”

Aku mengangguk. Baiklah, akan kucoba. Setidaknya segalanya kini terasa jauh lebih melegakan.

“Tapi jika suatu hari datang kepadaku lelaki dengan janji kehidupan yang lebih baik, aku sudah tahu akan memutuskan apa.”kataku kemudian sambil membuat sebuah senyum simpul. Setengah karena memang ingin tersenyum, sisanya untuk menguapkan air mata.

Makassar, 5 Oktober 2013

waiting cat

6 thoughts on “Sepotong Percakapan Hati, Pagi-pagi

  1. “Tapi jika suatu hari datang kepadaku lelaki dengan janji kehidupan yang lebih baik, aku sudah tahu akan memutuskan apa.”kataku kemudian sambil membuat sebuah senyum simpul. Setengah karena memang ingin tersenyum, sisanya untuk menguapkan air mata.

    Bagus Kirana … jangan agi dengarkan pendapat kakakmu itu, kau akan terkorosif oleh waktu *tsaaah*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s