harihariku · kampus · Teknik Area · the rain

Kumpul The Rain!

Saya excited sekali dengan agenda yang satu ini. Selain karena saya ditunjuk sebagai koordinator acara, juga karena acara ini adalah semacam temu kangen atau reuni kawan-kawan se-tim saya saat pengerjaan TA (Tugas Akhir) kemarin. Nama tim kami : The Rain.

Kenapa ‘the rain’? Karena tema TA kami sama-sama hujan. Ada Sembilan pasang tim yang punya tema hujan, atau sepuluh? Selain karena TA kami yang ‘hujan’, kami juga memang suka ‘hujan’. Mulai dari hujan-hujanan, hujan uang, hingga hujan air mata. #ihik

Jadi begitulah, terakhir kami berkumpul sudah lama sekali. Waktu itu kami malah belum sarjana dan masih galau kunci-kunci dunia. Galau apa? Tentu saja galau TA! Hihihi

257525_1722225976203_1146502_o (1)

257525_1722226016204_1865541_o

258550_1887102310365_757833_o
Nah, kebetulan bulan ini, bapak dosen sekaligus pembimbing I (satu) kami, pak Bayu tengah berbahagia. Yang pertama adalah karena beliau resmi menyandang gelar ‘Doktor’ di depan namanya. Jadinya sekarang Dr. Indrabayu Amirullah, M.T.,M.Bus.Sys. di usia yang masih belia! Disertasi kemarin juga dapat summa cumlaude!! Keren kan? Kalau dilihat dari semua titelnya, pak Bayu ini sepertinya selain hobi menyanyi, juga hobi sekolah.😀 #dikeplak

Itu baru kebahagiaan yang pertama. Yang kedua adalah, tanggal 16 Juli kemarin beliau berulang tahun. Lalu masih ada lagi. Kebahagiaan ketiga adalah karena ini bulan Ramadhan!😀

Karena akumulasi kebahagiaan inilah makanya pak Bayu mengundang kami untuk berkumpul dan berbuka puasa bersama. Asyiikkk! #cintagratisan

Mungkin aura #cintagratisan saya begitu kuat, yah, sehingga saya ditunjuk sebagai koordinator di acara reuni ini. Nah, teman-teman saya mana semua? Sayang sekali tidak semuanya ada di  Makassar. Partner saya si Nunung sudah ada di Palu, kak Hari juga. Sutan di Jakarta. Guntar di Palopo. Kemudian adik-adik kami sebangsa Rudolf tidak ada kabar. Ilma, Chellin, Triska, Dita tak ada kabar berita. Perwakilan 2009, Moldy dan Ocha berhalangan hadir. Ocha tadinya bisa tapi terjebak hujan dan tak ada yang mengantar.  *pukpuk Ocha

Jadilah kami ‘seperti disengaja’, hanya ‘the Rain’ angkatan 2007 yang datang. Ada saya, Erna, Uchi, Feby, Fikha, Ika dan Patra

1374561614629

IMG_0337

Zafferano Pizza menjadi saksi kehebohan kami berkumpul, walau sempat terlambat. Ada kebahagiaan tersendiri melihat teman-teman saya yang tadinya masih gadis tapi kini masih gadis-gadis juga. Alhamdulillah yang datang sudah pada kerja semua dan sudah jago dandan semua. Hihihihi.

Ada hal lucu yang membuat hati saya tersentuh. Kami memesan pasta untuk seporsi bertiga. Menyadari ini pak Bayu langsung berkomentar, “Kenapa tidak pesan masing-masing saja? Kalian ini seperti waktu mahasiswa saja!”. Sedetik saya tersentak lalu terkikik. Iya juga, yah?

“Tidak, Pak. Kita ini pesan bermacam-macam,kok. Nanti kan bisa saling mencoba.” Padahal karena tidak enak kalau mesan macam-macam. Betapa pengertiannya kami-kami ini bukan? Benar-benar kumpulan gadis #nikahable ! <- boleh kalimat ini dibold dan diunderline?😄

Sambil meneruskan makan, kami lalu ngobrol-ngobrol tentang karir dan keseharian kami yang sekarang. Tentang pekerjaan, gaji, cita-cita. Kami terus saja ngobrol sampai pak Bayu tiba-tiba bilang seperti ini, “Kebahagiaan buat saya sebagai dosen melihat mahasiswa-mahasiwa saya sudah jadi semua.”

Kami saling memandang dan tiba-tiba berseru hampir bersamaan dengan berbagai versi kalimat. Inti seruan kami itu adalah “Kami baru ‘setengah’ jadi, Pak.” Do you get the point, dear readers? Kami belum merasa ‘utuh’ walau mungkin sudah bekerja karena we’re still unmerried yet! Hahahah. Loh, menikah kan menyempurnakan sebagian iman, kan? Dalam versi lain juga menyempurnakan kehidupan. Begitu! Hihihihi

***

Sempat dijeda dengan sholat maghrib yang menjelang Isya, keributan kami masih terjaga keistiqomahannya. Malah terancam lebih seru karena kami sudah merencanakan topik selanjutnya. Topik yang ditunggu-tunggu : tentang hati. Hahahaha.

Belum juga mulai tiba-tiba seorang kawan kami -yang minta dirahasiakan namanya- kedatangan kekasihnya, eh, calon suaminya! Wuihh. Memangnya boleh bawa pasangan, begitu, heh? #siriktothemax

Segera komposisi duduk pun berganti. Kami yang masih single dan juga yang single but taken (sudah ada boyfriend) duduk di satu baris. Pak Bayu dan kawan saya + calonnya itu duduk di sisi yang sama. Maksudnya siapa tahu ada cowok kece yang tiba-tiba datang trus nanya, “Yang siap dilamar yang mana?” kan gampang nunjuknya. #ihik

Obrolan akhirnya berganti juga. Kami yang tadinya membawa citra ‘wanita muda yang sukses karir dan bahagia’ berubah 180 derajat kembali ke gadis belia yang sedang mencari cinta sejati. (_  _”)

Sambil tertawa kecentilan, kami memamerkan foto gebetan alias odo’-odo’ kami kepada pak Bayu. Oh iya, dua di antara kami memamerkan foto kekasihnya. Iyuuuhh… Sirik lagi deh. Hihihi.

Nah, kalau ada yang tanya itu buat apa? Umm, buat apa yah? Tidak ada, kok. Hanya ingin memperlihatkan dan juga sekalian minta doa restu. Kan pak Bayu itu kami anggap bapak plus kakak sendiri. Wajar-wajar saja, kan? Tapi sayangnya perkumpulan penuh tawa itu tiba-tiba berubah. Tawa berganti jerit yang tertahan. Kebanyakan si bapak tidak merestui perasaan yang sudah terlanjur dalam ini. Ada yang dijawab dengan gelengan kepala hingga kata-kata singkat seperti ‘tidak cocok!’. Satu demi satu seruan ‘yaahhh’ menggantung di udara. Tapi untung tidak memengaruhi napsu makan kami.😀

Tidak semua suram juga, sih. Misalnya kawan kami yang jadi sopir malam itu direstui sama si bapak. Wahh.. senangnyaaa! >_<

Saya sendiri sih menyayangkan tidak membawa foto odo-odo saya yang terapdet. Padahal saya mau minta restu juga. Siapa tahu memang kami sangat cocok sekali. Hihihihi. Tapi karena takut disangka ‘galau menahun’ karena tidak menyetor foto satupun, saya pun akhirnya menyerahkan sebuah foto kepada bapak. Sebuah foto usang yang saya serahkan tanpa harapan apa-apa. #dikeplak

272889_10200395013539163_274144856_o

Pas bapak lihat foto ini bapak langsung bilang, “Karakter kalian sama. Hanya saja sifat ‘keras’nya akan lebih mendominasi. Kalau kamu tahan, ya lanjut saja.”

Aaakk! Ryu-chan! Saya tidak terlalu tahu ini pertanda baik atau buruk. Hihihi.

Sambil bersungut-sungut dan sedikit menyesali ketidakrestuan pak Bayu, kami meneruskan makan sambil mencoba tegar dan tetap tertawa-tawa walau menahan perih yang tak tertahankan. Pak Bayu kemudian mengarahkan ke obrolan yang lebih berat. Intinya sih tentang jodoh, soulmate, dan menghadapi pernikahan. #ihik

Tentang soulmate, misalnya. Ternyata tidak banyak orang yang diberi kesempatan berjodoh dengan soulmatenya. Saya langusng bertanya, “Pak, bagaimana cara mendeteksi kalau seseorang itu soulmate kita?”

Kata pak Bayu, kita harus sering bersama orang itu untuk bisa tahu. Tapi sering bersama juga belum tentu bersoulmate. Nah, apakah pernah kita punya seseorang yang sepertinya ‘selalu tahu’ jalan pikiran kita? Misalnya dia ingin bilang sesuatu tapi kita sudah bisa menebak dengan benar bahkan sebelum dia mengatakannya. Frekuensi kita katanya sama. Makanya kalau dia bahagia, kita bisa ikut bahagia. Kalau dia sedang sedih, maka kita ikut sedih, walau dia pura-pura memasang wajah bahagia.

Sampai di sini kunyahan kami memelan, sibuk mengingat-ingat dengan siapa kami pernah mengalami hal itu. Hmm. Yayaya. Oh iya, saya lupa bertanya. Apa bisa perasaan itu dirasakan oleh satu pihak saja? Hihihi. Tapi untung juga sih saya lupa. Paling kalau saya bertanya begitu, teman-teman saya buru-buru memeluk dan menepuk pundak saya. “Sudahlah, Mon. Itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan.”😄

IMG_20130720_183705

Untung tak lama kemudian istri pak Bayu datang. Niatnya sih mau mengajak bapak pulang tapi akhirnya malah ikut ngobrol dengan kami-kami. Hihihi.

Selain cantik, ternyata istri bapak ini asyik diajak ngobrol. Bahkan bahasannya lebih seru lagi. Kalau bersama pak bayu kami membahas hati dan perasaan, maka bersama ibu, kami ditambah satu poin lagi : realitas.

Perasaan sih boleh perasaan tapi logika harus dibawa serta. Bagaimanapun, laki-laki itu harus punya pekerjaan. Apapun pekerjaannya yang jelas bisa menafkahi dengan cukup. Ingat, cukup. Hellow, harga bawang sekarang mahal loh!😀

Saya jadi ingat juga nasehat Eyang Mario Teguh. Perempuan sih jangan dianggap matre kalau menuntut pasangannya mesti bisa menafkahi dengan layak. Karena ini demi kehidupan yang lebih baik. Jangan sampai istilah ‘mau diajak susah’ menjadikan para lelaki berusaha segitu-gitu saja. Tidak mau bekerja lebih giat karena istrinya ‘bahagia diajak hidup susah’. Bukan itu inti permasalahannya. Rejeki kan Tuhan yang atur, tapi kita juga harus bekerja dan berdoa dengan giat. Nah, kalau setelah itu rejeki yang diberikan Tuhan segitu-gitu saja, nah,  di sinilah ‘kerelaan hidup sederhana’ perempuan baru diminta pembuktiannya. Kan yang penting sudah berusaha dan berdoa. Insya Allah poin itu tidak akan direlakan oleh Sang Maha Pember Rezeki. Tinggal tunggu kontinuitas usaha, doa, dan juga kesabaran kita. Setuju?

Jangan belum nikah juga sudah buru-buru ngomong ‘maukah kau hidup susah bersamaku?’ Itu sih kesannya pesimis dari awal. Bagaiman, girls? Hihihihi

Sesi pertama dengan istri pak Bayu berakhir namun masih menyisakan tanda tanya yang besar. Tapi sayang sudah waktunya pulang. Kami harus mengakhiri reuni yang berbahagia itu walau kami tidak rela. #tsaah

Sebelum pulang kami bersalaman dengan pak Bayu dan istrinya. Pas salaman dengan ibu (istri pak Bayu) kami langsung ramai berkata, “Bu, nanti kapan-kapan kami datang ke rumah buat konsultasi ke Ibu, yah!”😀

Dasar bocah! ^_^

Oke deh, The Rain! Sampai jumpa di halal bi halal setelah lebaran nanti, yah! #modus

Ciao!

Makassar, 23 Juli 2013

The Rain Dulu

223569_197192556991606_4452034_n

227839_197192606991601_1968216_n

(beberapa) Foto Baru

1074804_10201575700014294_359347676_o

IMG_0328

IMG_0333

IMG_20130720_201541

4 thoughts on “Kumpul The Rain!

  1. Hahahaha… Seru sekali postingan ini, temanya tentang ketemu teman lama dan reuni, tapi bahasan utamanya malah…. *u know what i mean ^_^
    Asli ngakak guling-gulingka bacaki, kocak sekali!
    Dear Mama Mirna, mau kujodohkan sama kakak lelakiku, gak? Anak teknik juga, siapa tau frekuensinya cocok. Ihik..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s