editor's room · harihariku

Apa yang Saya Pikirkan Ketika Besok Cheetos Pergi

Cheetos, salah satu teman tim kami akan pergi. Jalan ini belum terlalu jauh tapi yang merapatkan barisan jadi semakin sedikit. Ini bukan tentang loyalitas, tentang konsisten, tentang totalitas. Saya tidak meragukan itu dari Cheetos, sungguh, tapi tetap saja saya akan merasa kehilangan.

“Jangan pakai kata ‘kehilangan’, itu terlalu negatif kedengarannya.”protes Ciki.

“Oke, saya ganti. Cheetos, saya akan merindukan kamu.”ralat saya. Ciki dan Cheetos tertawa.

“Ciki, kalau kamu… Kamu tidak boleh pergi, ya.”kata saya pelan pada Ciki. Tapi saya lalu menangkap ekspresi yang bercampuran pada wajahnya. Dan sekali lagi, saya takut merasa kehilangan.

Perbincangan kami lalu berputar. Masih tentang cita-cita kami yang sama itu tapi kini ditambah satu poin lagi : orangtua.

Masa depan memang milik yang kami, harus kami rancang sendiri. Tapi di sisi lain kami juga sadar, bahwa di masa depan itu tidak hanya ada kami sendiri tapi juga ada orangtua kami.

Mungkin kami terlalu banyak nonton film barat yang ketika seseorang sudah dewasa, maka dia bebas menentukan jalan hidupnya. Dia bebas berpetualang ke mana saja, sejauh apa, tanpa memikirkan apa-apa. Mereka merdeka secara penuh. Hidup mereka, masa depan mereka, yang tentukan mereka sendiri, yang atur mereka sendiri.

Tapi kami berbeda. Kami diajarkan tidak boleh seegois itu. Kami harus berbakti kepada orangtua kami masing-masing. Kami harus memperhitungkan dan merencanakan kebahagiaan orangtua kami di dalam masa depan kami.

Dan inilah yang sekarang kami hadapi. Di tengah perjuangan kami memperjuangkan cita-cita yang belum kelihatan ujungnya ini, kami harus menghadapi kekhawatiran orangtua kami. Kekhawatiran orangtua kami terhadap masa depan kami.

*putar Perfect-nya Simple Plan*

Dan tiba-tiba dari sudut mata Ciki saya melihat genangan kata-kata yang tidak sanggup terucap. Cita-cita, perjuangan, dan keinginan untuk membahagiakan orangtua masing-masing minta diprioritaskan.

Saya merasakan semangat Ciki yang kuat dan begitu besar tapi saya juga melihat selipan kekhawatiran dan sedikit perasaan bersalah karena belum bisa membahagiakan orangtua. Belum bisa membuat orangtua merasa ‘tenang’ akan hidup Ciki di masa depan. Saya mengerti. Saya merasakan apa yang Ciki rasakan.

*sodorin ujung jilbab buat Ciki*

Saya tiba-tiba menyesali kalimat ‘tidak boleh pergi’ yang saya ucapkan tadi. Saya juga menyesal telah mengatakan pada Cheetos bahwa saya tidak terlalu ikhlas melepas dia pergi. Saya tiba-tiba merasa sangat egois.

Sebentar, jangan bilang saya tiba-tiba pesimis terhadap cita-cita bersama kami ini. Hanya saja saya harus menekankan satu hal di dalam hati dan pikiran saya; saya menyayangi mereka bukan karena materi semata tapi karena mereka adalah mereka. Karena mereka, Coki, Ciki, Cheetos, Cuki, dan Chibi.

Cita-cita kami itu masuk dalam kategori ‘materi’ kan?

Jadi kalau suatu saat, di ujung jalan nanti saya mendapati mereka harus memilih, maka saya harus merelakan mereka untuk tidak memilih melanjutkan cita-cita ini. Saya harus merelakan mereka memilih jalan untuk masa depan mereka yang lebih baik, untuk kebahagiaan orang-orang yang mereka sayangi, untuk kebahagiaan orangtua mereka.

Ya, saya rela. Saya harus rela, karena saya harus percaya, menyayangi mereka bukan karena materi semata.

Ini hanya kemungkinan terburuk yang sudah harus saya persiapkan sejak hari ini. :’)

Fiuhhhh

Tapi jangan khawatir, karena hari ini saya, kami semua masih akan terus berjuang di jalan ini, sepenuh hati, dengan semua kekuatan kami dan dengan semua doa-doa kami. Kami masih harus tetap percaya pada kekuatan usaha, doa dan tawakkal. Kami harus tetap yakin itu.

Dan saya akan terus berdoa, agar pilihan kami yang sekarang ini diridhoi oleh orangtua kami dan diberkahi dan dirahmati Tuhan kami. Saya akan terus berdoa, agar tidak perlu ada pilihan lain. Agar apa yang kami jalani ini bisa mencerahkan masa depan kami dan membahagiakan orangtua kami. Aamiin.

Tolong bantu doakan kami juga, ya! :’)

Terima kasih buat doanya. *peluk readers satu-satu *

For Cheetos: take care, bebs
For Ciki: Oppa, fighting!
For Coki: menikahmi cepat
For Cuki: no comment
For Chibi: we’ll waiting for your coming back

14 September 2013

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s