.::bisikan kalbu::. · harihariku · nikah

Nyali!

climbing

*selepas dari acara Mappetuada-nya Maya

Dari semua pernyataan layak kutip dari sahabat kami Maya, ada satu hal yang sepertinya paling digaris-bawahi, diberi font 72 dan dibold diunderline! Apakah itu? Kata Maya, yang pertama dilihat dari laki-laki itu bukan masalah mapan, dari keluarga baik-baik, atau kriteria lainnya. Terus apa dong? Yang pertama itu adalah : nyali.

Ugh, saya langsung merasakan sensasi yang berbeda saat mendengar pernyataan ini. Nyali-lah yang pertama ingin kami lihat pada diri kalian wahai lelaki. *tersenyum sinis*

Sepulang dari rumah Maya, rencananya saya dan beberapa sahabat perempuan yang kita sebut saja Srie dan Erna akan bertemu dengan seorang kawan lelaki yang tolong jangan minta saya sebut namanya. Kalau saya sebut, bisa jadi cikal bakal PD V (PD III sudah terlalu mainstream). Nah kami mau bertemu untuk sharing-sharing tentang Flash Player dan weblog.

Saya, Srie dan Erna masih dalam perjalanan. Tapi saya sudah tidak sabar menceritakan pesan-pesan Maya kepada kawan lelaki saya itu. Saya penasaran dengan responnya. Saya bahkan sudah menyiapkan sebuah senyum kemenangan kalau misalnya dia mengakui bahwa ‘nyali’ memang hal yang masih mahal selain uang pannaik.

***

Di lokasi pertemuan

Setelah didahului percakapan pembuka, tibalah saat di mana topik ‘nyali’ dibuka. Saya memasang mata saya tepat di wajahnya saat kata sakti itu dikeluarkan. *siap-siap senyum sinis*

Teman-teman tahu yang saya lihat apa?

Saya melihat…







Saya melihat wajahnya.
Ya, saya melihat wajahnya.
Hihihihi
*dikeplak*

Oke, maaf. Hihihihi

Nah, sembari kata ‘nyali’ itu dikeluarkan, saya benar-benar mengawasi perubahan ekspresi wajahnya. Dia yang tadinya tegak langsung menunduk. Sebenarnya sih saya tidak yakin dia menunduk karena sedang BBMan atau memang menunduk karena kata ‘nyali’ itu. Tapi yang jelas ketika menunduk itu, dia dengan pelan berkata, “Iya, saya memang belum punya nyali.”

Dan demi Tuhan saya tidak jadi mengeluarkan senyum sinis saya. Saya tidak menangkap nada kalah dari kalimat barusan, tidak juga nada putus asa. Tapi saya bisa merasakan kalimat itu memang datang dari hatinya. Dia belum punya nyali. Dia memang belum siap untuk melangkah seserius itu.

Duh, ingin rasanya saya menepuk-nepuk bahu kawan saya itu sambil berkata. “Iya, sudah. Aku mengerti perasaanmu.”

Saya justru jadi merasa bersalah. Dengan alasan ‘nyali’ saya jadi banyak sekali mencap lelaki-lelaki sebagai sosok yang ‘tidak serius’. Padahal di mana letak kesalahannya kalau mereka memang belum siap? Kenapa kita harus memaksa nyali mereka ketika mereka memang belum punya? Kenapa saya, sebagai perempuan, jadi egois seperti itu?

Sengaja tidak bernyali dengan memang benar-benar belum bernyali adalah dua perkara yang berbeda. Dan bodohnya saya selama ini menganggapnya sama. Maaf yah! >_<

Dengan melihat wajah kawan lelaki saya itu pikiran saya jadi lebih terbuka. Lebih menerima. Lebih kepikiran untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa.

Bukan masalah cepat atau lambat, tapi masalah tepat.

Tapi jangan juga ditunda-tunda yah!😀 #teteup

Oke deh, readers, happy weekend yah! /

Makassaar, 31 Agustus 2013

nikah1

 

19 thoughts on “Nyali!

  1. pernah terpikir tidak, kalau nyali seorang lelaki untuk hal seperti ini mungkin berasal dari pemikiran tentang masalah mapan, dari keluarga baik-baik, atau kriteria lainnya?

    1. Iya, kami -perempuan- mengerti sekali
      Tapi pemikiran itu harusnya jadi tantangan,kan?
      Jadi penyemangat buat lelaki.

      Saya dan teman2 kadang ‘dituduh’ kebelet nikah
      padahal sebenarnya juga tidak begitu

      kami masih sanggup menunggu
      tapi hanya kalau kami diminta menunggu

      maka bernyalilah
      sebagian untuk meminta kami sabar menunggu
      sisanya untuk memantapkan diri
      #ihik

      auk ahh.. pokoknya begitulah… hahahaha

  2. NyaLi itu akan ada seiring dengan adanya kemapanan…
    klo soal nyali mah ..lelaki semua punya nyaLi.. tapi nyali penuh pertimbangan…
    klo lelaki nya..modalnya cuma nyali (tanpa kemapanan)… bisa jamin perempuannya gak berpikir untuk terima dia…??? (pasti mikir…”masa hidup dengan nyali”)..heheh..
    menurut saya “yang bernyali tapi belum mapan ‘siap’ ” setiap lelaki ingin pasangan hidupnya bahagia..ingin pasangan hidupnya gak jadi bahan pembicaraan dilingkungannya…
    contoh “teman istrinya diajakin makan direstoran dikit mewahsma suaminya”
    melihat itu si pasangan hidupnya juga ingin..tapi apalah daya sang lelaki bernyali tak mapan gak punya apa2.. trus diperbincangkan..apa enak perasaannya..???hehehhe

    kekhawatiran lelaki ji itu..hehehe..
    pisss…mirna..
    #ajari ka sony vegas klo ke makassar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s