harihariku

Polisi dan Macet di Depan SPN Batua Pagi Ini

bayangkara

 

Saya hari ini berangkat ke kantor dengan perasaan penuh gembira. Duduk tenang di dalam pete-pete hati saya bahagia. Ada apakah gerangan? Yah, karena hari ini saya akhirnya berhasil berangkat pagi-pagi buta. Artinya saya Insya Allah akan sampai tepat waktu di rumah sakit alias kantor tercinta! /

Selain karena terancam tidak terlambat, di pangkuan saya juga sudah duduk manis semangkuk bubur ayam Mbak Sri yang saya beli di jalan Mappanyukki plus sate hati ayam yang pasti wuenak. Ohh, indahnya kerja di hari Sabtu. *angel*

Perjalanan lancar jaya. Pete-pete saya bahkan sempat balap-balapan. Namun sodara-sodari, semua perasaan bahagia saya itu sirna seketika. Seperti kebahagiaan saat dia pergi, berada di puncak namun tiba-tiba, wushhh, hilang bersama tiupan angin.

Sudah sampai di depan Markas Kodam VII Wirabuana pete-pete saya berhenti. Saya melihat ke depan dan duh Gusti!!! Itu macet kenapa? Saya tahu benar ini bukan macer biasa. Soalnya ini masih pagi-pagi dan ini hari Sabtu! Ada apa? Ada apa? Ada apa?

Saya misuh-misuh sendiri di dalam pete-pete. Gundah gelisah dan gulana. Pupus sudah harapan saya tiba di kantor tepat waktu. Pete-pete saya berjalan pelan-pelan. Saya terus mengaduh dalam hati.

Sampai di depan Sekolah Perpolisian Negara (SPN) Batua saya baru ngeh kalau inilah sebab kenapa terjadi macet parah. Ada pelantikan ratusan siswa SPN Batua. Oke, babeh saya memang polisi. Tapi spontan saya ngamuk-ngamuk dalam hati. Wuihh, ini kepentingan sepihak tapi menyusahkan orang-orang yang tidak bersalah. Coba SPN Batua – RS Unhas cuma sepelemparan batu, saya pasti turun dan berlari penuh kerinduan ke kantor saya tercinta itu. Huahahaha. Yang terakhir bo’ng ding!😀

Oke, saya lanjut yah. Pokoknya perasaan saya itu kesel, cemas, dan pokoknya begitulah. Saya memandangi kemacetan itu dengan tatapan putus asa dan ratapan anak tiri. Saya bisa belihat kalau yang dilantik satu orang tapi pengantarnya bisa sampai sekampung. Ini kayak adegan orang mau naik haji saja. Duh!

Tapi sodara-sodari yang budiman, tiba-tiba saya menangkap satu momen yang berbeda. Seorang anak lelaki berkepala gundul, berkemeja putih dan bercelana kain hitam mencium punggung tangan ibunya. Di sebelah mereka ada bapak-bapak, yang saya yakini itu adalah bapaknya, menepuk punggung si anak lelaki dengan tatapan, ugh, penuh doa pengharapan.

Kekesalan saya sirna tiba-tiba. Saya jadinya malah terharu. Sebegitu besar harapan yang terpancar dari ibu-bapak itu kepada anaknya. Saya yakin dalam hati kedua orang tua itu berdoa agar anaknya diberi kemudahan dan kekuatan dalam menjalankan tugas sebagai seorang polisi. Semoga nanti mereka bisa jadi polisi yang benar-benar mengayomi rakyat, bersahabat dengan rakyat, memperjuangkan keadilan dan tidak takut dengan geng motor. Tau kan image polisi sekarang bagaimana?

Para mahasiswa, pegawai kantoran, anak sekolah, pedagang di pasar, pokoknya orang-orang pada rame menghujat polisi. Katanya polisi itu pekerjaan paling jelek. Haha. Saya sih ketawa saja. Saya yakin dengan benar di antara para mahasiswa itu, di antara pegawai-pegawai kantoran itu,di antara pedang di pasar itu juga ada yang kelakukannya jelek. Nyontek, tawuran, menipu hati gadis-gadis muda, korupsi waktu, tidak sembahyang, curang dalam menjual, menimbang tidak adil. Sori, bukannya saya mau membuka aib atau apa. Tapi banyak yang menghujat seakan-akan perilakunya paling suci saja. Begini, jangan sampai kita pars pratoto. Ituloh, jenis majas yang menyebutkan keseluruhan untuk menyebutkan sebagian. Gak baik ah. Bagimanapun dalam hitam ada putih walau setitik dan dalam putih ada hitam walau setitik. Oke?

Jadi sodara-sodara. Begitulah yang ada di pikiran saya sampai kemudian saya ternyata sudah sampai di rumah sakit tercinta. Dan sudah bisa dipastikan saya terlambat. Terlambat 15 menit. Hehehe.

Tapi sudahlah. Saya sudah tidak kesal lagi demi melihat pemandangan di depan SPN Batua tadi. Semoga saja kita yang penuh dosa ini terus ditunjukkan jalan yang lurus oleh Gusti Allah Swt. Dan juga kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Okeh?

Sudah dulu, ya. Saya mau makan bubur ayam saya dulu. Ciao! ^0^

1 Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s