.::bisikan kalbu::. · harihariku

Seorang Ibu dan Anaknya yang Mau Menjual Rumah

Ini kisah nyata. Kejadiannya di dalam pete-pete yang penumpangnya cuma dua. Saya dan seorang ibu-ibu.

Tadinya tidak ada yang istimewa. Semuanya biasa saja sampai ketika terdengar deringan telepon. Ponsel ibu itu berdering.

“Halo? Nak?”

“APA MAKSUDMU TELEPON BEGITU PAGI-PAGI????”

Astaghfirullah. Saya tekejut setengah mati. Ini si ibu tiba-tiba bentak anaknya begitu di telepon.

“Ada tonji uangku di itu rumah. Ndak saya tinggali ji tapi ndak pernah ji saya mau minta-minta kembali. Kan kau ji yang tinggal di situ.”suara si ibu tidak menggelegar lagi. Tapi masih dengan nada keras.

“Itu rumah ndak boleh dijual! Kalo ko mau ambil uangmu, cabut mi itu kayu-kayu di situ baru jual!”

“Bagaimana caramu berpikir? Na kau ji yang tinggal di situ. Baek-baeki juga caramu bicara! Marah-marah pagi-pagi kayak tong apa!”

“Sudahmi!” si ibu mengakhiri percakapannya. Saya menelan ludah.

***

Beberapa menit setelahnya, saya mengamati ibu itu. Saya baru sadar setelah melihat pakaiannya. Sepertinya beliau guru! Sama dengan baju dinas mama saya tadi pagi!

Huft. Saya menghela napas. Saya tidak tahu keadaan sebenarnya tapi saya merasa iba dengan ibu yang di tangannya ada kantung plastik berisi roti tawar.

Saya cuma bertanya dalam hati, apa ketika tua nanti, setiap orang pasti akan mempermasalahkan harta dengan anaknya sendiri?

Apa setiap orangtua mengumpulkan harta hanya untuk dipermasalahkan dengan anaknya di kemudian hari?

Apa setiap orangtua pada akhirnya harus berseteru dengan anak-anaknya gara-gara masalah harta?

Apa nanti saya akan jadi anak seperti itu ketika dewasa nanti?

Angry_GiNa_Onion_Head_by_AngelEyesOblivion

sumber

***

Waktu anak-anaknya kecil, para orangtua sibuk mengumpulkan harta agar anaknya dapat hidup nyaman. Kalau perlu sampai dewasa tidak perlu bersusah-susah hati. Tapi siapa sangka justru bisa jadi masalah baru?

Barang yang mungkin dulu dicicil pelan-pelan dengan ‘uang pedis’, menghemat kiri kanan, mencari tambahan muka belakang, eh malah dituntut oleh keluarga sendiri, anak sendiri.

Dan orangtua-orangtua itu, ketika sudah merasa tua dan ingin hidup dengan tenang, pikirannya tiba-tiba harus disusahi lagi dengan persoalan harta. Dengan anaknya sendiri lagi! Huh!

Oke, saya ini masih kecil. Belum tau apa-apa. Belum mengerti banyak. Tapi setidaknya saat ini saya mau berdoa baik-baik, semoga ketika sudah berumah tangga nanti saya dapat mencukupi kebutuhan saya sendiri. Saya bisa hidup mapan dan menerima apa yang menjadi hak saya tanpa harus terlibat perseteruan yang menjengkelkan.

Paling tidak saya akan berusaha tidak membebani pikiran orangtua saya dengan persoalan dunia itu. Aamiinnn… aamiiinn ya robbal aalamiiinnn. Tolong bantu aamiinkan juga yah.

***

Huft. Begitulah kisah saya pagi tadi. Dan akhirnya si ibu turun di depan sekolah dasar. Tuh, kan, apa asaya bilang. Beliau sepertinya memang guru.

Oh iya, dan terima kasih sudah membaca cerita saya. Saya sudah lega karena menuliskan ini. Jujur, semenjak mendengar percakapan telepon si ibu tadi, saya emosi terus. Terus emosi.  K

Baiklah readers, sampai jumpa di cerita saya berikutnya yang semoga tidak penuh nada emosi.:-/

Peace, love, and gaul, yah! Hehe.

Chao!

Makassar, 8 Januari 2013

6 thoughts on “Seorang Ibu dan Anaknya yang Mau Menjual Rumah

  1. Syukurlah, Mirna bisa memperhatikan hal2 seperti ini. Ada memang tong orang seperti anaknya itu ibu. Ada yang malah mengusir orangtuanya. Ada juga antara saudara bertengkar gara2 harta peninggalan. Huft …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s