harihariku · kerja · RS Unhas · Setangkup Roti Cokelat · volunteer

Jam Makan Siang

nasi_campur_by_michelletedjo

sumber gambar di sini

Jam istirahat di kantor ini sama dengan jam istirahat di belahan bumi pertiwi lainnya. Jam 12 siang tepat. Namun seperti biasa, saya sudah membutuhkan ransum siang lebih awal dari itu.

Jam sebelas dan saya sudah keroncongan. Segala jenis makanan saya bayang-bayangkan. Dan tentu saja itu sukses membuat lambung saya bernyanyi kencang.

Sudah 30 menit dari jam sebelas. Saya makin tersiksa tapi tetap bertahan sekuat tenaga dari godaan syaitan yang terkutuk. Masih ada 30 menit lagi. Ughh, waktu berjalan lambat, yah?

Saya pun mengalihkan pikiran dengan memantau linikala di facebook dan twitter, sembari berharap tidak ada yang mengunggah gambar makanan jam segini.

Tik tok, tik tok, tik tok. Saya sudah membaca pelan-pelan aneka tweet dan apdetan status. Rasanya sudah lama sekali. Dengan penuh harap pun saya melihat jam di sudut kanan bawah layar. Dan… baru 11.40. T___T

Ahh, saya tidak tahan lagi. Persoalan ini harus saya selesaikan sekarang juga. Jangan sampai ada nyawa tidak berdosa mati sia-sia. #eh

Saya pun dengan langkah tegap maju jalan keluar dari ruangan dan menuju kantin yang mulia. Ya, kantin!

Sampai di pintu kantin saya mengintip. Belum ada pegawai satu pun yang makan, apalagi pakbos dan bubos. Oke, aman. Saya Cuma mau bungkus, kok ini. Tidak makan di tempat. Hihihihi.

Beres bayar membayar, saya pun dengan aman damai dan tentramnya keluar dari kantin dan menuju ruangan saya dan lalu makan dengan tenang dan di tengah jalan saya bertemu seseorang!

Seseorang itu bisa dibilang salah satu pegawai senior yang disegani yang sayangnya kami saling mengenal satu sama lain.

Mau mundur ya ndak mungkin, kan? Jadi saya maju saja sambil nyengir-nyengir kuda dan tangan kanan mengelus perut.

Alhamdulillah tidak terjadi hal-hal mengerikan, misalnya SP1 secara lisan di tempat. Hanya percakapan biasa dan saya lalu berlalu, setengah berlari. Hihihihi

Sambil jalan saya memikirkan tentang aksi nyengir saya sambil ngelus-ngelus perut tadi.

Itu bahasa tubuh saya yang bermakna -> Maaf, Kak. Saya nggak tahan. Laper banget ini. Makanya beli makanan duluan.

Nah, tapi bagaimana kalau si kakak mengartikan seperti ini -> Maaf, Kak. Saya nggak tahan. Nih, pengaruh jabang bayi nih. Maunya makan melulu.

Oalaahhh! Hihihihihi.

 

Besmen tercinta,

Makassar, 28 11 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s