kontes · Setangkup Roti Cokelat

Aksi untuk Indonesiaku : Jadi Ibu

Saat ini usia saya sekitar 23 tahun 8 bulan. Usia yang sangat produktif, bukan? Saya bisa melihat hal itu di teman-teman seangkatan saya. Di usia seperti ini mereka sudah pada ramai-ramai bekerja, merantau kiri dan kanan, dan yang paling asyik adalah -> bergaji tinggi.

Saya? Saya juga ‘sebenarnya’ sedang bekerja di salah satu rumah sakit milik pemerintah dengan status magang sukarela. Status ini menunjukkan kalau saya, iya benar, belum digaji.

Tujuannya sih kalau sudah sekitar 3-4 bulan mengabdi saya sudah bisa diangkat menjadi tenaga kontrak dengan gaji di bawah dua juta. Ya iyalah di bawah dua juta. Namanya saya instansi pemerintah.

Nah, di sinilah letak kesenjangannya. Tidak inginkah saya, di usia seproduktif ini menjadi seperti yang teman-teman saya tengah perjuangkan dan sebagian besar sudah mendapatkannya -> pegawai di perusahaan keren dengan gaji tinggi?

Saya ingin. Ingin sekali. Walaupun saya ini seorang perempuan, saya sempat berada di kondisi benar-benar ingin merantau jauh-jauh, bertemu dengan dunia baru, orang-orang baru, berpenghasilan tinggi dan berhasil move on! #eh

Tapi saya lalu terbentur dengan pertanyaan -> Tujuan hidup saya sebenarnya apa?

***

Negeri ini sedang sakit, kan?

Geram rasanya melihat aneka ‘bad news’ yang lebih mendominasi tayangan berita di televisi, di koran, maupun di portal-portal berita di dunia maya. Yang ‘good news’ sih mungkin banyak tapi kalah pamor.

Lebih seru mana sih di televisi? Berita tawuran atau timnas pelajar yang menang olimpiade fisika, misalnya? Sepertinya rating untuk berita tawuran lebih tinggi, walapun mudah-mudahan perkiraan saya itu salah.

Nah, sebagai pemuda di usia produktif, apa yang bisa saya lakukan untuk negeri ini?

Saya kembali ke paragraf awal tulisan ini. Saya bisa saja menjadi karyawan yang baik, bekerja sepenuh hati sepenuh jiwa demi membangun bangsa. Seperti itukah yang saya inginkan?

Atau saya mengembangkan hobi saya di dunia tulis menulis, desain grafis atau desain video dengan karya-karya yang menggemparkan dunia? Yang membanggakan Indonesia? Bisa saja demikian.

Tapi saya punya cita-cita lain. Sebuah keinginan yang hampir tergerus oleh keinginan-keinginan yang ternyata sangat materiil itu.

Saya ingin membangun sebuah keluarga. Saya ingin menjadi perempuan yang selalu bisa punya waktu untuk keluarga.

Ya, saya ingin menjadi seorang ibu.

Saya ingat sebuah pepatah Cina yang berkata, ““Jika anda berencana untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika anda berencana selama sepuluh tahuntanamlah pohon. Jika anda berencana selama 100 tahundidiklah manusia.”

Saya ingin berperan serta dalam membangun negeri dengan melahirkan anak-anak yang sehat raganya, sehat jiwanya. Anak-anak yang tumbuh dalam kedamaian dan kehangatan orangtua. Anak-anak yang dengan bebas berkreasi, mengembangkan minat dan bakatnya, tapi tetap terikat pada fitrahnya sebagai manusia, sebagai hamba Ilahi.

Saya ingin anak-anak saya nanti tumbuh besar dengan perilaku yang baik, terbiasa dengan kejujuran dan teguh memperjuangkan pilihan hidupnya.

Anak-anak saya nanti akan membuat karya-karya yang hebat, yang membanggakan negerinya. Anak-anak yang siap menjadi pemimpin. Yah, hal-hal yang saat ini tidak dapat saya lakukan akan dilakukan oleh anak-anak saya.

Apakah cita-cita saya ini terdengar naïf? Ahh, jangan berpikiran negatif dulu. Cita-cita saya ini sangat mungkin terjadi. Dan saya akan berjuang sepenuh hati agar cita-cita ini dapat terwujud.

Jadi yang saya lakukan saat ini adalah mempersiapkan segalanya. Menjalani pola hidup sehat lahir dan batin, memperkaya wawasan, memperdalam perasaan, melatih kesabaran, dan membiasakan diri bertindak bijaksana.

Tidak mudah memang tapi saya akan terus berusaha. Berkali-kali jatuh itu wajar, yang jelas saya akan berusaha terus melangkah walau mungkin terkadang dengan amat pelan.

Roda nasib negeri ini mungkin sedang berada di bawah tapi sedang bergerak menuju ke atas. Seperti filosofi bunga teratai, bijinya haruslah tenggelam di dalam lumpur dulu baru kemudian dapat tumbuh dan kembali ke permukaan sebagai bunga yang indah.

Tidak akan lama lagi. Dan di saat itu tiba, anak-anak saya sudah cukup dewasa untuk berkarya demi bangsanya, demi negaranya.

Karena itulah saya harus pandai-pandai memilih jalan hidup saya. Saya memilih tidak bekerja di tempat yang terlalu menguras waktu saya dan menuntut prioritas lebih di atas diri saya sendiri, bahkan keluarga saya nanti.

Di tempat yang sekarang ini walau nanti gajinya tidak tinggi, saya pikir saya akan lebih dapat membagi waktu. Tuntutan kerja yang tidak terlalu tinggi bahkan membuat saya lebih leluasa menjalankan hobi. Di sela-sela bekerja saya masih bisa menulis, membuat video, dan bahkan saya sedang dalam proyek membuat majalah rumah sakit.

Bukankah ini menyenangkan?

Jadi beginilah aksi saya untuk negeri. Bersiap menjadi seorang ibu yang akan turut mencetak generasi-generasi unggul yang akan menjayakan negeri? Tidak hanya untuk negeri tapi juga untuk penduduk bumi?

Hanya saja untuk menjalankan aksi saya ini saya tentu saja tidak bisa sendiri. Saya butuh partner, teman hidup, untuk sama-sama mewujudkan cita-cita luhur dan mengharukan ini.

Ini aksi saya. Yang mau jadi partner saya angkat tangan! ^0^

Makassar, 25 Novermber 2012

*dipublikasikan juga di sini  via http://www.lintas.me

*oh iya, baru saja tulisan ini saya posting sudah ada yang mengirim pesan.
Katanya 100 tahun itu terlalu lama, sementara kiamat justru diramalkan akan terjadi pada 12-12-12
😀😀😀

Pertama, jangan percaya ramalan. Kedua, 100 tahun itu kan pepatah, sodara-sodara!
Kalau saya menikah dua tahun depan dan punya anak di usia 25-26 tahun,
maka tidak butuh 100 tahun menunggu untuk melihat anak-anak saya yang lucu
hebat, kreatif dan unyu-unyu seperti saya ini. ^0^
#dikeplak

sumber gambar di sini

12 thoughts on “Aksi untuk Indonesiaku : Jadi Ibu

  1. ya itulah sebuah pilihan, bukan sekedar cita, semua butuh pengorbanan dan perjuanagan untuk tujuan itu..
    perspektif lain mengatakan bagaimana bisa kita membantu orang yang tak mampu (sedekah), bagaimana bisa kita memenuhi rukun islam yang ke 5 (naik haji) tanpa materiil..
    materiil merupakan salah satu pintu untuk menuju tujuan itu..
    selama kita produktif, apakah pernah terfikir bagaimana misi untuk mencapai visi itu??

    1. Jadi ingat pepatah -> uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang

      tapi saya sepakat, Bang! Bagaimanapun kita butuh kemapanan finansial untuk hidup.
      Dan saya juga selalu bercita-cita punya banyak uang. Hihihihi
      $_$

      cuman, untuk jadikan itu prioritas mungkin diselaraskan
      dan disesuaikan dengan fitrahnya ibu sebagai pengurus keluarga.

      kan ndak mungkin saya sibuk cari uang tapi keluarga berantakan?
      bagaimanapun keluarga harus jadi prioritas
      walau mungkin sebenarnya saya mau sekali kembangkan karir di luar rumah.🙂

      lagian saya masih bisa cari duit dengan, misalnya, menulis atau proyek2 desain grafis
      ini misalnya loh, ya..

      dan lagian ‘lagi’, kan nanti ada ‘abangku’ yang cari duit banyak2.😀😀😀

      hidup ini banyak pilihannya, ya, Mas Aan?

  2. ya mungkin itu secuil perspektif saya..

    sebenerx sich memang penting peran serta orang tua dalam membesarkan anak sesuai cita2x.satu yang dapat saya simpulkan yaitu “education”…ya pendidikan,,,,
    dunia akan berubah lebih baik jika manusiax berpendidikan (insyallah),,

  3. tbh, saya selalu suka dengan tulisanmu. Menggelitik, agak lebai, tapi masuk akal. Mirna bangeet memang..;D

    hahah, saya mau tanya yg kalimat ‘mendalami perasaan’ itu apa maknanya?hehe..kyknya serius sekali..

    trus ttg cita2 mirna, semua perempuan jg pasti ingin. tapi nabilang teman kerjaku (bapak2) :
    “kerja dulu, nabung banyak2, dua-tiga tahun baru menikah!!”

    hehe..menjadi ibu itu pekerjaan yg mulia. tp saya yakin kita bisa multitasking, jd ibu yg akan menjadikan bangsa ini punya generasi penerus yg shaleh, punya integritas & berprestasi, jadi istri sholehah perhiasan dunia dan jadi perempuan tangguh yg berprestasi di bidang (dunia kerja) yg dia tekuni.

    Zemangat!!

    1. whuaaa.. ada kakanda guru Elaaaa… #peluk #kecup

      Hehehe. Makasih komentarnya d line pertama.
      Sungguh, saya terharu… :p

      Iye’, Kanda. Siap. Saya kerja ji juga, nabung banyak2
      termasuk nabung buat seragam pixelgirl yang katanya 30 orang itu
      (_ _”)

      hahahaha.

      menjadi ibu itu pekerjaan yg mulia. tp saya yakin kita bisa multitasking, jd ibu yg akan menjadikan bangsa ini punya generasi penerus yg shaleh, punya integritas & berprestasi, jadi istri sholehah perhiasan dunia dan jadi perempuan tangguh yg berprestasi di bidang (dunia kerja) yg dia tekuni. —-> Keren! keren!😀

      saya sudah pernah liat macam2 ibu rumah tangga dari yang wanita karir di luar sampai wanita karir di rumah saja.
      weww. sungguh luar biasa. masing-masing ada dilemanya tersendiri.

      Kita mungkin sulit mencapat kondisi ideal atau sempurna.
      tapi bukan karena sulitnya lantas kita berhenti mencoba, kanda, dih?

      hahaha. Semangat buat kita! Semangat buat kita yang calon ibu! Insya Allah. aamiinnn.

      #hug
      #kiss

  4. tentang tujuan hidup… ^_^ setiap orang memiliki visi yg berbeda-beda jadi menjalankan misi yg berbeda-beda pula….
    sedikit banyak sehati jki…
    tp maaf kanda, walaupun kita satu tujuan sungguh sangat disayangkan sy tdk bisa jdi partnermu… hahaha :p

    1. Betul. Visi masing-masing. Beda itu tidak apa-apa. yang jelas masing-masing kita bisa jalani sepenuh hati. aamiinnn

      hahaha. ‘sedikit banyak’ dih, Kanda? sayang kita tidak bisa bersatu. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s