harihariku · RS Unhas

Aku, Bis, dan Pete-Pete di Kampus Merah

sumber gambar

Hai! Mirna Andriani melaporkan tidak langsung dari kampus Unhas Tamalanrea.

Jadi surat edaran sepekan lalu ditambah desas-desus dan gosip tentang penghapusan jalur angkutan umum alias pete-pete di kampus merah ternyata benar adanya.

Saya flashback sedikit yah. Jadi kemarin itu sepulang dari kampus saya naik pete-pete 05 bersama si cantik Nirmala Sari. Di pete-pete itu kami berdiskusi dengan supir pete-pete perihal penghapusan jalur di dalam kampus. Si supir pete-pete tidak setuju. Mala mengamini. Saya berseru, “Setuju!”

Kalau pete-pete cuma bisa sampai pintu nol lalu putar di terminal workshop, lalu para penumpang mau dikemanakan? Kalau anak teknik sih aman. Tinggal lompat-lompat dikit, hup, sampai di fakultas merah hitam. Lah, kalau fakultas lain? Kalau gueh yang di rumah sakit? Menggelinding ke pintu dua gitu? Secara pipi saya bulat gini. Hihihihi.

Nah, terus, menurut pak supet nanti itu di terminal workshop ada bis yang akan menjemput para penumpang. Bis itu akan mengelilingi ringroad kampus, dari workshop kembali ke workshop.

Oke. Ada bis. Terus, waktu keberangkatannya bagaimana? Apakah menunggu penuh baru jalan? Apakah bis-nya ada seharian? Selalu dan sayang selamanya?

Wallahualam. Saya juga belum tahu kemarin. Yang jelas kami misuh-misuh dengan aturan yang katanya ujicoba ini.

Di tengah jalan kami pun berpisah dengan pak supet. Kami pindah pete-pete karena pak supet ada janji main bola dengan teman-temannya. Hihihihi

Nah, sampailah hari ini, pagi tadi. Saya tadinya berencana berangkat kantor lebih pagi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya ada demo supir pete-pete, lama menunggu bis, dan yang yang terakhir -> jalan kaki dari workshop ke rumah sakit. >_<

Di jalan saya lagi-lagi sempat ngobrol dengan pak supet. Katanya nanti dia masuk lewat pinto nol. Sesekali saya dan beliau mempertanyakan keputusan ini. Keputusan yang menurut beberapa pihak tidak terlalu baik. Umm, entahlah.

Dan akhirnya sampailah saya di pintu nol. Dari kejauhan ada penumpukan pete-pete kampus. Beberapa pete-pete terlihat menurunkan SEMUA penumpangnya tepat di depan pintu nol. Saya sedikit khawatir. Jarak dari pintu nol ke workshop itu lumanyun alias lumayan bikin betis gede. Tapi kekhawatiran saya berubah karena ternyata pak supet saya dengan nomer lambung 05003 itu tetap masuk ke pintu nol.

Kami menyusuri pintu nol. Di sisi jalan kanan dan kiri banyak mahasiswa yang terlihat berjalan kaki. Kasihan benar. Benar-benar kasihan.

Sampai di terminal workshop ada beberapa satpam kampus yang berjejer. Oleh pak satpam pak supet disuruh menurunkan penumpang. Kami, maksudnya.

Tepat kami turun dari pete-pete, datang pula sebuah bis berwarna merah. Seketika saya seperti mendengar sayup-sayup Mars Unhas.

Universitas Hasanuddin / Panjimu kita bawa serta//

Hihihihihi.

Nah, ketika akan naik bis saya melihat ada adik saya Komisaris Neo, si Rasman, berdiri mengamati suasana. Saya sempat nyengir, melambai dan lalu bergegas naik ke dalam bis.

Di dalam bis saya langsung disambut dengan pendingin ruangan. Asyik. Lalu duduk di jejeran kursi tengah. Kursinya enak. Empuk.

Baru saja saya menikmati suasana di dalam bis, dari pemutar musik langsung mengalun sebuah lagu.

Selepas kau pergi / Tinggallah di sini kusendiri / Kumerasakan sesuatu / yang tlah hilang di dalam hidupku //

Ya ampuun. Sumprianto!!! Tidak jadi. Saya tidak jadi memuji bis ini. Hihihihi

Oke, lanjut. Dari pengamatan saya, di dalam bis ini ada 21 kursi untuk penumpang. Duapuluh dua, sih, sebenarnya. Cuman yang terakhir itu milik pak supir. Kamu mau rebutan sama pak supir? Hihihihi

Ada juga di deretan tengah buat yang mau bergantung-gantung ala tarzan. Eh, bener ala tarzan? Ya tidak lah. Hihihihi

Bis pun melaju pelan. Sesekali ada adek mahasiswa (deuu, adek!) yang turun di depan fakultas masing-masing. Saya curiga nanti bis ini tidak akan lewat di pintu dua dan berarti akan ada adegan jalan kaki. Heuheuheuheu.

Oh iya, saya sempat meilhat ternyata masih ada pete-pete masuk kampus! Beneran. Serius. Saya tidak mengerti bagaimana mereka menembus pintu satu. Mungkin balap-balap. Atau yang jangan-jangan kampus ini punya pintu 1 ¼ seperti peron 9 ¾ ala-ala Harry Potter. Hahaha.

Yah, daripada mikir terus saya lalu bersandar, menikmati perjalanan ini. Selepas Kau Pergi milik Laluna sudah hamper habis. Saya lega. Perjalanan masih seperempat lagi. Saya sudah di depan baruga ketika lagu baru mulai terputar.

I heard that you’re settled down / that you found a girl / and you’re married now //

Wewww. Turunkan saya, Pak Supir! Turunkan saya! Heuheueheueheu.

Pagi-pagi itu mestinya denger lagu semangat, kan, yah? Bukannya lagu galau yang membangkitkan kenangan lama membaui udara sekitar. Nyesek tau! Hihihi

Eh, maaf. Ini kan postingan reportase. Bukan curhat! Hihihi

Yah, jadi begitulah hingga akhirnya ketika Fakultas Hukum dilewati, pak supir bertanya, “Turun di mana, Dek?”

Di dalam bis itu tinggal empat orang dan kami kompak menjawab, “Rumah Sakit, Pak!”

Ternyata pak supirnya baik. Beliau lewat pintu dua. Kami diturunkan di depan rumah sakit. Sambil melangkah turun saya sempat berseru riang, “Terima kasih, Pak Supir!”

Besmen, 15 10 12

*nah, menurut saya, peraturan ini ada baik buruknya.

1. Di area kampus banyak penumpang, otomatis pendapatan supet akan berkurang

2. Ada sih bis kampus. Cuman saya juga belum tahu pasti jumlah unitnya berapa dan jam-jam keberangkatannya kapan saja. Kalau teratur sih tidak masalah. Misalnya tidap 15 menit. Dan ada tidak ada penumpang pokoknya tiap seperempat jam, teng, mesti berangkat.

3. Para pegawai rumah sakit di area pintu dua akan kesulitan mengambil pete-pete. Bisa saja pete-pete lewat pintu dua. Tapi otomatis akan terjadi kemacetan yang parah. Dan kalau tidak ada pete-pete, maka mereka harus naik ojek atau berjalan kaki ke depan pintu dua. Ugh! >_<

Nah, bagaimana menurut teman-teman?

Oia, ada info baru nih. Katanya hasil negosiasi antara perwakilan Supir Pete-pete trayek Unhas siang tadi : Pete-pete akan melalui jalur biasa sampai ada studi kelayakan jalan di pintu nol. Begitu katanya. ^_^

10 thoughts on “Aku, Bis, dan Pete-Pete di Kampus Merah

    1. nah, harusnya kamu itu ikut demo sama supir pete-pete kemarin, Dek! ^_^
      #kompor

      tapi hari Selasa kemarin, bis Unhas sudah tidak tampak lagi.
      Untung saya sempat nyoba sekali Senin kemarin. hihihihi

  1. Sebenarnya sudah lama niat kampus itu untuk “membebaskan” diri dari serbuan pete-pete.. Namun, masih belum pasti siapa “pengganti” pete-pete nantinya. Tentang pete-pete itu sendiri, jika dihubungkan kembali pada peraturan lalu lintas seerta keputusan walikota makassar tahun 2005 (kebetulan karena judul TA ku Transportasi, jadi tau.) disebutkan pete2 wajib menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal. Sebenarnya ada satu fenomena tentang Unhas itu sendiri. Unhas dijadikan “terminal” bagi pete-pete. Bayangkan saja, bebereapa jurusan pete-pete masuk ke dalam kampus kan?

    Tapi, rencana “memangkas” itu sebenarnya bisa diatasi lewat seperti katamu tadi, penetapan aturan tentang waktu singgah mereka. Angkutan pete-pete sifatnya komuter, atau sekali jalan saja. Yang penting, ada ketegasan sendiri dari pihak Unhas. Selalu ada jalan tengah kok..😉

    1. Iya, Kak. Kalau urusan penertiban sih saya setuju-setuju saja.
      toh kalau ada semacam terminal di luar kampus, pete2 juga tidak akan kekurangan penumpang.
      asalkan bis kampus dan terminal itu terhubung langsung.

      skarang bakal calon terminal itu yang sepertinya belum ada..
      kalau pintu nol sih jauh dari kelayakan, menurut saya, kak.
      soalnya jalannya sempit dan masih tidak rata.

      oia, kak, dengar2 ada rencana pintu dua mau dipindahkan ke samping kantor Kemenkes propinsi?
      mungkin di sekitar itu bisa ada semacam terminal? mungkin… Hihihihi

    1. Itu sih, Pete, Bang! Hihihihi

      Yah, begitulah di Unhas selama ini, Bang. Angkot satu-satunya angkutan umum di dalam kampus.
      makanya ini baru mau diterapin bis kampus.
      cuman, yah, namanya saja ‘perubahan’ selalu menimbulkan riak. ^_^

  2. @om insan..saya setu om, ternyata itu angkot..ih di UGM juga ada mas trayek yang masuk kampus..kalo di UNPAD Jatinangor pasukan ojeg yang mengantar mahasiswa menaiki bukit menuju fakultas masing-masing.

    @mirna emang apa salahnya dengan laluna dan adele? atau lagi galau yaaa..huahuahua

  3. trus yang tinggal di pondokan jalan sahabat kalo mau keluar gimana?kan di dalam bukkan cuma ada mahasiswa…

    hahaha..pak supirnya mungkin sengaja putar lagunya buat Mirna, hihihi

    1. Waktu itu rencananya si bis kampus lewat situ juga, Kak. Jadi mereka turun di pintu dua dan lanjut dengan pete2 jurusan masing2. Tapi kan tidak jadi. Sampai skarang pete2 masih bertahan… Hehehe

      Iya, Kak. Itu pak supir saya yakin ada yang bayar, supaya pagi indah ceriaku tersabotase. Hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s