cerita pendek

Tiga Digit

Dug!!!

Yah, pagi-pagi sudah terantuk di pintu pete’-pete’ (angkot)! Lumayan, melayangkan kantuk khas pagi hari. Kok ngantuk? La iya, semalam kan begadang lagi, makanya ngantuk!

Tepat di belakang sopir adalah posisi favoritku saat naik pete’-pete’. Posisi favorit lain ada di sudut terdalam dan di ujung dekat pintu. Di sudut dalam kalau sedang ingin belajar selama perjalanan (+/- sejam), dan di dekat pintu kalau suasana pete’-pete’ agak mencurigakan. Maksudnya sih kalau ada apa-apa tinggal loncat saja. Betul, kan?

Nah, karena posisi sudah oke, segera kukeluarkan diktat Material Elektroteknik dan sebuah note. Note kubuka, memandang ke bagian depan pete’-pete’ dan menuliskan angka: 007dengan tinta warna merah.

***

Sedikit misuh-misuh aku mengelap beberapa tetesan air hujan dari payung di atas note kesayanganku itu. Aku mengernyit, seperempat halaman pertama luntur sudah. Tapi it’s okay. Namanya saja musibah! Maka sambil menabahkan hati kutulis angka : 032.

Nunung! Tiba-tiba aku jadi ingat Nunung. Nunung pasti dalam perjalanan ke kampus dengan jas hujannya…

Lewat jendela pak supir (ya iyalah, masa’ pak kusir?) kutatap hujan yang terus saja menyiram kota Makassar. Pasti ada yang belum mandi, pikirku asal-asalan…

***

I hate him! Si manusia rese’ itu membuatku sebal. Sok sekali! Dasar rese’!!!! Dimas. Namanya sih bagus. Tapi tingkahnya itu, argh… ditanya baik-baik, eh malah melengos dan pergi tanpa sepatah kata pun…

Flashback mode on…

“Dimas, kelas kita besok ada kuis?”aku bertanya saat dia tiba-tiba melintas di depanku.

Setengah tidak percaya kulihat Dimas hanya melewatiku tanpa kata.

“DIMAS!!!”aku teriak pelan. Memangnya ada ya, “teriak pelan”?

Eh? Aku benar-benar tidak mengerti. Dimas hanya memutar kepalanya sekitar 15° dan dengan nada kesal menjawab…

“Bu Nien besok ga masuk kalee…!” hanya itu dan dia langsung pergi dengan sangat sopan. Sopan! Sangat sopan!!!

Kalee…kalee…memangnya kalijaga? Dicemplungin dikali kayaknya bagus deh! Aku mendengus dalam hati. Aku kan cuma bertanya! Cuma bertanya! Apa sih susahnya berhenti, menoleh sempurna dan menjawab dengan baik-baik?

“Buat apa bertanya sama makhluk macam dia? Kamu dicuekin lagi, kan?” Nunung berkomentar pedas. Di sampingnya Tika cuma mendengus sebal sambil memandang punggung Dimas yang makin menjauh.

“Aku timpukin dia buat kamu?” tawar Nindy yang tiba-tiba ada di sampingku. Aku heran.

“Tanpa penjelasan juga aku sudah ngerti dan liat sendiri kelakuannya ke kamu barusan…”buru-buru Nindy menjelaskan.

“Aku murni cuma mau nanya, kok. Kami kan memang sekelas!” teman-temanku itu balik menatapku kesal.

“Iya…iya…sodara-sodara….rekan-rekan seperjuanganku tersayang. Aku tidak akan ngajak dia ngomong atau sekedar bertanya tentang pelajaran kek, kuis kek, jadwal kuliah kek… I’ll take back my heart on him, soon. I promise…”

zrettt…ada sayatan yang tiba-tiba mengiris hati.

“Sudah sore nih. Aku pulang duluan ya?”kataku sambil menjejalkan diktat-diktat, catatan, dan breadboard ke dalam tas-ku yang cu’mala (kusam, dekil-makassar) dan menyampirkannya ke bahu.

“Mau nebeng, Ti? Sampai pintu satu?”tawar Nunung. Aku menggeleng.

“Sori, Ti. Aku mau jemput Ibu di kantornya. Jadi tidak bisa bonceng kamu. Tidak apa-apa, kan?” Nindy punya suara. Kali ini aku mengangguk sambil tersenyum tipis.

Aku terus melangkah mengambil arah berlawanan dengan kepergian Dimas tadi.

***

Di halte, sebuah pete’-pete’ 05 melintas. Aku naik dan duduk di sudut paling dalam karena ingin bersandar nyaman. Kukeluarkan note seperti biasanya. Aku memandang ke depan. Kuambil pulpen merah, ah bosan, maka kukeluarkan pulpen hijau dan menuliskan 033 tepat saat sebuah motor melintas.

God, Dimas! Itu Dimas!

***

Dug!!!

Argh… Innalillah… Untuk kesekian kalinya aku terantuk di pintu pete’-pete’. Salah sendiri! I’m in hurry, sih. Jadi ceritanya jam setengah delapan ini ada kuis PID alias Pengolah Isyarat Digital dan sekarang sudah pukul 06.45. Dengan estimasi lama perjalanan 45 menit, aku bisa-bisa telat!

Di sudut paling dalam aku bergegas duduk dan mengeluarkan diktat PID. Analog to Digital Converter…ehm…prinsipnya gimana,ya? Aku mendesah dan dalam hati mengutuki diri kenapa kemarin tidak mentoring di Maia sang juara kelas, eh, juara angkatan! Ya Allah, lindungilah Siti dalam kuis kali ini…Amiin…

Alih-alih belajar, aku memilih berdzikir, melamun, mengkhayal dan menenangkan diri. Ketika pandanganku tepat berada di bagian  depan pete’-pete’….

Aku! Aku! Aku! Dan dengan semangat juang ‘45 kukeluarkan note kecil yang sempat terlupa. Dengan tinta hitam (lagi males nukar-nukar pulpen) kutulis: 123

***

Kapan ya aku nulis 001? Atau 009? Atau 099?

***

Ccciiittttt!!!! Dugg!!!!

Pete’-pete’-ku mengerem mendadak hingga menimbulkan suara decit yang ekstrim dan penumpang pun sedikit terhempas dari tempat duduknya. Sambil menggenggam erat ujung tempat duduk, aku tak henti-hentinya beristighfar. Ngeri!! Si supir betul-betul ugal-ugalan! Aku memandang wajah para penumpang lain dan menangkap ekspresi ngeri, takut, dan ada juga yang berusaha tegar menghadapi episode di dalam pete’-pete’ ugal-ugalan ini!

Setelah beberapa saat berada dalam ketegangan penuh, para penumpang yang budiman akhirnya dapat bernapas lega. Bukan karena pete’-pete’ ini berhenti beroperasi untuk selama-lamanya atau kena tilang bapak polisi karena ugal-ugalan, tapi traffic jam! Jalan Urip Sumoharjo macet total. Entah kenapa. Mungkin karena semalam Makassar hujan teramat sangat lebat, hingga jalan tol banjir dan seluruh pengguna jalan tumpah ruah di sepanjang jalan A.P. Pettarani sampai Urip.Sumoharjo. Setengah senang, setengah menyesali macet, ku gumamkan Alhamdulillah…

10 menit…

15 menit…

20 menit…

Kalau tadi pete’-pete’ku berada tepat di depan Taman Makam Pahlawan, maka saat ini pete’-pete’ku tercinta sudah berada jauh di depan pasar tradisional Urip Sumoharjo. A-R-G-H. Mereka yang orang Makassar pasti tau kegelisahanku saat ini. Pete’-pete’ hanya bergeser sekitar 100 meter! Let me go home, please!

Karena bosan aku berniat membaca novel hasil culikan dari sekretariat himpunan. Ketika mencari, tanpa sengaja sesuatu yang tajam menusuk jariku dari dalam tas. My note!!! Hampir saja aku lupa…

Dengan tinta hijau aku menulis: 144, kemudian memandang si sopir lekat-lekat, mencoba menghapal wajahnya dan bersumpah tidak akan naik pete’-pete’ ini lagi…!

***

Tidak, bukan tiga digit seperti biasa. Ada kombinasi 2 huruf di depan dan di belakangnya. Plat mobil.

Menyusuri kanopi yang memayungi setiap antek (anak teknik) Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin membuat perasaan tenang dan damai merasuki hati, jiwa, dan pikiran. Perasaan seperti ini tentu saja akan memanifestasi semangat dalam menghadapi hari yang sepertinya akan teramat sangat padat dan sibuk.

Dan di sudut tempat parkir, sebuah mobil Kijang klasik tahun 1994 terparkir damai. DD 332 SC. Mobil ayah Dimas! Ayah si Dimas –sayangnya- adalah bapak Dekan Fakultas Teknik Nan Jaya. Eh, kebalik! Pak Dekan –sayangnya- punya anak lelaki kayak si Dimas! Berbeda dengan anaknya, Ayah Dimas jauh lebih ramah dan menyenangkan. Kayaknya…sih. Kesan tentang pak Dekan ini aku dapatkan saat beliau memberi sambutan di sebuah kegiatan beberapa waktu yang lalu.

Yah…melihat mobil itu jadi keingat si Dimas deh. Dimas sudah datang belum, ya? Sudah kerja pe-er belum ya? Sebentar ikut rapat tidak, ya?

Ih, aku apa-apan sih? Ngapain mikirin makhluk tidak jelas kayak Dimas? Mendingan memikirkan Cleaning Service yang misuh-misuh karena sepatuku meninggalkan jejak di lantai yang baru saja dipelnya. Duh, maaf ya… habisnya mau lewat mana?

***

“Dengan ucapan Alhamdulillahirobbil’alamin, rapat kali ini saya tutup. Wassalamu’alaykum Warahmatullohi Wabarokatuh…”kak Ipan mengakhiri rapat kali itu. Capek…! Pegelll…!

Sambil membereskan tas, aku menyisir ruang himpunan dan mencari sosok Dimas. Tapi sepertinya dia memang tidak datang kali ini. Maka dengan sedikit kecewa, kusampirkan tas di bahu, memasang sepatu dan bergegas pulang.

***

Hup!! I’m in pete’-pete’, now! Karena kelelahan, aku memilih duduk di ujung dalam agar dapat bersandar nyaman. Kusesap sisa teh kotak untuk mencegah dehidrasi sambil memandang ke luar melalui jendela. Memandang jauh menyusuri langit sore yang menawan, atau sesekali menghirup udara sore yang segar dan merasakan belaian hembusan angin sepoi-sepoi. Duh, nikmatnya! Alhamdulillah…

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kukeluarkan note kecil dan dengan  penasaran aku memandang kaca depan pete’-pete’  dan tiga digit: 033…

Dimas! Itu Dimas!!

Hari ini aku naik pete’-pete’ dengan nomer lambung persis tiga digit terakhir NIM-nya.

Oh Tuhan, aku benci sore ini karena wajahnya terlukis walau samar dalam mega yang memesona.

[pete’-pete’, juni 2008]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s