harihariku · Setangkup Roti Cokelat

‘Menunggu’ Taksi

sumber gambar

Sore itu saya, mama, dan mbak saya yang nomer dua akan pergi ke Karebosi Link. Dari rumah saya sudah memesan taksi dan meminta si taksi menjemput di pinggir jalan Baji Gau, depan Al*amart.

Sebotol minuman jeruk berbulir hampir habis, tapi si taksi belum muncul-muncul juga. Sudah sekitar 15 menit. Simbak saya mulai gelisah. Mama tidak berkomentar. Saya? Masih dengan tenang setia menunggu, seperti biasa.

Tidak lama kemudian dari kejauhan sebuah taksi kosong menuju ke arah kami.

“Itu, ada taksi! Tahan! Tahan!” Simbak saya berseru.

Saya mendelik. Itu bukan taksi yang kami pesan. Saya lalu menggeleng. Tidak, tidak boleh seperti itu.

Mbak saya balik mendelik dan si taksi itu berhenti tepat di depan kami. Mama belum bertindak dan masing mengawasi kedua putrinya yang lucu-lucu ini.

“Itu taksinya berhenti.”kata mbak saya.

“Tapi kita tidak pesan taksi yang itu! Kita harus tetap menunggu.” Saya bertahan.

Mama menengahi dan melambai pada taksi yang sudah berhenti itu, menyuruhnya pergi. Simbak ber ‘yaelahh’, saya tersenyum menang.

Tik tok tik tok. Setengah jam lewat berapa yah? Saya malas menghitungnya. Pokoknya kaki saya sudah mulai pegal. *masi’mau*

Sepertinya saya tidak kuat menunggu lagi.

“Kenapa kita tidak naik pete-pete’ dari tadi?”saya tiba-tiba berkata. Kalau kami naik pete-pete, dari tadi sudah sampai!

“Tadinya mama mikir ongkosnya cuma beda lima ribu. Jadi mending naik taksi.”kata Mama.

Saya diam. Simbak diam. Saya juga diam.

“Oke, kita naik taksi yang lain saja. Taksi yang dipesan biar dibatalkan saja. Kan nanti tinggal ditelepon.”akhirnya saya mengambil keputusan.

Mungkin kalau tidak ikut pengajian kiri kanan dan membahas aneka kitab-kitab yang saya pun tidak mengerti, simbak saya itu akan mengambil sebongkah batu gunung lalu menimpuknya tepat di jidat saya seraya berkata, “Dari tadi keeekkk!!!!!”

Hahahaha. Untung juga di situ tidak ada batu gunung. :p

Akhirnya misi diganti. Jadi, kami akan menunggu taksi apapun yang lewat baik yang rasa ayam maupun yang rasa sapi. Emang r*yco! :p

Satu taksi, ada isinya. Dua taksi, tiga taksi, empat taksi, lima taksi, semua ada isinya. Saya lalu nyengir-nyengir kuda. Nyari taksi kosong kok susah benar?

Sebenarnya sih watu 20 menit pertama menunggu saya sempat menelpon operator taksi yang saya pesan tadi. Oleh mas operator, saya disuruh menunggu katanya. Tapi sampai sekarang? Mana? Mana? Mana? *pake echo*

Akhirnya saya tidak tahan lagi dan berseru.

“Sudah, kita ngepet sajalah!”

Mama heran. Ngepet?

“Eh, naik pete-pete, maksud saya.” Saya lupa tidak semua bahasa gaul Makassar yang mama kuasai. Jadi tadi saya beneran dikira mau jadi b*bi bersayap yang bisa terbang. Kan sekarang canggih. Ngepet pun multifungsi, bisa jadi sarana transportasi. #ngasal😀😀😀

“Ayoklah. Siapa tahu sambil jalan kita dapat taksi.”kata mama. Semua setuju.

Sambil berjalan sedikit menuju tempat pete-pete berhenti, sesekali kami bertiga menoleh penuh harap, siapa tahu si taksi yang kami nanti-nantikan sedari tadi datang dari kejauhan. Tapi tidak ada juga.

Sampai si tempat pemberhentian pete-pete pun kami masih melihat-lihat siapa tahu ada taksi kosong yang lewat. Tapi tidak ada juga. Hingga akhirnya kami naik sebuah pete-pete B jurusan Pasar Sentral yang akan membawa kami tepat di depan Karebosi Link.

Di perjalanan kami membicarakan adegan ‘menunggu’ yang cukup menyita waktu. Kami tertawa-tawa ketika menggantikan taksi dengan ‘lelaki’. Dasar wanita, pembicaraannya tidak pernah terlepas dari yang satu ini. Hihihihi.

Menunggu taksi ibarat menggu seorang kekasih hati yang berjanji akan datang pada suatu hari. Sang kekasih menunggu dengan sepenuh hati. Setia walau godaan lelaki lain datang silih berganti. Tetap setia menunggu walau yang datang terlihat lebih baik dan rapi.

Sayang sekali. Karena untuk beberapa kasus, ‘ucapan janji’ tidak selamanya ditepati. Seberapa lama pun sang kekasih menunggu, tapi pujaan hati tidak pernah datang dan membawanya pergi.

Jadi berhati-hatilah. Apalagi ketika di tengah-tengah penantian itu ada tawaran lain yang lebih baik. Mungkin ada baiknya kalau dalam penantian, kita memeriksa secara berkala apakah si dia memang masih layak ditunggu atau tidak.

Karena ini menyangkut masa depan kita. Tidak hanya ke diri kita sendiri tapi ujung-ujungnya ke keluarga kita juga.

Saya jadi teringat sebuah kisah lama. Ada sepasang kekasih. Mereka berpisah di ujung jembatan pada suatu hari. Si lelaki akan pergi merantau untuk nasib yang lebih baik.

Si lelaki meyakinkan kekasihnya agar menunggunya pulang. Ia pergi untuk kembali. Si gadis menangguk patuh. Ia akan setia menunggu.

Semenjak itu tiap hari si gadis menunggu di ujung jembatan. Tidak pernah alpa sehari pun si gadis menanti kekasih hatinya kembali pada suatu hari.

Hari berganti, bulan terlewati. Tahun-tahun yang baru datang dan pergi. Kini si gadis sudah tidak muda lagi. Rambutnya telah memutih, kecantikannya telah pergi, tapi kesetiannya tetap abadi.

Ia kini lebih pantas disapa si nenek. Si nenek yang tiap hari menunggu kekasih hati.

Pada suatu hari, dari ujung jembatan, si nenek melihat seorang yang sudah sepuh datang dari ujung jembatan yang satunya lagi. Langkahnya tidak setegap dulu lagi. Ketampanannya jelas dirampas zaman, tapi si gadis tahu, dia itu lelakinya, kekasih hatinya yang sudah lama dinanti-nantikan.

Senyum merekah di wajah si nenek. Dengan berseri-seri disambutnya laki-laki yang menawan hatinya sekian lama.

Makin dekat wajah lelaki itu makin jelas. Namun si nenek terkejut. Bayang-bayang yang ada di sekitar lelakinya itu bukan akibat penglihatannya yang buram. Semakin dekat semakin jelas. Sang kekasih tidak datang seorang diri. Ia bersama seorang perempuan tua, beberapa perempuan dan laki-laki dewasa,serta  serombongan anak-anak kecil dan remaja.

Si nenek menjadi layu hatinya. Sang kekasih datang bersama keluarganya. Laki-laki yang membuatnya menunggu sampai saat ini kembali ke kampung halaman bersama anak dan istrinya.

 

Makassar, 10 September 2012

sumber gambar

 

 

12 thoughts on “‘Menunggu’ Taksi

  1. Menyedihkannya kisahnya…T_T
    Kita tdk pernah tahu persis apa yg baik dan buruk untuk kita…
    Berdoa pada Allah adlh jalan trbaik.. Ketika taxi lain datang dan tak ada alasan syar’i unt menolak taxi ini… Yah… Mungkin itulah yg trbaik… Kita naik dgn bismillah..
    Smoga ikhlas hati…

  2. nah…itu dia… kan ceritanya saya sudah mesan… dan kalo sudah mesan itu artinya harus ditunggu…

    nah…itulah kenapa saya menunggu…
    tapi ternyata tidak datang2… hiks. hiks.

    dilema, Kanda Asmi, kan? hihihihi

  3. dilema banget….
    mungkin begini… pernah seorg kawan bercerita…
    kasi taxi yg pertama batas tenggang waktu/ deadline…
    kalau taxi nya menyanggupi namun ternyata ngga datang-datang… yah…
    hehe… sedih sih… yg diharap tdk datang…
    katanya bung rano karno”Dalam kehidupan selalu ada kisah yg tidak kita harapkan tp itulah kenyataan”
    siapa tahu taxi lain anugerah terindah untuk masa depan yg lebih pasti…. hihihi

  4. menunggu itu memang melelahkan…tp kalo sesuatu/seseorang itu memang layak ditunggu, kenapa tidak?asal yg ditunggu terpercaya bisa menepati janji
    Tp kalo menunggu untuk sesuatu yg tidak pasti itu adalah kebodohan, lebih baik mengambil kesempatan dan tawaran lain yg lebih pasti, karena boleh jadi yg kita tunggu jg tidak lebih baik…*pengalaman pribadi*
    Kalo urusan jodoh, Allah sudah ngatur semuanya…tinggal memantaskan diri untuk seseorang yg disiapkanNya ^^ *kok jd ceramah*

    Btw, template yg ini keren de’..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s