.::bisikan kalbu::. · harihariku

Tetes Darah Emon

gambar dari sini

Wow…wow…wow… Jangan kaget dulu dengan judulnya! Jangan dikira saya mau cerita soal adegan-adegan bunuh diri saking galaunya.😀😀😀

Ini adalah kejadian pekan lalu saat saya harus mendonorkan darah saya di PMI. Biasanya setelah donor darah orang jadi bahagia, kan? Iyalah, soalnya kan setelah donor kita akan diberi mie rebus pakai sawi, telor rebus, dan vitamin penambah darah. Ada juga sih susu cokelat hangat tapi karena saya tidak suka susu yang ‘dibuat sendiri’, yah, saya jauhkan saja item yang satu ini. Hihihihi

Tapi yang terjadi bukan bahagia. Saya malah kecewa berat.

Nah,  apakah yang terjadi saat saya mendonorkan darah saya, teman-teman? Check this out!😉

***

Saya menuju halte dengan cepat, sambil setengah berlari. Halte? Yah, sebenarnya sih halte itu adalah sebatang pohon di tepi jalan, yang sudah dianggap oleh sebagian besar anak teknik pengguna pete-pete (baca: angkot) sebagai sodara kandung, eh, tempat menunggu pete-pete!

Butuh satu jam perjalanan untuk sampai di tempat tujuan saya, PMI Lanto Dg. Pasewang. Itupun waktunya sudah dikorting karena teman saya mau menjemput pake motor di ujung Jalan Bawakaraeng. Ibu teman saya itu butuh darah segera.

Di dalam pete-pete saya baru sadar kalau saya belum makan siang. Saya sedikit panik. Ini nggak apa-apa, yah, kalau belum makan siang? Untungnya saya ingat di tas kumel ada sebungkus cha-cha cokelat susu. Jadilah saya menghabiskan perjalanan sambil menghabiskan si cha-cha juga. Lumayan…

***

Di PMI

Saya dan teman saya segera turun dari motor dan bergegas masuk di dalam ruangan. Rame juga, batin saya. Dan dengan penuh percaya diri saya langsung saja duduk di meja pemeriksaan.

“Kamu yakin berat badan kamu di atas 50?”tanya teman saya itu. Saya mikir sambil mengangguk ragu.

Di sebelah meja pemeriksaan ada timbangan berat badan, saya segera berdiri dan menimbang dan…

“47,5? 48?”saya kaget ketika jarum jam bergerak tidak stabil antara 47,5 dan 48. Saya kecewa sekali. Kurang dua kilogram.

“Tidak cukup, yah, Kak?”terdengar suara perempuan. Dia ternyata adik teman saya.

Saya sudah mau menangis sampai tiba-tiba teringat sesuatu.

“Bukannya standar berat badan itu 45kg, yah?”kata saya.

Adik teman saya itu lalu menjelaskan, yang dibutuhkan ibunya itu ada dua macam. Yang satu mewajibkan berat badan pendonor 50kg dan yang satu 45kg. Saya lalu bernapas lega walau masih sedikit kecewa. Setidaknya masih bisa berpartisipasi.

Pemeriksaan pun dimulai. Jari tengah kanan saya dilukai sedikit, tsahhh, dilukai! Iya, pokoknya diberdarahin lah! Terus diambil sedikit dan diteteskan ke dalam cairan bening yang tentu saja saya tidak tahu namanya.

Dan… tetesan darah saya itu…

darah saya itu…

mengapung….

(__  __”)

Saya pun layu. Perawat yang memeriksa saya itu menggeleng tegas. Huruf A besar di formulir saya dicoret besar-besar.

“HBnya rendah. Tidak bisa mendonor.”katanya kemudian.

Bibir saya spontan melengkung ke bawah. Mata saya berkaca-kaca. Oh iya, dan berkaca-mata juga. #iyalah #ditoyor

Hampir saja mata saya beranak sungai sampai akhirnya adik perempuan teman saya itu menepuk bahu saya.

“Tidak apa-apa, Kak. Lain kali dehh…”katanya lembut sambil tersenyum.

“Ternyata kamu kurus, yah?”kata teman saya mencoba menghibur.

“Sudah. Makasih, yah, sudah datang ke sini!”katanya lagi sambil nyengir.

Bukannya terhibur saya jadi makin frustrasi.

“Saya gemukin diri dulu yah, satu dua hari. Nanti panggil saya lagi.”kata saya kemudian.

Keduanya kompak mengangguk. Saya mencoba tersenyum ikhlas. Sungguh, baru kali ini saya kecewa berat karena tidak berbadan ‘gemuk’. Oh iya, lebih dari itu, juga menyesal karena tidak berbadan sehat hari itu.😦😦😦

***

Selepas kejadian itu saya lalu termotivasi untuk hidup sehat.  Saya lalu membeli beberapa milo kaleng (cuma ini produk susu yang saya minum selain susu ultra cokelat) dan berharap susu memang bisa menaikkan HB saya. Emang bisa, yah?

Ah, ya, dan setelah kejadian itu entah kenapa saya seperti tersugesti lapar terus. Sedikit-sedikit saya lapar dan karena itu sedikit-sedikit saya makan.😀😀😀

Yah, target naik dua kilo setengah, lah. Kegendutan kan juga tidak bagus.

Okelah kalau begitu, readers. Semoga besok-besok saya sudah bisa mendonorkan darah saya. Kalau donor yang lain ogah! :p

Doakan misi saya ini tercapai, yah!😀😀😀

 

Makassar, 3 September 2012

7 thoughts on “Tetes Darah Emon

  1. hahahha😀 mantapp misi nya kak..
    tapi kok kita kasusnya sama yah..heheh…
    dlu saya waktu dengan PD nya mau mendonor, malah berat badan ndag nyampe 45.
    44 ji kasian, itu pun paling berat mi itu.
    trus, saking maukuuu mendonor :’)
    ngototka juga tetap mau, walopun berat badan tidak memenuhi.. susternya paiyoi saja…
    eh, cek per cek pas cek HB, dustaaaakkk….-.-”
    RENDAH !
    ahhh…begitu sialnya saya waktu itu kak… 😦

    padahal mauku berbuat baik kasian :’)
    hiks..tapi apa daya tangan tak sampai…hhihih..

    hikmahnya :
    ada kebaikan lain diluar sana yang begitu banyak untuk kita lakukan selain donor darah, rite?

    1. waduhhh. kayaknya lebih nyesek cerita Kak Cahya deh…😀😀😀

      tapi masa’ kakak 44kg? seperti tidak percaya, ihhh…
      masih beratan eyke dongg? >_<

      nti kalo mau donor lagi, saya diajak, yah, Kak…!😀😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s