cerita pendek

Tania, Ada Satu Hal yang Membuat Kita Tidak Bisa Bersama

[Tania]

Hari ini hari yang kurencanakan akan berakhir bahagia walau sebenarnya aku gugup luar biasa. Sudah lima tahun kami memadu kasih. Sudah lima tahun dia mengantar-jemputku sampai di depan mulut gang. Ya, hanya sampai di depan mulut gang.

Tapi hari ini tidak hanya akan sampai di mulut gang. Dia akan melewatinya bersamaku, sampai di pagar rumah. Sampai di pagar rumah? Tidak, ia akan melewati pagar rumah dan mencapai pintu depan. Sampai di pintu depan? Tidak, ia akan masuk ke dalam rumah.

Ia akan masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan orangtuaku. Ya, dia ingin bertemu orang tuaku.

Biaktri, kamu tidak harus tampil cakep untuk hari ini. Tania mendesah pelan. Iya, gugup tapi ada satu hal yang membuat dia khawatir. Khawatir luar biasa.

Bagaimana tanggapan Biaktri nanti?

[Biaktri]

Ahh, sial. Aku sebenarnya tidak berniat mengumpat. Itu bukan kebiasaanku. Lagipula kehabisan rokok bukan sesuatu hal yang besar. Tapi bukan masalah rokok. Aku sedang gugup. Gugup sekali.

Sudah lima tahun aku bersama dia, Tania. Lima tahun yang penuh kesabaran. Hanya nonton bioskop, berburu kuliner jalanan yang murah, atau paling sering di menu gocengan andalan kami yang berlogo Kolonel Sanders. Itupun perginya beramai-ramai bersama teman-teman yang lain.

Fiuuhhh. Lima tahun yang penuh kesabaran. Hanya dapat mengantar dia sampai di depan mulut gang. Takut ditahu orangtuanya, katanya. Perempuanku itu memang lugu, polos. Perempuan biasa tapi mengikat hatiku luar biasa.

Dan hari ini adalah hari dimana kesabaranku sebagai seorang lelaki telah habis. Aku cinta padanya. Karena itu hari ini aku akan datang ke rumahnya dan bertemu dengan orangtuanya. Aku mungkin belum punya pekerjaan. Tapi persoalan cinta adalah persoalan penting. Ini tidak bisa ditunda lagi.

Ahh, sial. Aku harus membeli sebungkus rokok lagi.

[Tania]

Tidak ada persiapan khusus hari ini. Tadi malam pun aku hanya mengabarkan kepada abah dan emak perihal kedatangan Biaktri hari ini. Respon mereka pun senyum saja. Entah itu senyum apa. Akupun terlalu gugup untuk bisa menerjemahkan arti senyum mereka. Yang jelas mereka mengizinkan Biaktri datang. Itu sudah cukup menjadi jawaban.

[Biaktri]

Kata Tania aku tak harus tampil berlebihan. Tapi ini akan jadi momen bersejarah. Paling  tidak aku pakai kemeja, mandi wangi, mencukur janggut, dan tak lupa menyisir rambut. Tidak terlalu formal tapi tidak terlalu santai. Beres. Tinggal perlu menata tatapan mata dan intonasi bicara. Semoga sukses, Bi!

[Tania]

Setengah jam lagi Biaktri akan tiba. Aku semakin gugup. Sementara itu abah dan emak asyik di halaman belakang. Mereka sedang ngobrol ringan, tampaknya. Tapi aku tak bernafsu untuk mendengar pembicaraan mereka. Aku duduk saja di ruang tengah dan mengahadap ke jendela. Aku tidak tahu kalau sedari tadi bibiku memperhatikanku. Bibi dari ayahku yang tahu tentang pertemuan hari ini mengerti kegugupanku. Ia menggenggam tanganku lembut, memberi penguatan.

[Biaktri]

Huft, dua belokan lagi.

[Tania]

Duh, Gusti, lima menit lagi.

***

Sebuah rumah sederhana berpagar tua. Ting-tong. Ting-tong.

Tania yang setengah tidur tersentak demi mendengar suara bel. Ia bergegas menuju pintu depan tapi segera berbalik menuju halaman belakang.

“Bah, Emak, tuh udah datang tuh si Bikatri.”Tania setengah menjerit gugup.

***

“Assalamu’alaykum. Tan…”sapa Biaktri ketika Tania membukakan pintu. Tania mengangguk dan memersilakan Biaktri masuk. Biaktri balas mengangguk dan melangkah masuk.

“Duduk dulu, Bi. Aku panggil abah dan emak dulu.”

“Iya, Tan. Bilang gak usah buru-buru ke abah dan emak.”

***

[Biaktri]

Semoga lancar. Semoga lancar.

[Tania]

Ya, Allah. Tania takut banget, ya Allah…

***

Demi mendengar langkah beberapa orang mendekat, Biaktri menegapkan tubuhnya bersiap menyambut. Tirai lalu tersibak. Sambil menelan ludah Biaktri berdiri sopan.

Kemudian tampaklah berturut-turut. Tiana manggenggam tangan seorang lelaki paruh baya, abah. Lalu terlihat pinggang kemeja abah yang dipegang oleh tangan seorang perempuan yang juga paruh baya, emak. Lalu secara berturut-turut pula ketiganya duduk. Abah, lalu emak, lalu Tania yang sejak mendaratkan tubuhnya di kursi terus saja menunduk.

Biaktri tercengang dan tanpa sadar lupa mengatupkan mulutnya. Bahkan ketika kembali dudukpun wajah tak percaya masih tergaris dengan jelas. Tania tetap menunduk.

“Ehm. Nak Biaktri? Saya abahnya Tania. Ini di samping saya emaknya Tania.”kata abah sambil tersenyum hangat. Tatapannya mengarah lurus ke pundak Biaktri tapi tatapan itu kosong.

Tania mulai berani menangkat wajah melihat Biaktri. Yang dilihat menelan ludah.

Ya Allah, abah emak Tania, dua-duanya buta.

***

[Tania]

Sudah hari kelimabelas Biaktri terlihat aneh. Tidak pernah lagi mengajak keluar. Menelpon juga bisa dikatakan tak pernah. Sms dibalas lama-lama. Alasannya klasik, fokus skripsi. Tapi sepertinya itu terlalu berlebihan untuk sepasang kekasih. Terlalu asing. Aku merasa Biaktri sedang… sedang menghindar. Tapi kenapa? Alasannya apa?

[Biaktri]

Ahhhh… Sialan! Rokokku kenapa habis terus sih???

[Tania]

Tadi aku ke rumah bibi. Aku tak punya tempat untuk bicara tentang hal ini selain bibi. Aku bilang tentang Biaktri yang menjauh. Aku bilang kalau aku merasa ini ada hubungannya dengan keadaan abah dan emak yang buta sejak kecil. Di pangkuan bibi aku katakan semuanya. Aku tumpahkan semuanya.

Aku ingat ketika bibi mengelus punggungku sambil berkata, “Kalau hal duniawi bikin dia merasa kalian tidak bisa sama-sama, itu berarti dia tidak ikhlas. Sudah, Tan. Kalau dia benar-benar cinta sama kamu, ikhlas terima kamu, dia pasti kembali. Tapi kalau tidak, ikhlaskan saja. Dia terlalu pengecut untuk jadi pasangan hidup  kamu.”

[Biaktri]

Oke aku memang payah. Aku pengecut. Aku suka Tania, aku sayang dia. Tapi apa salah kalau aku sulit menerima calon mertuaku buta dua-duanya?

Aku harus bagaimana?

[Tania]

Satu alasan besar Biaktri. Cuma satu alasan yang buat semuanya tinggal kenangan. Apa itu adil?

***

“Baarokallahu laka wa baaroka ‘alaika wa jam’a bainakuma fii khair…”

Semua hadirin di tempat itu tampak khusuk. Sebagian mengangkat tangan. Sebagian menunduk dalam. Tania menitikkan air mata. Biaktri menghembuskan napas lega. Abah dan emak tersenyum haru. Ayah dan ibu Biaktri tampak berseri-seri. Semua hari itu merasa senang dan bahagia. Semoga keberkahan melimpahi mereka semua senantiasa. Aamiin. Aamiin ya Robbal’alamiiinnn.

19 Mei 2012

*based on true story

6 thoughts on “Tania, Ada Satu Hal yang Membuat Kita Tidak Bisa Bersama

    1. waduh… dipuji sama Mastah!
      ini juga masih banyak kekurangan… ^^
      saya harus banyak-banyak belajar sama Qt ini…

      oia, Insya Allah, I’ll keep on writing till the end, yeeahh!!! ^_^
      *dan bukannya nulis mood2an seperti selama ini, hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s