.::bisikan kalbu::. · harihariku · kampus · Setangkup Roti Cokelat

Kursi untuk Wanda

sumber gambar

Matahari yang biasa masih bersinar. Kira-kira pagi itu sudah pukul sepuluh ketika Wanda masuk ke dalam ruangan yang juga biasa itu.

Di dalam sebuah meja panjang terhampar dengan dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang tidak permanen. Jumlahnya melewati sepuluh buah. Saya juga tidak tahu pastinya berapa belas. Buat apa saya menghitung jumlah kursi di dalam ruangan itu?

Namun tiba-tiba tampaknya jumlah kursi menjadi penting ketika kita kembali dan melihat apa yang terjadi pada Wanda pagi itu…

Begitulah, kemudian. Wanda masuk dengan memberi  salam dan menyapa empat kawan yang sudah ada di dalam ruangan.

“Pagi, Wanda! Bagaimana pagimu hari ini?”

“Pagi, Niken. Pagi biasa saja.”jawab Wanda sekenanya sambil nyengir.

“Itu ada puding. Kalau mau ambil sekarang. Kamu tahu kan makanan di ruangan ini tidak pernah bertahan lama?”

Wanda melirik ke meja persis di sampingnya. Dua buah pyrex berisi puding cokelat. Wanda memang paling hobi cokelat. Karena itu tanpa malu-malu Wanda bergegas meletakkan tasnya dan mencari piring kecil untuk mengambil seiris, eh, tidak. Dua iris puding dengan fla menggunung.

Dengan puding di tangan Wanda kemudian ikut bergabung di antara teman-temannya itu. Di saat yang bersamaan pintu ruangan itu terbuka. Seorang teman lelaki Wanda masuk. Teman ini bisa dikatakan pemilik sah ruangan yang sedang mereka tempati.

Wanda menoleh sekilas, melihat siapa yang masuk. Ketika menyadari yang masuk bukanlah orang yang dia tunggu (dasar! :p), Wanda kembali memusatkan perhatian kepada puding cokelat yang ada di depannya.

Belum juga Wanda memasukkan suapan pertamanya, tiba-tiba teman lelaki itu berkata.

“Wanda, bisa tolong pindah ke kursi sebelah?”

“Ya? Maaf?” Wanda bertanya karena tidak yakin dengan pendengarannya.

“Tolong pindah ke kursi sebelah. Yang ada tasnya.”

Wanda melirik ke kursi yang dimaksud. Kursi itu penuh dengan tas-tas teman-teman mereka. Wanda lalu melirik ke tempatnya sekarang dan tiba-tiba merasa tersinggung.

Dengan mengangkat piring puding yang tidak jadi dimakannya Wanda berdiri. Tidak pindah ke kursi yang banyak tas-nya itu tapi justru mengambil tasnya sendiri dan bersiap-siap untuk keluar dari ruangan itu.

“Wanda, mau ke mana?”teman perempuan Wanda bertanya.

“Keluar. Saya ada urusan.”jawab Wanda datar.

Apa teman-teman mengerti ketersinggungan Wanda?

Di ruangan itu masih terlalu banyak kursi yang kosong untuk ditempati bahkan misalnya jika dua kakinya pun butuh kursi satu-satu. Sekalian kursi untuk jempolnya juga. Masih banyak!

Iya, Wanda tahu itu kursi yang biasa si lelaki tempati. Wanda tahu Wanda tidak punya hak terhadap ruangan itu. Tapi atas nama kesopanan terhadap perempuan, bisa tidak duduk di tempat lain dulu?

Atau paling tidak biarkan Wanda menyelesaikan pudingnya dulu lalu meminta kursinya kembali? Toh itu bukan ruangan Wanda dan Wanda juga akan keluar dari ruangan itu untuk keperluan yang lain!

Kenapa si lelaki itu bersikap sangat tidak simpatik? Tidak gentle! Sangat tidak laki-laki.

Huh. Buat sebagian ini mungkin persoalan sepele. Iya, benar. Tapi buat Wanda ini menjadi tidak sesepele itu karena di matanya si lelaki sudah melakukan kesalahan yang cukup besar.

Jadi saya mewakili Wanda menuliskan catatan ini semata-mata untuk bahan introspeksi diri bagi para lelaki yang tidak terlalu peduli akan pentingnya penghargaan terhadap perempuan. Atau mungkin sebaliknya, introspeksi untuk perempuan yang terlalu sensitif seperti Wanda. >_<

Dan.. bagaimana tanggapan teman-teman?

Makassar, 15 Februari 2012

8 thoughts on “Kursi untuk Wanda

  1. mungkin kedua-duanya sedang bad mood jadi menganggapi setiap sikap dengan responsif. mamie tidak paham, mungkin ada kisah yang melatarbelakangi mereka saling bersikap demikian. Terimakasih atas sharingnya ^^

  2. ummm… setelah saya tanya si Wanda, sih…
    kalo yang cowok memang seperti itulah kepribadiannya…
    kalo yang cewek, iya, si Wanda memang katanya lagi bad mood… hihihihihihi

    makasih sudah berkunjung, Mamie…😀😀😀
    *peluk

      1. hehehe…gitu yah, Bang..?

        kayak sinetron dong?
        konflik dibutuhkan untuk mendekatkan dua karakter…😀😀😀

        by the way, makasih yah Bang, udah mampir…😀😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s