.::bisikan kalbu::. · harihariku · kampus

eS-Teh : Pesanan yang Belum Datang

Dua Januari 2012. Sore itu adalah pertama kalinya saya menghubungkan si Moniq (leptop saya) dengan internet. Iyap, saya baru saja pulang dari bersemedi di sebuah kampung kecil, Marinding. Ini sebuah nama desa, sebenarnya. Marinding terletak di Bajo (ini kecamatan kalo ndak salah), Belopa, Palopo Selatan. Desa kecil asal Bapak dari Mama (bilang saja Kakek! ;))) saya yang kalau ke sana saya selalu teringat soundtrack Ninja Hatori. Mendaki gunung lewati lembaahhh…😀

Nanti sajalah saya ceritakan tentang Marinding. Soalnya itu bukan judul catatan saya kali ini!

Jadi, saudara-saudara, catatan ini akan bercerita tentang sepulangnya saya dari liburan tahun baru. Saat itu, umm, sudah ‘senja yang sangat sore’.

Sedang seriusnya saya membaca-baca aneka postingan di facebook, tiba-tiba ada bunyi ‘bip’. Notifikasi chat! Kaget saya. Iya, saya selalu kaget kalau ada chat masuk di facebook. Itu karena seingat saya, saya tidak pernah mengaktifkan chat di facebook.

Saya pun segera membuka kotak chat dan ternyataaa… itu dari salah seorang sahabat saya tersayang. Sudah lama saya tidak bertemu dia.

“Kenapa ndak liatka fotomu pake toga?” Ini kalimat bakunya à Kenapa aku tak melihat fotomu memakai toga? ^^

Woww! Saya kaget. Ini pertanyaan candaan, kah? Pertanyaan ‘menggoda’ seperti yang sering diucapkan teman-teman saya di kampus?

“Yahh, dia bertanya!”saya membalas.

“Kenapa? Ndak saya tahu apa-apa, kodong. Jauhka.” Umm, kalimat bakunya à Kenapa? Saya tidak tahu apa-apa. Saya jauh. *eh, kayaknya ini ndak perlu ditranslate dehh, hihihihi.

“Serius?”saya kembali bertanya.

“Iya, serius. Kenapa ko?”

Sekarang aku tersadar, cinta yang kutunggu tak kunjung datang. Eh, itu lirik lagu tuh! Hahaha.
*dijitak

Maksud saya tadi, sampai di sini saya akhirnya sadar kalau teman saya itu sungguh tidak tahu kalau saya belum sarjana. Maka saya pun menceritakan semuanya secara perlahan agar dia mengerti. Ini agar tidak ada dendam di antara kita. #eh😉

Lepas dari percakapan itu saya lalu tiba-tiba teringat tanggal 24 November 2011 lalu. Hari dimana partner TA saya menikah! *ditabok Nunung

Hahaha. Belum lah, belum nikah dia. 24 November lalu beliau diyudisium sebagai Sarjana Teknik. Kalau saya sih belum. Maklum, masih ada satu nilai saya yang bermasalah yang kelarnya ‘mesti’ sebulan kemudian.😀

Saya ingat pada saat sedang sibuk mengatur-atur penganan kecil di meja dosen penguji, saya bertemu Guru Kang. Beliau itu pembimbing satu saya. Sumpah, waku itu saya kalau bertemu beliau bawaannya mau meweeek terus (lebay). Nah, saya lalu memberikan tatapan, umm, bagaimana saya mendeskripsikannya ya? Pokoknya tatapan tegar bersenyum tapi berkaca-kaca. Saya memberikan tatapan yang bermakna, “Paaaaakkkkkk, tolong kuatkan saya.”

Dan apa respon beliau? Dengan niat bercanda tentu saja, beliau malah berkata, “Aihhh, apa jie!” sambil tersenyum jahil. Ini kalau ditranslatekan artinya à Aduhh, payah kamu!

GUBRAK!!! (_ _!)

Untung saja saya ingat Gusti Allah, ingat Mama, ingat Papa, ingat Sodara-sodara, dan ingat kucing saya di rumah. Kalau tidak saya sudah berlari ke koridor lantai tiga dan terjun bebas ke lantai satu. #gaya

Dan ternyata cobaan hati tidak sampai di situ saja. Setelahnya di koridor saya bertemu pembimbing dua saya. Seorang ibu dosen yang amat sangat baik hati. Namanya Ibu Novy. Nah, saat berpapasan spontan beliau berkata, “Aduh, Mirna, kenapa kamu tidak ikut ujian sarjana?”kata beliau.

Ughh! Napas saya tercekat, mata saya memicing, bibir sedikit dinaikkan setengah senti agar ada kesan senyum di wajah saya. Dan di saat itu saya cuma bisa mengeluarkan suara perpaduan mengerang dan merengek.

“Buuuuuuuu….”saya sudah hampir menubruk tubuh Bu Novy lalu memeluknya dan melepaskan segala sesak yang tak tertahankan. (_ _!)

“Kenapa kamu kayak stress sekali?”kata beliau sambil tersenyum lembut penuh muatan ketenangan. Sampai di sini saya hanya bisa memberikan senyum penuh arti yang hanya bisa diterjemahkan oleh hati-hati yang bening dan suci.

Umm, kalau hatinya ibu sih mungkin. Lah hati saya? Hihihihihi

Lalu kemudian apakah hanya kerikil-kerikil tajamnya sudah habis? Belum lah. Setelah ujian sarjana Nunung selesai, di koridor saya bertemu salah seorang penguji saya, Bu Merna. Saya pikir tidak ada sapaan bagaimana begitu dari beliau. Namun takdir berkata lain.

“Mirna, astaga, kamu kenapa belum ujian sarjana?”tanya beliau. Glek. (_ _!)

“Hehehe. Lagi nunggu satu nilai lagi, Bu. Keluarnya sebulan lagi.”jawabku penuh ketegaran. Si ibu mengangguk dan melanjutkan perjalanannya. Namun baru sekitar dua langkah saya lalu berbalik dan mengeluarkan erangan hampir sama dengan yang saya keluarkan untuk ibu Novy.

“Buuuuu… Doakan saya, Bu… “

Demi mendengar seruan saya, Ibu Merna juga berbalik, tersenyum dan berkata, “Iya. Sukses yah!”

Saya pun membalas dengan senyum juga. Kami pun saling berlalu. Dan saya pun merasa tidak sanggup mengedipkan mata. Saya tidak bawa tisu saat itu.😀

Dan kemudian…

Ah, sudah, ah. Cerita saya cuma itu, kok. Cerita bagaimana saya dan dosen-dosen saya di tanggal 24 itu. Tidak perlu saya ceritakan bagaimana adik-adik junior saya menyelamati saya hari itu dan bertanya kenapa pakaian saya simpel sekali untuk ‘ujian sarjana’. Hahahaha. Mereka itu berprasangka baik. Saya anggap saja doa. Iya, kan?😀😀😀

Termasuk chattingan dengan teman yang saya sebutkan di awal tulisan tadi. Semuanya saya anggap doa. Semuanya saya terjemahkan sebagai kiriman semangat yang tak pernah padam.

Saya mungkin agak terhambat di sini. Langkah saya harus berhenti sejenak di titik yang tidak terduga ini. Namun saya harap ini agar langkah saya berikutnya lebih cepat dan gesit. Semoga. Aamiin, aamiin, ya Robbal ‘alamiin….

Whuaaa…. Dan bagaimana perkembangan saya sekarang???

Yep, berkas ujian sarjana saya sudahada di rektorat. Itu kata Bu Hera tadi siang di kampus. Artinya besok saya masih harus ke kampus dan mengecek apakah ada nilai bermasalah atau tidak. Kemudian menyalin daftar nilai yang bermasalah itu dari jurusan dan menyerahkannya ke Pak Her. Setelah itu apa lagi yah? Tunggu surat pengantar dari rektor, ya? Atau tunggu SK ujian? Ahh, saya lupa. Besok sajalah saya tanyakan ke Pak Her atau Bu Her. Nanti kalau sudah ketemu jawabannya, bakalan saya posting kok! Hihihihihi

#PENTING

Baiklah kalau begitu. Sekian curcolan terlambat saya malam ini. Perlu sedikit keberanian hati menuliskan dan mempublikasikan cerita ini. Semoga tidak ada yang tersinggung, terutama partner tercinta saya. Sungguh, ini hanya sekedar seru-seruan dan untuk mengikat memori saya tentang hari bersejarah itu.

Oke? Oke?

See yaaa….. !😀😀😀

Diselesaikan 17 Januari 2012

*semoga pesanan ST saya ke Gusti Allah segera datang… Aaamiiinn… ^_^

19 thoughts on “eS-Teh : Pesanan yang Belum Datang

  1. Hihihi .. nama ibu2 dan bapak yang disebutkan tadi saya kenal semua. #Bersyukur saya masih dipanggil kakak, hai ibu2 dan bapak dosen, saya sekarang lebih muda dari kalian ^__^#

    Bonelemo, Tumbubarak, dan Kadong2 berbatasan dengan Marinding di’?

    Oya, mampir ki ke link-ku ini:

    http://mugniarm.blogspot.com/2012/01/award-versatile-for-amazing-bloggers.html

    Ada award yang mau saya sampaikan. Saya berharap Mirna sudi menerimanya.

    Terimakasih sebelumnya dan sesudahnya #yakin bakal dapat kunjungan balik#

  2. Oya … ntar kalo sudah selesai, pertanyaan orang berubah Mirna: “Sudah kerja?”
    Dirimu akan ‘masak’ ditanyai hal ini sampai dirimu dapat pekerjaan. Lalu setelah itu: “Kapan nikah?” nah, ini pun akan membuat dirimu ‘masak; sampai dirimu menikah. Lalu ada lagi, “Sudah hamil?” .. itu pun sampai dirimu ‘masak’. Kemudian kalo si kakak belum punya adik ditanya lagi, “Koq belum ada adeknya?”

    Menghadapi pertanyaan2 kalo nda tegar, bisa ‘masak’ Mirna

    #Silakan mengartikan sendiri makna kata ‘masak’ ^__^#
    Good luck.

    Semoga cepat ujian biar cepat muncul pertanyaan berikut #loh?#

    ^__^

  3. Judulnya keren, tulisannya lucu plus syahdu. Fakta tak terbantahkan dari postingan ini adalah; Mamamirna terkenal di kalangan dosen, berarti termasuk mahasiswa yg ‘diperhitungkan’ dong yaaah… Cie…

    Tenang Ma, tidak peduli siapa yang duluan sarjana, yang penting siapa yang duluan dapat kerja
    Tidak peduli siapa yang duluan menikah, yang penting siapa yang duluan punya anak. *lho? #terbawasuasana #OOT :p

  4. weewww.. ndak begitu jie, hon…

    bukan ka terkenal. lah wong mereka itu pembimbing dan pengujiku…
    nassami dikenal… hihihihihih

    Dien… dumba2 ka kawwe… sendiri ka belah ujian…. >_<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s