harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Edisi Narsis : Ketika Emon Batuk

…Emon tadinya mau membangkang seperti merebut botol minyak tawon, meminumnya habis lalu mengunyah botolnya sambil berkata, “Biar aku mati saja kalau tidak bisa sarjana bulan Desember!”

 

Uhuk! Uhuk!

Begitulah bunyinya kalau Emon sedang batuk-batuk. Sebuah bunyi batuk yang normal dan wajar. Hmm… kalau yang tidak wajar itu seperti ‘huatchi!’ atau ‘ihik-ihik’ atau yang paling aneh adalah ‘hiks-hiks’. Yang terakhir itu adalah bunyi kalau sedang galau. #crunchy

Lah, terus memangnya kenapa kalau batuk? Toh batuk itu wajar, sewajar demam atau pilek. Bukan hal hebat seperti terkena wabah campak atau diare akut. Ini juga bukan kasus tsunami. Jelas, kalau cuma batuk mah, tidak akan lolos masuk dalam daftar peduli kasih.

Tapi bukan Emon namanya kalau tidak lebay, hal kecil jadi gede.😀

Seperti beberapa hari ini. Setelah sukses bedrest selama satu pekan karena mengidap penyakit seperti serupa semacam Hepatitis A, kini pada pekan kedua pemulihannya si Emon malah batuk-batuk.

Yah, bagi sebagian orang ini hal biasa. Apalagi suhu dan cuaca kota Makassar saat ini begitu misterius dan sulit ditebak, baik itu menggunakan metode ANFIS, Wavelet, Fuzzy, Neural Network, maupun ARIMA. Hihihihi

Saya serius, lah wong skripsi saya itu tentang ‘meramal’ curah hujan dengan salah satu metode di atas! :p

Oke, lanjut ke cerita. Nah, kan tadi ceritanya si Emon tiba-tiba kena batuk. Kalau Emon yang batuk, yang khawatir malah mimi dan pipi, eh, mama dan papa si Emon! >_<

Yah, entah mereka punya pengalaman buruk atau trauma apa tentang batuk. Pokoknya kalau anak bungsu mereka yang cantik jelita ini batuk, mereka sepertinya langsung memasang status SIAGA!

Misalnya saja seperti tadi sore. Emon baru pulang dari mengerjakan skripsi di rumah Uchi. Emon masuk rumah, memberi salam, dan batuk-batuk. Dan demi mendengar suara batuk-batuk, mama Emon langsung teriak dari halaman belakang, “kenapa batuk-batuk terus?”. Si Emon cuma terkikik dan membalas agak teriak, “Keselek, Mam!”, dan langsung masuk ke dalam kamar dan ganti baju.

Selepas maghrib, Emon yang memang merasa agak demam memilih baring-baring manja, eh, malas! Hihihihi. Dan tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan, mama Emon kemudian masuk ke dalam kamar Emon dan duduk di pinggir tempat tidur.

“Ayo, sini Mama balur pakai minyak tawon.”

“Ieehh, Mama, gerah!”si Emon menolak sambil merajuk.

“Sedikit saja. Papa yang suruh. Katanya Sisi masuk angin karena tadi seharian di luar rumah. Itu buktinya batuk-batuk terus.”kata mama si Emon. Sisi itu panggilan Emon kalau di rumah.

Emon tadinya mau membangkang seperti merebut botol minyak tawon, meminumnya habis lalu mengunyah botolnya sambil berkata, “Biar aku mati saja kalau tidak bisa sarjana bulan Desember!”

Hihihihi. Ya, ndak lah. Si Emon sih manut saja mau dibalur pakai minyak tawon. Daripada benjol? :p

Maka sukseslah Emon dibalur pakai minyak tawon. Anget, euy! Apalagi pake kelembutan tangan Mama. Ditambah lagi hujan kemudian turun. Ckckck. Waktu yang enak untuk tidur.

Di akhir sesi pembaluran Mama kemudian berkata, “Badanmu anget, Nak. Tidur saja dulu.”

Yeaahhh…! Asyik-asyik! ^__^b

***

Ada lagi kisah lain yang berhubungan dengan batuk-batuk.

Waktu itu, umm, saya sudah lupa kapan kejadiannya. Pokoknya waktu itu Emon juga sedang batuk-batuk dan Emon juga sedang berpuasa membayar hutang puasa Ramadhannya tahun lalu.

Semula semua berjalan lancar. Tapi semua berubah ketika negara api menyerang. Hehehe. Garing lagi deh! Yah, pokoknya semua berjalan mulus sampai ketika si Emon batuk-batuk. Dan sepertinya batuk-batuknya si Emon terdengar hingga ke kamar seberang, kamar mama dan papa Emon. Apa yang terjadi kemudian?

“Sisi.”mama Emon tiba-tiba masuk ke dalam kamar Emon.

“Iya, Mama?”

“Sisi puasa?”

“Iya”

“Papa bilang batalkan saja puasanya.”

“Loh, kenapa, Mam?”

“Tadi katanya Papa dengar Sisi batuk-batuk”

Gubrak! Emon kaget. Masa’ gara-gara batuk saja disuruh buka puasa? Emon waktu itu cuma terkikik dan berkata. “Ini cuma keselek, Mam.”

Mama Emon mendelik tidak percaya. Emon terkikik lagi.

***

Yah, itu adalah dua contoh kisah betapa ‘batuk-batuk’ di rumah Emon adalah sesuatu yang cukup mengkhawatirkan dan perlu penanganan serius. Hihihihi.

Mungkin karena anak-anak mama dan papa Emon memang rentan dengan ‘batuk-batuk’. Karena ini pulalah di keluarga kecil ini ada peraturan seperti ‘tidak boleh minum es banyak-banyak’, atau kalau keluar malam mesti pakai jaket (biasa, ya? :D), atau mandi malam mesti pake air anget. Yah , sebangsa itulah.

Tapi toh tidak masalah. Mungkin terkesan agak ‘manja’. Tapi benar-benar tidak masalah, kok. Toh itu karena mama dan papa sayang anak-anaknya.😀

Ini cerita batuk Emon. Apa ceritamu?

Makassar, 31 Oktober 2011

16 thoughts on “Edisi Narsis : Ketika Emon Batuk

  1. daripada benjol ???
    wuahahahahaha

    note-nya biasa, sederhana, tapi bikin mau baca terus.😀
    mungkin gaya bertuturnya yg asik .. :p

    salam kenal aj dh u kunjungan pertama …

      1. Ya ampuunn, Kaka Cheng… bongkar mki pale ini blog-ku… hehehe
        #ngarep

        banyak jie yang lucu2…yang mengharukan juga… ^_^

        ka blog curhat2 ji ini kesian.. beda sama blog ta’…
        blog ta’ mateng mi… sudah dewasa… hihihihi

    1. hehehehe… boleh, tapi habis itu langsung minum air anget…
      tapi kalo ndak ada mama sihh..yahh…
      sedot sajaaaa… *kenakalan anak muda*
      hehehehe

      makasih, ‘asyik’nya, Kak….😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s