my stuff · novelet

KUNCEN – Prolog

Miaww!!!!

Dua ekor kucing hitam berkejaran. Gaduh. Beberapa pengendara sepeda melirik sekilas dan berpikir, paling-paling kucing mau kawin!

Gruduk..gruduk!!! Gubrak!!! Miawww!!!!

Keduanya kali ini menabrak dan menjatuhkan barang dagangan seorang pemilik warung kaki `lima yang sedang beres-beres ingin pulang. Merasa kesal karena tak dapat menuntut, ibu penjaga warung itu hanya bisa mengelus dada.

Sementara itu, kedua kucing yang jantan dan betina itu masih terus berkejaran melewati pagar-pagar tembok, melompati selokan, nyaris menabrak sepeda yang melintas dan tanpa mereka sadari mereka makin dekat dengan sebuah gerbang besar bergaya arsitektur Eropa klasik. Pada gerbang itu terpahat nama Kuncen dengan tinta berwarna emas.

Tepat di depan gerbang itu, seorang gadis kecil berkepang dua menjerit kaget karena kucing-kucing tidak sopan tadi nyaris menabraknya.

Dug!!!

Whuaaa!!!!

Gadis kecil itu kini menangis keras karena permen lollipop yang digenggamnya erat terjatuh karena terkejut.

Air mata. Segenap elemen bumi sepertinya sedang mengalunkan nada-nada kepedihan.

Dan tak begitu jauh dari gerbang itu. Di dalam area pemakaman, kucing-kucing tadi masih berkejaran tak terkendali.

Dug!!

Kali ini ditabraknya sebuah sepatu sebelah kiri milik seorang pria yang sedang duduk mematung di samping sebuah batu nisan. Berbeda dengan gadis kecil tadi, pria ini menunjukkan reaksi yang berbeda. Hanya mendelik sekilas lalu kembali menerawang dan kemudian menghisap cerutunya dalam-dalam. Asap mengepul perlahan dan berat, terlihat guratan sedih di dahinya. Whusss…. Seolah ikut pula segala resah dan sesak tak tertahankan yang sedang dirasakannya. Dan ada bau air mata. Cuma bau…

Hanya dua meter dari pria yang duduk di batu nisan, berdiri seorang lelaki berbadan tegap menghadap lurus ke hadapan sebuah nisan yang catnya bahkan belum kering benar dan sedikit luntur karena hujan siang tadi. Ekspresi wajah yang kabur tercermin bagaikan siluet buram mentari yang perlahan kembali ke peraduan. Tapi dari gerakan dadanya yang kembang kempis mengisyaratkan suasana hatinya yang tidak menentu. Juga berbau air mata. Juga cuma bau…

“…I’ll comeback when you call me/no need to say goodbye// I’ll comeback when it’s over/no need to say goodbye//…”senandung yang lirih, tetap syahdu walau getaran tak dapat menyembunyikan isak yang coba ditahan oleh satu-satunya perempuan di tempat itu.

“…would u comeback for us, dear?”kembali perempuan itu bersuara lirih. Air mata kini mulai menggenangi matanya. Dan alih-alih membiarkan air matanya menganak sungai, ia mencoba bertahan dengan menengadahkan wajahnya ke langit, tepat di saat bunga kamboja terakhir di atas kepalanya gugur…

“…my little teruterubozhu… I’m gonna miss you, dear…”masih suara lirih milik perempuan itu.

Si lelaki berbadan tegap, mendekati si perempuan dan ikut berlutut di sisi makam yang masih baru itu.

“…bukan cuma dia, dear. …”ucap si lelaki berbadan tegap pelan sambil memegang bahu si perempuan yang tampaknya masih terisak.

“Kita semua bakal kangen sama kamu.”lanjutnya lagi.

“DUNIA AKAN MERINDUKANMU, DEAR!!! AKAN MERINDUKANMU!!!!” teriak lelaki yang duduk di samping nisan tiba-tiba. Masih dalam posisi yang sama. Wajahnya menantang langit sore yang keemasan. Tadinya ia masih ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun ia lalu terpaku menatap bentangan langit yang menyemburat jingga di hadapannya.

Suasana ini. Langit sore seperti ini. Angin dingin yang menusuk masuk ke pori-pori. Bau basah dan bau tanah yang menyeruak begitu saja. Begitu juga dengan pohon kamboja yang saat ini telah ranggas. Semuanya sama. Persis…

Si lelaki berbadan tegap dan si perempuan bangkit, berdiri tegak, dan kemudian ikut menyadari apa yang baru saja kawan mereka sadari.

Betul.

Benar.

Tidak salah lagi.

Semuanya sama…

***

Lima tahun yang lalu.

Masih tampak sisa-sisa keringat di dahi penjaga makam itu. Jas hitamnya tampak sedikit kusut dan posisinya mencong-mencong. Tapi ia tidak peduli. Baginya kesempurnaan prosesi pemakaman kali ini harus terwujud. Beruntung bagi Bambang, penjaga makam itu, karena sejauh ini prosesi berjalan lancar.

“Marilah saat ini jenazah almarhum Ananda Abimanyu ini kita serahkan kepada tanah. Kita ini lahir seolah-olah pada hari kemarin dan seorang pun dari kita tidak tahu kapan kesudahannya segala hari-hari kita di atas bumi seperti bayang-bayang saja. Hanya Firman Tuhan yang kekal….”

Peti Abimanyu mulai diturunkan. Pastur melanjutkan lagi hingga prosesi pemakaman selesai.

“ Amin…”seluruh pelayat mengamini doa yang dibawakan oleh sang pastur dengan syahdu.

Whuss…. Hembusan angin, pelan tapi terasa begitu menusuk, seolah-olah isyarat naiknya jiwa seorang manusia ke surga.

Tanpa seorang pun yang mengomandoi, pelayat kompak mematung. Terpaku di sekeliling nisan yang masih bau cat itu. Sebuah pigura diletakkan di hadapannya. Terpasang foto seorang pria berusia 28 tahun. Parasnya biasa-biasa saja. Standar, malah. Namun kharismanya tampak jelas dan begitu kuat menggenggam jiwa siapa saja yang menatapnya –bahkan di dalam foto-.

Tepat di sisi kanan makam itu berdiri tegak Imas. Arimas Ayuningtyas. Adik kandung Abimanyu, pria yang kini berada dalam peristirahatannya yang terakhir.

Tatapannya tertuju pada foto kakak lelaki satu-satunya itu. Begitu dingin, tajam dan dalam. Tak sedikitpun tanda-tanda bahwa ia telah, sedang, atau akan menangis. Imas benar-benar tampak terlalu tabah di hari pemakaman kakaknya itu.

Tapi kemudian, Imas menghela napasnya. Tatapannya kini berpindah pada langit sore yang keemasan. Ia menerawang jauh…jauh… melewati langit, menembus lapisan ozon, tidak menghiraukan gemintang yang berseliweran di kanan-kirinya dan kemudian sampailah pada pintu surga. Di sana Imas melihat Abimanyu tengah tersenyum sambil melambai pelan. Pelan sekali…

Tak seorang pun yang memperhatikan ekspresi Imas siang itu. Kecuali seorang perempuan yang memakai gaun hitam selutut di sisi tenda yang sedari tadi memotret seluruh rangkaian prosesi pemakaman.

Anda. Satrya Nanda. Freelancer yang terobsesi pada sosok Abimanyu. Abimanyu sendiri adalah seorang eksekutif muda yang meraih puncak keemasaanya terlalu cepat. Dan ini yang menarik bagi Anda. Menurutnya ada sesuatu di balik kesuksesan Abimanyu yang tidak terjamah publik.

Dan ekspresi Imas saat itu menjadi begitu menarik bagi Anda. Kok Imas kelihatan biasa-biasa aja? Apa dia nggak sedih kakak satu-satunya meninggal? Hm…pasti cocok nih buat berita aku. Siapa tahu dia begitu karena senang si Abi akhirnya ninggalin dunia hitamnya…. Sebuah pemikiran baru melintas di wajahnya.

Tanpa Imas sadari, sosoknya sedari tadi dijelajahi mata kamera Anda. Bunyi ‘klik’ pelan terus saja terdengar. ‘klik’, Imas satu badan. ‘klik’, Imas close-up dImas samping. ‘klik’ wajah Imas full…

Hm..tatapan jenis apa, itu? Anda membatin saat memotret wajah Imas. Ia kemudian berhenti memotret dan memilih melihat lewat matanya sendiri. Sebagai sesama perempuan Anda yakin bisa tahu perasaan Imas.

Damn! Tatapan apa, itu? Ekspresi macam apa, itu? kembali Anda membatin ngeri saat gagal mengetahui apa yang dirasakan Imas.

Hatinya masih bertanya-tanya, tapi senggolan halus mengembalikannya ke dunia nyata. Para pelayat sudah mulai pulang. Anda tahu ia juga harus meninggalkan area pemakaman itu. Sudah cukup baginya untuk hari ini. Toh, penyelidikan selanjutnya bisa ia teruskan besok.

Dengan langkah pelan Anda menyusuri area pemakaman dan mencari Starlet klasiknya di parkiran. Trekk. Pintu mobil Anda dibuka pelan. Sebelum masuk, Anda menoleh dan sekali lagi menatap sosok Imas yang kini sendirian tapi masih berdiri dalam posisi yang sama. Fiuh…Anda menghela napas dan masuk ke dalam mobil.

Alih-alih menyalakan mobilnya, Anda memilih memandangi kepadatan area parkir pemakaman. Ini terjadi –jelas- karena para pelayat ingin pulang dalam waktu yang sama.

Macet kok di kuburan? Anda membatin sambil terkekeh. Ia lalu mengambil smartphone dari tasnya, kemudian membalas beberapa sms masuk yang dari tadi belum ia baca.

10 menit… masih macet…

Mulai gelisah tapi tak juga menyalakan mesin mobilnya. Anda tidak mau menjadi korban kemacetan yang tidak elit ini. Dan akhirnya ia cuma bisa pasrah.

Trekk…. Brukk!!! Suara pintu mobilnya terbuka dan tertutup sama cepatnya. Anda tersentak.

“Whua!!!”seperti pintu mobil tadi, Anda berteriak kaget dengan begitu cepat.

Objek penyebab teriakannya pun tak kalah kaget. Seorang lelaki, memakai topi dan berjaket kulit hitam yang entah kenapa dan dengan alasan apa tahu-tahu sudah ada di jok belakang mobilnya. Ia juga tampak sangat terkejut dengan reaksi perempuan di hadapannya itu. Wajah mereka berdua sama kaget dan pucatnya.

“Psst… please, jangan teriak. Saya orang baik-baik kok…!!!”seru si lelaki sambil membekap mulut Anda. Bukannya menjadi tenang, Anda malah menjadi berontak.

“Hmpphh…..hmpphhhh….!!!!”berusaha Anda melepaskan diri dari bekapan lelaki berkaca mata itu.

“Iya..iya…oke… aku lepasin tangan aku, tapi kamu janji tidak histeris, oke?”

Anda lalu mengangguk. Si lelaki kemudian melepaskan tangannya.

“WHUAAA!!!!!! TOLOOONNGGGG!!!!!!” bukannya menepati janji, teriakan Anda makin tak terkendali.

Merasa pasrah dan putus asa, lelaki itu hanya menghempaskan diri dan mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan bersandar.

Sudah ingin menabok si lelaki dengan Nikon D90-nya tapi demi melihat posisi pasrah si lelaki tak urung Anda menurunkan kameranya pelan dan menatap si lelaki dengan tatapan sangar dan berbahaya.

“Kamu mau apa, heh? Sopan sekali kamu masuk ke mobil orang sembarangan? Kamu penjahat kan?”Anda memberondongkan pertanyaan sambil menatap garang si lelaki.

“Aku Sandy.”si lelaki memperkenalkan dirinya.

“Aku nggak tanya nama kamu!!!!”hardik Anda.

“iya…iya…maaf… aku nggak sengaja, eh, aku nggak punya pilihan lain selain masuk ke mobil Mbak ini…” Sandy – si lelaki- berusaha menjawab dengan tenang. Anda hanya mendelik sambil menunggu Sandy melanjutkan penjelasannya.

“Aku bukan penjahat. Serius. Aku orang baik-baik. Ayah aku ustadz di Malang dan ibu aku guru di madrasah aliyah.

“Cerita kamu makin ngawur…”Anda makin mendelik.

“Tadi itu aku dikejar preman pasar sebelah. Aku sih sebenarnya bisa karate, tapi mereka ada 4 orang lagi mabuk dan bawa senjata tajam pula. Kayaknya cuma cari mati kalau nekat lawan mereka…” Sandy menjelaskan panjang lebar, memasang mimik seserius tapi senatural mungkin, agar Anda yakin dengan apa yang dikatakannya.

“Hm…aku nggak bener-bener yakin…”masih tetap mendelik, namun nada bicara Anda mulai melunak.

“Serius, Mbak. Aku cuma mau kabur dari mereka. Dan kalau boleh, aku mau numpang sampai halte bis di depan. Kalo di daerah sana mereka nggak berani, Mbak!”

Melihat ekspresi memohon Sandy yang lebih mirip Puss di film Shrek membuat Anda tersenyum geli. Ia tahu terlalu dini percaya pada lelaki yang mengaku bernama Sandy itu. Tapi sesuatu di dalam hati kecilnya percaya. Kayaknya dia memang bukan orang jahat, deh…

“Oke. Tapi kamu pindah ke samping aku, gih! Kalo di belakang kamu kan bisa ngapa-ngapain aku…”

“Waduh, Mbak, matur nuwun…!! Iya…iya…tapi aku lihat dulu ya, Mbak? Itu loh, preman-preman yang tadi ngejar aku. Udah pergi belum…”Sandy mengangguk sumringah.

***
bersambung

6 thoughts on “KUNCEN – Prolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s