Uncategorized

Kemeja Putih

Pagi ini kau datang seperti biasa. Tepat pukul tujuh  pagi sambil menenteng sekotak bubur ayam  dan koran pagi. Kau memencet bel dengan ujung telunjukmu yang sedang bebas.

“Begadang lagi?”katamu selepas mengucap salam. Aku hanya tersenyum simpul dan mengambil cangkir kosong, membuat teh manis untukmu.

Kau mendekat dan menarik sebuah kursi lalu duduk di sampingku. Aku pura-pura tidak mengacuhkan kau yang jelas-jelas sedang menatapku. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Kau gelisah. Dan aku dengan bodohnya terus mengaduk-aduk teh yang gulanya sudah larut limabelas detik yang lalu.

“Ranti kenapa?”tanyamu. Kau lalu letakkan telapak tangan kananmu di dahiku. Aku menelengkan kepala dan tersenyum.

“Tidak. Aku tidak sakit! Ini, silakan diminum tehnya…”kataku sambil ikut menarik kursi, duduk, lalu menatapmu yang sedang menyesap teh.

Semenit setelahnya hanya ada suara seruputan bibirmu di cangkir teh. Selain itu tak ada.

Tring. Kau meletakkan cangkir yang sudah kosong.

“Sudah nonton film korea yang kubeli kemarin?”kau bertanya.

“Sudah! Aku sampai menangis bombay!”kataku sambil mengangguk penuh semangat. Kau sedikit terkejut dengan ‘semangat’ku yang tiba-tiba.

“Ahh…ya… Teman-teman sekantor juga bilang begitu. Aku malas saja mendengar mereka jejeritan sambil nangis-nangis!”katamu lagi. Aku terbahak.

“Dasar lelaki!”

“Tapi memang betul, kok. Masa’ begitu hanya karena film? Oh iya, aku paling terganggu saat mereka berteriak, ‘Jangan beri hadiah baju! Jangan beri hadiah baju!’”katamu sambil menirukan suara perempuan menjerit. Aku makin terbahak.

“Iya. Mitos kan berkata seperti itu!”kataku.

“Jangan pernah berikan hadiah baju kepada kekasihmu, kecuali ada niat untuk berpisah.”tambahku lagi.

“Memang benar begitu?”kau bertanya heran. Aku mengangkat bahu sambil nyengir.

“Ranti habisin bubur ayamnya yah. Aku harus ngantor dulu.”katamu sambil berdiri dari kursi. Aku ikut berdiri.

Di depan pintu kau menatap penuh sayang seperti biasa. Aku hanya tersenyum tipis. Melihat itu kau menaikkan sebelah alis tiga detik lalu mengacak-ngacak kepalaku.

Hey, I always love the way you touch my head!

***

“Aku minta maaf.”perempuan itu menggenggam kedua tanganku yang mengeras, kaku.

Aku menghela napas. Dia ini apa tidak mengerti? Bukankah tidak semua hal harus kita ceritakan? Tidak semua hal yang mesti kita tahu. Tahu!

“Sudah?”tanyaku pendek dan datar. Ia heran melihat reaksiku.

“Kalau kau sudah selesai, aku mau pergi.”ia bingung. Lima detik dia melongo dan aku langsung berdiri dan berjalan pergi.

“Tunggu!”perempuan itu akhirnya bersuara. Aku berheti dan menoleh.

“Aku harap ini tidak mengubah hubunganmu dengannya. Aku harap kalian akan baik-baik saja.”ia berkata.

Aku menaikkan ujung bibir kiri setengah senti dan kembali berjalan menjauh. Dasar bodoh! Ceritamu barusan akan mengubah segalanya. Terima kasih!!!

***

Dia…dia sudah menetapkan hatinya untuk pergi darimu. Dia akan menghapusmu dari memori otaknya. Dia mau menghapus rasanya untukmu.

Dia sadar, bukan kau yang dia cari. Dia pikir, kau bukan perempuan yang dia butuhkan. Dia butuh seseorang yang lain. Bukan kamu.

Dia sebenarnya menyesal dan merasa bersalah. Toh dia yang memulai semua ini. Tapi bagaimanapun dia sudah menetapkan hatinya. Dia harus pergi darimu.

Ranti, ini memang menyakitkan. Tapi kupikir, kau harus tahu hal ini.

Ranti? Ranti? Kau dengar aku? Ranti? Ranti?

***

“Mbak! Saya mau kemeja putih yang ini yah!”

“Maaf, ukurannya sudah pas? Tidak mau dicoba dulu? Saya punya teman yang mungkin seukuran?”

“Tidak. Saya hapal ukuran dia di luar kepala. Terima kasih.”

***

“Honey, aku mau bicara.”katamu di suatu sore yang berawan.

“Tentang?”

“Tentang…”

“Tentang apa?”aku mendesak.

“Tentang hubungan kita.”katamu pelan. Kau lalu melempar padangan ke taman belakang. Taman yang kita buat bersama.

Aku menghela napas. Dan selanjutnya hanya tersisa sunyi. Tidak ada yang bersuara, berbicara. Bernapas pun pelan-pelan. Sangat pelan. Sementara itu, malam merambat pelan. Kita berakhir sebagai siluet dua patung manusia yang kaku.

***

Kalau ingin bicara, temui aku di tempat biasa.
Jam empat sore ini.

To:
Mr.Moon
+621122334455
Sent:
07:33:23
23-07-2011

***

“Maaf aku telat. Kamu sudah lama, Ti?”kamu muncul tiba-tiba sambil mengacak rambutku pelan. Aku meringis dan memiringkan kepala.

“Belum lama, kok. Aku juga baru habis bakmi ayam sama hotdog.”kataku sambil meneguk air putih terakhir.

“Kamu kok mulai duluan sih? Tungguin aku kenapa?”katamu sambil memasang wajah pura-pura marah. Aku merasa nyaman dengan ekspresi yang sudah kuhapal di luar kepala itu. Mau tak mau aku tertawa sambil melemparimu dengan tisu yang digulung-gulung. Segulung, dua gulung, tiga gulung…

Melemparimu tisu adalah kebiasaanku.

“Hey, kita nanti diusir karena buang-buang tisu!”katamu terbahak. Aku juga. Lalu aku terdiam tiba-tiba. Kamu masih terbahak.

Sepuluh detik –kurang lebih- adalah waktu yang ternyata kamu butuhkan untuk sadar bahwa wajahku dari tadi sudah sedemikian datar menatapmu.

“Ranti kenapa?”kau lalu bertanya lembut.

“Bagas sebenarnya mau bicara apa?”tembakku. Kau ikut memasang wajah datar.

“Sebentar.”katanya.

“Mas! Tolong kopi krim.”pintamu pada seorang pramusaji.

“Umm…”kau mencoba untuk memulai. Aku memajukan wajah satu senti. Tampak perhatian penuh.

***

“Kemarin aku bertemu dengannya. Kami ngobrol cukup lama.”kata Citra, teman perempuanku, temanmu, teman kita.

“Oh, ya? Lalu apa yang kalian ceritakan?”tanyaku sedikit cemburu.

Citra lalu berbicara penjang lebar. Bercerita dan bercerita. Terus bercerita. Aku hanya mendengar. Mendengarkan dan mendengarkan. Terus mendengarkan.

“Dia mau pergi darimu.”kata Citra menutup cerita. Aku menghela napas.

***

“Ini.”aku mengangsurkan sebuah kotak cokelat muda dengan hiasan pita cokelat tua.

“Wah! Hadiah! Ranti, aku kan belum ulang tahun!”katamu sumringah.

Kotak itu aku serahkan setelah cukup lama kau hanya bergumam-gumam.

“Aku boleh buka sekarang?”tanyamu. Aku menaikkan bahu. Terserah.

Kau mulai membuka kotak itu. “Aduh, Ranti. Dalam rangka apa?”tanyamu sambil masih menggantung senyum. Aku hanya menatap datar.

“Ranti! Kemeja putih!!”kau berseru.

“Aku belum pernah beli kemeja putih sebelumnya!”kau tampak senang.

Aku cuma memberi senyum tipis. Aku sebenarnya agak gelisah mengira-ngira apakah kau mengerti atau tidak.

“Kamu bukannya selalu bilang kalau aku lebih charming kalau pakai kemeja putih?”kau kali ini terkekeh. Aku masih memasang senyum yang sama.

Tapi sejurus kemudian ekspresimu membeku. Air mukamu kini datar. Kau menatapku.

“Ranti?”kau sebut namaku dengan menggantungkan nada tanya.

Aku sudah mulai berkaca-kaca. Bibirku sudah bergetar karena menahan luncuran kata-kata. Dan di seberang meja sana kau masih terus menatapku. Aku menundukkan wajah.

“Kau bilang ingin bicara. Bicaralah sekarang.”kataku pelan menyembunyikan getar di dalam suaraku.

“Ti, aku…”kau tampak gelisah.

Aku diam. Kau diam. Kita diam.

“Kau sudah tahu, yah, apa yang mau kubicarakan?”akhirnya kau bersuara. Nadamu sangat berhati-hati.

Aku cuma mengangguk pelan, masih menunduk. Sepertinya kau keliahatan masih gelisah.

“Aku sayang kamu. Masih sayang kamu, Ti. Tapi, aku pikir kamu bukan yang aku cari. Aku belum merasa ‘klik’ dengan kamu.”katamu pelan.

Pelan? Di sini di dalam hatiku, ada gemuruh yang sedemikian derasnya. Berani-beraninya kamu berkata seperti itu?

Jadi, perempuan seperti apa yang ingin kau miliki? Tanyaku dalam hati. Aku malas bersuara. Aku malas membuat kau tahu kalau satu kata saja yang keluar dari mulutku maka air mataku akan tumpah.

“Aku minta maaf.”katamu mantap. Tchh. Maaf. Sangat mudah mengatakan maaf, meskipun seribu kali banyaknya.

“Ti…?” kau memanggil ketika melihat aku masih diam tak bersuara.

Huft. Aku menghela napas.

“Ti, aku mau…”

“Cukup! Cukup, Gas!”aku berseru tiba-tiba. Kau sedikit kaget. Mungkin karena suaraku, mengkin juga karena melihat mataku yang merah menatapmu garang, atau terluka?

“Iya. Aku sudah tahu kamu mau bilang apa.” kataku. Kau tidak mau menatapku.

“Penjelasanmu juga sudah membuka mataku. Selama ini aku hanya bertindak sia-sia.”kataku lagi.

“Tapi, Ti…”

“Bagas… Biarkan aku bicara kali ini.”

Aku tersenyum getir. “Aku bodoh, ya? Bodoh karena sudah memberikan semuanya untuk kamu. Ahh, sepertinya selama ini aku terlalu percaya diri dan menganggap aku benar-benar perempuan yang kamu cari. Perempuan yang kamu inginkan untuk jadi pendamping hidup kamu. Perempuan yang ada di hati kamu.”

Kamu terdiam. Aku menghela napas dalam.

“Bagas…”aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku. Air mataku sudah tumpah.

“Ranti, aku..”Bagas hendak berbicara tapi kupotong cepat.

“Gas. Kamu tahu kan yang akan terjadi kalau aku ngasih kamu hadiah baju?”tanyaku tanpa butuh jawaban. Kau memasang wajah tidak mengerti.

“Kemeja putih ini bukan hadiah, Gas. Tapi mungkin usaha terakhirku untuk ngasih apa yang kamu mau.”kataku.

“Aku cuma mau ngabulin keinginan kamu. Walau mungkin aku tidak mau.”kataku lagi.

“Kamu mau pergi, kan? Jadi cocok kan kalau aku ngasih hadiah kemeja buat kamu?”aku terenyum getir sambil mengelap sisa-sisa air mata.

“Ti…”kau kembali mencoba untuk berbicara tapi kupotong.

“Gas, aku harus pulang.”kataku sambil berdiri cepat. Kau juga berdiri.

“Aku anter kamu pulang!”katamu berseru. Aku menggeleng.

“Aku mau sendiri, Gas. Makasih tawarannya.”

“Tapi, Ranti…”

“Aku duluan, Gas. Assalamu’alaykum.”sahutku sambil berbalik dan melangkah keluar dengan pelan.

Aku melangkah pelan, siapa tahu kau akan mencegah. Siapa tahu kau akan minta maaf dan berkata bahwa kau tidak akan pergi. Berkata dengan menyesal karena sudah berpikir untuk pergi dan berkata bahwa sebenarnya aku memang satu-satunya perempuan yang ada di hatimu, bahwa aku, Ranti, adalah perempuan yang kamu inginkan sebagai pendamping hidup.

Tapi tidak. Kau tidak mencegah kepergianku. Kau tidak mencegah aku pergi. Kau membiarkan aku pergi. Aku makin pilu.

Di luar langit cerah sekali. Di luar, jalanan ramai sekali.

Diselesaikan di Makassar, 5 Agustus 2011 :’)

11 thoughts on “Kemeja Putih

  1. Kemeja putih, aku teringat dengan kisahku, tapi aku memberikannya baju kaos, mungkin mitos ini benar, memberikan baju entah kaos atau kemeja, perpisahan pun terjadi, dan kini, aku dan dia berpisah * kok jadi curhat juga :D*. tak apalah, seperti kata pepatah ” ada pertemuan juga ada perpisahan”, ada perpisahan juga ada pertemuan lagi, jadi semoga bertemu lagi kalau cuaca memang bagus. hehee…

    Lumayan cerpen ini panjang, sampai keringatan aku bacanya, tapi keren bin mantap, ditunggu cerpen yg lebih gressnya…

  2. Dulu sebelum menikah, kami sering saling memberikan kaos :))
    Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa dan sekarang kami sudah benar2 bersama ^_^

    BTW, film korea yg dimaksud di cerpen ini judulnya apa ya? Saya kodong 1 ji film korea kutahu… itu yg alzheimer ;D

    Salam kenal ya kk~

    1. wahh… jadi memang benar2 cuma mitos? hihihihihi

      kalo film koreaa…😀
      fiktif jie itu, Kaka… *malu-malu*

      tapi se juga suka itu film yang alzheimer-alzheimer…
      judulnya A Moment to Remember, bukan, Kaka?

      kalo iya, wuih, film favoritku juga itu…
      paling suka pas adegan waktu suaminya baca surat…😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s