Uncategorized

Masih Tetap Tersenyum – Padi

Ketika keretaku tak datang lagi
Menjemput cintaku yang telah.. lama mati
Seperti layaknya bintang.. tak bersinar
Namun aku masih tetap tersenyum

‘Akhir’ tercipta bersamaan dengan terciptanya ‘awal’. Keduanya siam, tak dapat dipisahkan. Ketika ada awal, maka akhir akan menyusul. Ketika akhir tiba, akan ada awal yang baru.

Namun untuk sesuatu yang tak punya awal, apakah ia mengenal akhir? Apakah yang seperti itu benar-benar ada? Jika tidak, mengapa ‘yang tak berawal’ ini terasa menyesakkan?  Kenapa? Ada apa?

Ketika kekasihku meninggalkan aku
Ku tak tahu kemana dia telah pergi
Tak tersentuh, tak terjamah, tak kudengar lagi
Namun aku masih menikmati hidup…

Tak seorang penduduk bumi pun akan menyukai luka. Namun duri di sepanjang perjalanan selalu saja menusuk. Dan kalau duri yang ini sudah tertancap dalam lagi lebar, selain tersenyum pasrah kita bisa apa?

Mungkin jawabannya adalah ‘ikhlas’ mengembalikan semuanya kepada Sang Ilahi, pemilik segalanya di semesta alam. Mengikhlaskan sesuatu yang memang tak pernah kita miliki. Toh, semua hanya titipan. Hanya titipan.

Ketika keretaku telah datang kembali
Membawa cintaku tertera di dasar hati
Menawarkan kepedihan di antara tawa
Namun aku masih tetap tersenyum

Siapa yang akan tahu akhir cerita ini? Hanya Dialah yang Maha Merencanakan.

Huft. Hanya ingin menyemai hati yang damai. Dan berdoa, semoga yang terbaiklah yang akan tertuai. Aamiin.

Bila langit mendung dan hujan turun sesuka hati, tak apa, aku masih tetap ‘bisa’ tersenyum… ^___^

2 thoughts on “Masih Tetap Tersenyum – Padi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s