Uncategorized

Mama, aku dicampakkan!!!

…buah percakapan tidak jelas di laboratorium multimedia…

Siang itu suhu Makassar sangat panas. Di ruangan mungil itu suhu penyejuk ruangan sudah disetel sampai digit yang sangat-sangat rendah tapi tetap masih terasa panas. Bukan. Bukan hanya karena suhu luar yang memang panas tapi juga karena otak-otak di dalam ruangan itu juga sudah panas. Sejak pagi aktivitas yang ada cuma teriak-teriak, erangan, rintihan yang menyebutkan anfis, wavelet, fuzzy, opnet dengan aneka ekspresi yang menggugah jiwa.

Dan di saat otak-otak sudah panas, beberapa perserta mulai mundur perlahan dan menyudut di dekat pintu tengah yang menghubungkan laboratorium itu dengan ruangan salah satu dosen.

Dan di situlah semua berawal.

Cerita-cerita ini sederhana saja. Tentang bagaimana sikap perempuan dalam menghadapi kegundahan ‘hati’, termasuk mencari solusi.

“Saya tidak pernah menceritakan persoalan hati saya kepada Mama.”kata seorang peserta membuka percakapan. Ia minta namanya disebutkan tapi penulis menolak mentah-mentah. Hahahaha.

“Kenapa?”tanya yang lain.

“Tidak, malu saja. Bukan hal yang sangat urgent.”jawabnya lagi.

Sebagai pengamat dalam kelompok kecil ini saya jadi berpikir. Saya adalah tipe orang yang mau membagi cerita apapun kepada mama dan papa kecuali masalah hati. Entahlah apa karena malu atau takut.

“Saya justru senang berbicara hati dengan ibu.”kata seorang yang lain.

Kami memasang wajah antusias sambil berseru, “Cool!”.

“Iya. Enak loh. Dicurhati begitu ibu langsung menceritakan cerita cinta masa mudanya. Lucu! Seru! Tidak disangka-sangka!”katanya dengan mata penuh binar. Kami tersenyum membayangkan kisah cinta masa lampau. Tanpa ponsel, tidak ada pesan singkat, atau wall to wall di facebook, mention cinta di twitter atau di G+ (promosi jejaring sosial, haha). Lalu kalau mereka saling rindu bagaimana yah?

Mungkin dengan surat atau pertemuan secara langsung. Mungkin cuma lewat di depan rumah pujaan hati sambil membunyikan bel sepeda. Kring, kring!!! Kring, kring!!! Dan si pujaan hati lalu terpogoh-pogoh berlari ke jendela depan rumah dan mengintip-intip dengan senyum merekah. Aduhaiii, romantisnya! ^_^

Kami tertawa cekikian. Melepaskan sedikit beban tentang skripsi. Tidak, bukan pergi melarikan diri dari skripsi. Hanya mengendurkan otot dan mendinginkan kepala. Siapa tahu nanti bisa meledak kalo terlalu dipaksa?! Hahaha. Bilang saja kalau malas! ~_~

Waktu berjalan terus. Kami saling menertawai kisah ‘hati’ kami masing-masing, sampai akhirnya seorang teman berseru,

“Mama, aku dicampakkan!” sambil memasang ekspresi sok galau tingkat tinggi.

Kami tertawa dan makin tertawa ketika seseorang nyeletuk,

“Oh, pantas saja, Nak! Dulu waktu mama hamil kamu, mama memang sempat kena CAMPAK. Ini toh, efeknya? Baru kelihatan!”

Oalahhhh.

^_______^

Makassar, 15 Juli 2011

Untuk perempuan-perempuan tersayang pengejar ST di Laboratorium Multimedia, Elektro, Unhas.
Say ‘no’ to galau! Yeeaaahhh!!!!!

2 thoughts on “Mama, aku dicampakkan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s