.::bisikan kalbu::. · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Perempuan yang Galau

Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Aku yang baru saja mau putus hubungan dari dunia maya tiba-tiba urung mengklik icon disconnected. Sebuah notifikasi dari seseorang yang minta bantuan. Aku mengangguk walau ia tak melihatnya. Ya iyalah…

Chat aku onlinekan. Tadaaa! Niatnya cuma khusus untuk satu klien, eh, ada lima ajakan chat. Semuanya lelaki. Galau, yah? ^^

Aku sedikit terkejut. Dari lima itu, cuma satu yang tidak membahas cinta dan perempuan. Yang lain? Alamak… tentang perempuan-perempuan mereka. Aku sedikit tersenyum. Beberapa hal yang sangat mengganggu pikiranku belakangan ini sedikit tersamarkan. Aku memilih fokus pada cerita-cerita para lelaki yang baik ini. Sesekali aku tertawa. Ternyata ada juga lelaki yang baik dan berperasaan. Ada juga yang sebenarnya berperasaan tapi selalu mengambil tindakan yang tidak berperasaan. What a boy!

***

Malam merambat pagi. Aku lalu tertarik pada sebuah cerita tentang seorang perempuan. Perempuan ini tengah galau. Galau teramat sangat. Jika aku hanya akan menangis, membuat catatan tidak penting tentang sakit hati, mogok makan dan menjauh dari orang-orang, maka si perempuan ini menurutku agak-agak anarkis dalam mengekspresikan kegalauannya.

“Apa yang terjadi padanya?”tanyaku.

“Dia mendadak menjadi aneh. Dia… “

“Dia kenapa?”kejarku.

“Dia mendatangi teman-temanku, meminta uang mereka satu-satu.”

Sampai di sini aku mengernyitkan dahi.

“Dia bahkan menginap di kos-an cowok!”

Heh? Di kos cowok?”tanyaku sambil mengambil kaca mata. Mungkin aku salah baca.

“Iya. Di kos-an cowok.”

“Dia kesannya gila cowok!”

Astaghfirullah. Aku istighfar dalam hati.

“Dulu dia pendiam. Sekarang dia selalu bicara, bahkan terkadang bicara sendiri. Dia kelihatan benar-benar stress.”ketiknya panjang lebar.

“Dia pernah subuh-subuh ke rumah temannya untuk pinjam uang. Subuh! Temannya itu saja belum bangun…”

“Di malam yang berbeda, dia pergi ke rumah salah satu temannya untuk menginap tanpa alasan, padahal itu sudah jam 10 malam!”ia terus bercerita. Aku masih setia mendengarkan.

“Kamu yakin kamu penyebab dia begitu?”tanyaku.

“Sebenarnya tidak juga. Tapi masalahnya teman-temannya mengadu padaku. Jadi otomatis aku merasa bertanggung jawab. Lagipula siapa tahu kalau dia begitu memang karena aku?”

Aku menghentikan balasanku sementara. Berpikir.

“Aku harus bagaimana?”ia bertanya lagi.

Aku kembali terdiam. Pikiranku kemudian jatuh pada sosok perempuan yang diberi gelar Miss Galau. Diriku sendiri. Hey, walaupun aku senyum-senyum saja dipanggil bagitu, aku juga tak yakin, apa aku sesering itu galaunya? Ckckckckck.

Oke. Back to the story. Kalau aku sedang galau, aku ingin apa?

Aku… -_-a

Aku ingin ada yang datang menghiburku. Siapa? Keluarga? Sahabat?

Umm. Boleh. Tapi sebenarnya yang aku inginkan untuk datang menghiburku itu dia. Dia yang menjadi alasan kegalauan.

Lalu ketika dia tidak datang-datang juga?

Biasanya memang seperti itu. Maka aku lalu akan memeras segala air yang bisa diperas sampai kering lalu berdoa dan pergi tidur. Mudah-mudahan ketika bertemu esok hari dia memberi senyum dan akan hilanglah semua galauku. Begitu.

Kalau dia tidak memberi senyuman?

Beberapa kasus memang seperti itu. Kalau itu terjadi maka aku akan memberikan senyuman kepada siapa saja yang bisa disenyumi. Aku lalu akan sering menyanyi-menyanyi, loncat-loncat tidak jelas, jajan sembarangan atau melakukan apapun yang aku mau. Sepertinya ke’gila’an inilah yang akhirnya membuat teman-teman memberi julukan galau itu. Hahaha.

Waduh, kenapa aku jadi curhat? Kita kembali ke inti cerita yah… ~_~

Dan begitulah. Tadinya dengan sarkas aku memberi saran kepada si lelaki untuk sama sekali tidak menghiraukan perempuan itu. Aku bilang jangan menggubrisnya! Tapi tidak jadi. Aku menghapusnya. Aku memberikan saran yang lain. Aku bilang, temui dia, dengan nada datar dan tegas tanyakan dia kenapa. Dia maunya apa. Biasanya kalau diperlakukan seperti itu maka si perempuan akan luluh dan lebih mudah meneria nasehat dan saran. Begitu.

Dalam waktu beberapa saat si lelaki tidak membalas apa-apa. Sepertinya tengah mempertimbangkan saranku dan saran-saran lain dari orang lain, mungkin.

Percakapan kami terhenti sekitar pukul setengah tiga. Modemku sedang lambat loading dan kupikir aku sudah perlu tidur. Maka kuucapkan salam perpisahan kepada semua klien ku malam itu, termasuk si lelaki dan perempuannya yang galau. Mungkin sebentar malam aku akan menyapa mereka satu-satu, menanyakan perkembangan hati mereka. Mudah-mudahan semuanya baik-baik saja. Aku, mereka semua dalam keadaan baik-baik saja.

Toh, semua orang tahu galau itu amat sangat tidak penting. Tapi ketika hatimu sendiri yang mengalami galau, kamu  bisa apa?

Senyum. Itu saja. ^^

Sudah ah. Nanti aku curcol lagi. ^_^v

Oh iya, untuk perempuan yang kuceritakan tadi, kamu punya saran apa?

 

Makassar, 1 Juli 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s