cerita pendek · my stuff

bHeLaM – Suatu Hari di Pete-pete

Dug!!

“Aduh!”Erik memekik kecil. Kerudung yang susah payah dirangkainya selama 45 menit kini mencong-mencong karena baru saja kejeduk di pintu pete’-pete’.

Erik naik pete’-pete’? So what? Jadi ceritanya begini, tigernya Erik lagi ngadat. Makanya di hari yang cerah ini Erik memilih naik pete’-pete’ ketimbang taksi atau nebeng dengan dalih ”ingin merakyat”, gitu katanya.

Dan sukseslah kini Erika Larasati, siswa SMA NiMiMuRa kelas XII duduk di tersudut di sudut pete’-pete’. Seketika terbayanglah wajah ketiga sahabatnya sesama anggota bHeLaM. Naura dengan Jazzynya. Sasha dengan Avanzanya, dan Amy dengan tebengannya yang selalu berganti-ganti.

Demi Allah persahabatan mereka tidak pernah didasari oleh “harta” dan kriteria tak mutu lainnya. Hanya kebetulan mereka berasal dari keluarga the have. Namun entah mengapa, hari itu Erik merasa malu naik pete’-pete’. Apalagi kalau ketika rekan sebangsanya itu mengetahuinya. Erik!!

***

Macet. Erik yang sudah badmood dari tadi malah tambah BT. Makanya, alih-alih melongo ke luar jendela, Erik mengamati seantero isi pete’-pete’ . Dari sudut belakang supir ada mahasiswa yang lagi baca buku “Modulasi Sinyal”. Whuss…niat aneh Erik muncul. Dari tampang, okelah. Cool malah! Dari bacaannya, kayaknya anak elektro deh. Turun ke bawah, ups, astagfirullah, tasnya dekil sekali! Ujungnya sudah robek pula. Terus…terus…sepatunya, sepatu tua! “Astagfirullah…”Erik memalingkan wajahnya. Ia tahu tak boleh meneruskan.

Next person, di samping anak elektro, ada seorang ibu pake’ daster. Sekilas tampak lusuh, plus ada anak kecil di pangkuannya yang tidur walau ingusnya terus mengucur. Di tangan si ibu ada kantong kresek yang tak kalah lusuhnya berisi… berisi…apa ya? Erik juga tidak tahu.

Erik jadi pusing. Kembali Erik memalingkan wajah dan memilih melihat keluar melalui jendela. Dan tambah teririslah hatinya melihat seorang lelaki tua yang menjual kue bolu di perempatan lampu merah. Lelaki tua tak bersandal itu tampak sesak napas dengan asap knalpot kendaraan bermotor.

Kini mata Erik mulai berkaca-kaca. Siapa yang mau beli kue bolu di lampu merah yang penuh debu dan asap?

Erik jadi termenung. Mengingat gengsinya naik pete’-pete’ dan dinamika hidup manusia yang baru saja disaksikannya.

“Aku egois, ya?”jerit Erik dalam hati. Tak pernah ia berpikir tentang kesusahan dan penderitaan orang lain di sekitarnya. Lah wong si Erik memang nyaris tidak pernah bersentuhan dengan “rakyat jelata”!

Hati Erik makin teriris saja. Ia merasa malu. Malu untuk sikap tidak pedulinya selama ini, malu untuk aksi sosialnya yang miskin, malu untuk gengsinya yang terlalu besar.

Erik baru sadar. Hidup tak selalu indah seperti kehidupannya selama ini. Ada sisi lain yang jauh lebih gelap, sulit, dan menyeramkan. Dan inilah ladang pahala bagi orang-orang berkecukupan untuk berbagi. Tidak sekedar memberi tapi turut langsung merasakan penderitaan itu.

“Kiri depan, Pak!”mahasiswa elektro nan cool tadi menyetop pete’-pete’.

“Bersama lelaki seperti ini bisa menyadarkanku akan arti kesederhanaan…”Erik mulai menghayal sambil senyum “sok bijaksana”. Dasar Erik!

Angin bertiup pelan dari celah jendela. Hati Erik kini menjadi tenang. Ada pelajaran baru yang ia dapatkan hari ini. Erik janji akan menyampaikan hal ini kepada ketiga rekan tercintanya. Mungkin someday, Erik akan mengajak Naura, Sasha, dan Amy untuk naik pete’-pete’ bersama…. Someday…

selesai

30 Agustus 2008

buat tugasnya Rai… tapi nda jadi… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s