.::bisikan kalbu::. · my stuff

Tentang Sebuah Tempat yang Logonya Berwarna Biru Muda

…di suatu sore yang bersemangat, pintu sekret OKJE FT-UH sedikit terkuak. Disangkanya ada pertemuan ilmiah atau bedah buku atau diskusi apalah. Ternyata ada sebuah forum kecil. Rapat panitia kegiatan besar, dengan anggota “seluruh warga Elektro” tapi sekali lagi itu hanya sebuah forum kecil. Sisanya, beberapa terhampar di atas karpet sambil menonton sinetron “cookies” dan beberapa lagi sedang tidur pulas.

***

Sejarah telah mencatat bahwa momen-momen penting yang terjadi di kancah perpolitikan negeri tidak pernah terlepas dari peran-peran mahasiswa di dalamnya. Mulai dari Budi Oetomo pada tahun 1908 (walau sebenarnya sejarah membuktikan bahwa Syarekat Islam jauh lebih berhak mendapat label gerakan mahasiswa pertama di Indonesia), pencetusan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Kemudian kita juga bisa kembali membuka lembaran-lembaran masa lalu yang menunjukkan yang lebih spesifik melalui angkatan 66 yang keterlibatan kampus dan mahasiswa yang cukup intens dalam kancah dan perubahan politik di tanah air. Melalui Dewan Mahasiswa (DM) dan Senat Mahasiswa (SM), mahasiswa Indonesia mengekspresikan dan mewujudkan aspirasi politiknya.

Dalam skala yang lebih kecil namun sangat dekat dengan kita, Organisasi Kemahasiswaan Jurusan Elektro Fakultas Teknik – Universitas Hasanuddin (OKJE FT-UH), sejarah juga turut membuktikan. Dalam usianya yang sudah tidak bisa dikategorikan sebagai pergerakan kemahasiswaan, OKJE FT-UH erat kaitannya dengan pergerakan kemahasiswaan tingkat Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Teknik – Universitas Hasanuddin (OKFT-UH) dan OKFT-UH sendiri kemudian tentu saja juga tidak terlepas dari pergerakan tingkat Universitas Hasanuddin.

Selalu saja ada hal-hal yang dapat dibicarakan, dibahas, ataupun didiskusikan dari tema “Fakultas Teknik”. Sebagai fakultas dengan massa terbanyak (1/3 mahasiswa Unhas) segala yang terjadi di fakultas “terborro” ini selalu menjadi pusat perhatian civitas akademika se Universitas Hasanuddin. Hal yang paling identik dengan Teknik hingga hari ini adalah kultur “keras” Teknik yang masih terus dilestarikan hingga saat ini. Tidak sedikit pujian yang kemudian diberikan, namun tanggapan negatif juga banyak terlontarkan. Kenyataan ini kemudian diperkuat dengan insiden-insiden di lembaran hitam Universitas Hasanuddin dengan nama “Teknik” yang selalu menjadi pemeran utama. Entah sudah beberapa kali nama Teknik UNHAS muncul di media dengan pemberitaan “tawuran” yang lebih suka kami sebutkan sebagai “dinamika kemahasiswaan”.

Tapi tak ada gunanya jika hal-hal seperti “tawuran” dibahas terlalu jauh. Bukannya tidak penting. Hanya saja sepertinya berjuang untuk mengembalikan citra positif Teknik lebih efektif ketimbang sekedar membahas aneka dinamika kemahasiswaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Dari kancah lembaga misalnya. Sejarah lagi-lagi membuktikan bahwa mahasiswa Teknik memiliki antusiasme dan kapabilitas di dunia kelembagaan yang tinggi. Tidak hanya sekedar “borro” atau tidak hanya sekedar “pintar” dalam bidang akademik, namun mereka juga terbukti tercerahkan secara intelektual politiknya. Perkembangan kelembagaan menunjukkan progress yang membanggakan. Anak teknik tidak hanya berani adu jotos, tapi berani adu intelektual.

Sayangnya makin ke sini orientasi kader untuk berlembaga makin kabur saja. dapat dilihat dari presentase keaktifan kader dalam lembaga yang semakin menurun. Tidak hanya di tataran OKFT-UH, tapi juga di OKJE FT-UH.

Tidak salah jika banyak pihak, terutama para “senior” yang mengkhawatirkan kondisi kader yang seperti ini. Regenerasi sepertinya nyaris tidak ada. jika ada, hanya segelintir yang kemudian bisa mengambil ilmu banyak dari para seniornya. Sebagian lagi ikut aktif namun hanya sekedar ikut tanpa mereguk ilmu apa-apa. Sebagian lagi dan merupakan bagian dengan persentase yang paling besar sama sekali tidak menunjukkan adanya niatan untuk berorganisasi.

Berbagai cara dan upaya telah dilaksanakan. Hasilnya paling tidak menaikkan persentasi keaktifan kader walau hanya sedikit. Bagaimanapun, walau pahit, harapan akan suasana kader seperti dalam film “Gie” masih cukup jauh dari harapan. Namun tidak ada salahnya tetap optimis. Konsep yang bagus belum tentu menghasilkan ending yang bagus juga. Ada banyak faktor “x” yang menetukan keberhasilan sesuatu. Misalnya semangat dari sang pengader, kesadaran dari si kader, dan tentu saja semangat dan cinta dari semuanya.

Selain masalah kader sendiri tentu saja ada hal-hal lain yang turut menambah kerutan di dahi para organisatoris yang cinta dan loyal pada lembaganya. Kondisi seperti sekat angkatan, misalnya. Walaupun sekat ini sudah berusaha diruntuhkan dengan metode paling halus hingga paling lembut, tetap saja ada segelintir pihak yang masih saja menganut paham chauvinisme berlebihan. Mungkin tidak pernah diperlihatkan secara kentara. Namun dalam beberapa hal kondisi ini bisa diartikan sebagai masih berdenyutnya nadi sekat-sekat angkatan, suka atau tidak.

Tapi salah satu konsep peleburan masalah ini patut diacungi jempol. Walaupun efeknya belum maksimal, konsep steering committee dari dua angkatan berbeda paling tidak makin meleburkan sekat-sekat angkatan tadi. Kalaupun sebagian masih menganggap konsep ini belum sepenuhnya berhasil, mari kita berpikir positif dan menganggap bahwa hal ini karena konsep baru saja ditanamkan. Untuk selanjutnya –dengan penambahan inovasi baru- konsep ini sangat mungkin untuk berhasil.

Kemudian mari melihat kondisi struktural OKJE FT-UH. Bukan antara lembaga legislatif dan eksekutif, tapi antara HME FT-UH dan enam UKM yang berada di bawah naungan HME FT-UH itu sendiri. Beberapa tahun belakangan, sadar atau tidak sadar himpunan berdiri dengan “angkatan” sebagai penopangnya dan UKM pun berdiri sendiri dengan dunianya. Dalam situasi non-formal tentu saja tidak ada apa-apa. Yang dimaksudkan di sini adalah situasi formal. Kegiatan-kegiatan himpunan yang melibatkan UKM masih bisa dihitung jari. Begitupun sebaliknya, kegiatan UKM yang melibatkan Himpunan juga jarang terdengar gaungnya. Dalam kegiatan UKM, misalnya, keterlibatan HME FT-UH hanya sebatas membuka acara dan memberi sambutan. Dalam kepengurusan terakhir, sudah cukup ada peningkatan hubungan antara HME FT-UH dan UKM-UKM tersebut. Namun tentu saja peningkatan yang jauh lebih baik masih sangat dinanti. Hal ini agar jangan sampai ada kesan kotak dalam kotak. Tidak ada kesan masing-masing berjalan di koridornya masing-masing tanpa sadar HME FT-UH dan UKM memiliki keterkaitan yang jelas dan erat.

Sudah cukupkah? Tidak. Lembaga yang besar sarat dengan berbagai “masalah” yang sekali lagi lebih senang jika kita sebut sebagai “dinamika” kemahasiswaan.

Ada masalah klasik yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Ketimpangan antara akademik dan lembaga yang masih terjadi. Benar jika contoh baik banyak bertaburan terutama pada para petinggi organisasi kemahasiswaan yang notabene berlabel “organisatoris” namun akademiknya tidak “jeblok”. Namun di bawah mereka. Para organisatoris kalangan rumput, tidak sedikit yang mengabdikan hidupnya untuk OKJE FT-UH tapi kondisi akademiknya tidak membanggakan.

Salah satu solusinya sudah difasilitasi semenjak beberapa tahun terakhir, misalnya pelaksanaan mentoring-mentoring oleh Kompartemen Pendidikan HME FT-UH. Namun sayangnya fasilitas ini kurang dimanfaatkan oleh mereka yang sebenarnya  membutuhkannya. Lalu, apakah serta merta si organisatoris itu harus disalahkan karena tidak menggunakan fasilitas yang telah diberikan? Tentu saja tidak. Pada situasi seperti ini, ajaran senior tentang solidaritas betul-betul dipertanyakan. Solidaritas bukan hanya ketika mengerjakan baliho bersama-sama. Tapi pernahkah ada yang selalu mengingatkan rekan-rekannya untuk belajar setelah mengerjakan baliho, misalnya? Atau mengingatkan rekannya untuk ikut dalam mentoring sebelum musim ujian berlangsung? Mari kita berbenah, mulai dari diri sendiri.

Pada akhirnya, seperti yang telah tertulis sebelumnya, bukanlah sebuah organisasi yang besar dan unggul jika tidak diterpa dengan berbagai “dinamika”. Seni dari berorganisasi toh sebenarnya bukan hanya ketika menjalankan roda-roda kepengurusan sebagaimana mestinya, namun juga ada pada bagaimana kita menyikapi dan memberikan solusi terhadap “dinamika-dinamika” tersebut.

Hidup Teknik!

Jayalah Elektro!

Wallahu’alam bishawab.

*Tulisan ini dibuat tahun 2009 sebagai tugas essai bakal calon Ketua DMME FT-UH PEriode 2009-2010… ^____^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s