my stuff · Setangkup Roti Cokelat

Sebuah Pengorbanan, Sebuah Harapan

“…tidak, Kak. Tidak usah maju saja. Angkatanku akan dilangkahi…”

Pernyataan ini disertai dengan senyum sinis. Ada apa? Maksud dilangkahi itu, apa? Ternyata setelah bertanya kanan-kiri dan ke sana ke mari akhirnya muncul juga wacana yang cukup membuat kernyitan di dahi. Percepatan kepengurusan.

Sistem kepengurusan OKJE FT-UH saat ini secara struktural (dan juga secara kultural) menempatkan mahasiswa angakatan ketiga dari terakhir sebagai pemegang tampuk kekuasaan alias pemegang OKJE FT-UH. Kata “pemegang” dalah hal ini tidak berarti sebagai penguasa penuh atau satu-satunya pemegang kendali atas berjalannya roda kepengurusan dalam satu periode tertentu. Maksud “pemegang” di sini adalah jabatan-jabatan penting dan strategis dipegang oleh mahasiswa-mahasiswa tersebut. Selebihnya diisi oleh angkatan setahun lebih muda dan kemudian penggabungan ketiga angkatan terakhir untuk mengisi keanggotaan di kompartemen-kompartemen.

Berbeda dari sistem struktur kelembagaan di beberapa lembaga mahasiswa lain (terutama di luar Teknik) yang menempatkan mahasiswa angkatan kedua dari terakhir sebagai pengurus inti dalam lembaga tersebut.

Nah, pertanyaannya kemudian, sistem manakah yang terbaik?

Bukan jawaban yang akan sama-sama kita lihat selanjutnya. Karena secara tidak sadar terbukti bahwa ada paradigma yang keliru dari pernyataan-pernyataan di atas. Kesan bahwa Pengurus OKJE periode tertentu adalah milik angkatan tertentu. Misalnya, ketika yang menjabat sebagai Ketua Umum HME FT-UH adalah berasal dari angkatan 2006, maka secara tidak tertulis pemilik lembaga adalah angkatan 2006.

Jelas salah karena lembaga bukan milik angkatan, tapi milik seluruh masyarakat.

Karena itu jika seluruh masyarakat OKJE FT-UH sadar betul akan konsep ini, seharusnya tidak menjadi masalah apakah yang memegang lembaga adalah mahasiswa tahun ketiga atau kedua atau berapapun. Yang patut menjadi perhatian dan perhitungan adalah seberapa kapabel sosok tersebut untuk memegang tampuk pemerintahan. Sebaik apa sosok tersebut memegang amanah, memegang seluruh cita-cita lembaga dan orang-orang yang ada di dalamnya, seapik apa sosok tersebut menjalankan roda-roda organisasi, membuat geliat di dalamnya tetap ada bahkan geloranya selalu menyala.

Nah, selanjutnya mari kembali kepada kondisi OKJE FT-UH saat ini. Sama-sama kita tahu bahwa jabatan-jabatan strategis seperti Ketua DMME FT-UH dan Ketua Umum HME FT-UH dipegang oleh mahasiswa tingkat ketiga. Selanjutnya jika wacana atau seperti yang terlontarkan oleh pernyataan di awal tulisan tadi kemudian santer beredar di seantero lantai tiga dan POMD lantai dua, dapatkan percepatan kepengurusan diberlakukan? Mulai tahun ini?

Jelas dan pasti akan ada gejolak yang terjadi terutama di angkatan 2007. Ada sebagian mahasiswa 2007 (atau yang sama-sama kita sebut dengan begitu keren = pixel zer07even) pasti akan menanggapi hal tersebut dengan negatif, sebagai konsekuensi buruk yang kita pastikan akan terjadi. Sebagian lagi mungkin mencoba berbesar hati dan bersikap legowo untuk menerima keputusan tersebut walaupun mungkin ada perih dan sesak yang tertahankan yang mereka rasakan.

Bukan berarti angkatan 2007 kemudian terjustifikasi sebagai angkatan yang tidak berbesar hati dan legowo demi kebaikan organisasi bersama. Bukan. Sebijak-bijaknya sebuah angkatan, pasti selalu ada pihak-pihak yang memiliki pemikiran dan keyakinan lain yang berbeda dengan pemikiran yang mungkin bagi sebagian orang adalah sebuah pemikiran terbaik dan itu wajar-wajar saja sebagai bagian dari “dinamika” berlembaga. Toh gejolak seperti itu juga muncul akibat kebiasaan atau kultur selama ini yang mengondisikan seperti itu.

Teralisasikan atau tidak, semua itu merupakan keputusan yang diambil oleh masyarakat OKJE sendiri. Keputusannya adalah merupakan pilihan masyarakat OKJE sendiri.

Siap atau tidak, suka atau tidak, angkatan tahun berapapun yang memegang kepengurusan harus siap menjalankan roda kepengurusan selama satu periode, entah itu mahasiswa tahun ketiga atau mahasiswa tahun kedua dan –seharusnya- seluruh masyarakat OKJE FT-UH.

Sekali lagi ini bukan masalah angkatan berapa yang memegang kepengurusan, bukan. Ini masalah seberapa siap kita –seluruh masyarakat Elektro- menjalankan kepengurusan selama satu periode. Bagaimana angkatan yang terkesan “dilangkahi” tetap berbesar hati dan turut serta menyukseskan jalannya kepengurusan, bukan malah bersikap apatis dan meninggalkan lembaga berjalan sendiri. Bagaimanapun para pengurus yang notabene “junior” dari angkatan tersebut masih perlu bimbingan, arahan, dan nasehat dari para senior-seniornya. Dan bagi mereka yang secara tiba-tiba “mesti” memegang kepengurusan juga harus bersikap dewasa dan bertindak serta berpemikiran dan berperilaku selayaknya seorang pengurus. Jangan sampai angkatan kedua ini malah bertindak tidak professional sehingga memberikan kesan “karbitan” sehingga mengecewakan banyak pihak. Karena lembaga ini adalah lembaga besar. Karena lembaga ini memegang mimpi-mimpi seluruh kader untuk diwujudkan.

Semoga bermanfaat.

Hidup Teknik!

Jayalah Elektro!

Wallahu’alambishawab.

*Tulisan ini dibuat tahun 2009 sebagai tugas essai bakal calon Ketua DMME FT-UH PEriode 2009-2010… ^____^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s