.::bisikan kalbu::. · my stuff · Setangkup Roti Cokelat

Ketika Prambanan jadi Besi

http://ramonda.deviantart.com/art/prambanan-127196665?q=boost%3Apopular%20prambanan&qo=49

http://japgirl90.deviantart.com/art/Candlelights-66148112?q=boost%3Apopular%20in%3Adigitalart%20petronas&qo=115

Perjalanan wisata ke negeri Jiran bulan kemarin. Indah, megah, teratur, bersih, tertib, wangi, tapi tetap saja selalu rindu pulang.

Ada beberapa ikon negara ini. Yang paling spektakuler adalah Menara Kembar Petronas. Perpaduan antara keanggunan, kekokohan, dan teknologi yang besar. Menjulang di antara gedung-gedung tinggi lainnya, menara yang jangkung itu membuat teringat akan sesuatu yang tinggal di rumah, di Indonesia.

***

Letak geografis yang mempersatukan Indonesia dan Malaysia dalam tali yang bernama “tetangga” tidak kemudian menjamin bahwa keduanya akan terus menerus harmonis hubungannya. Layaknya hubungan kekerabatan yang lain, konflik pun tak jarang menjadi langganan.

Kasus yang paling sering muncul adalah klaim budaya oleh salah satu negara terhadap negara yang lain. Sebut saja masalah batik, rendang, dan wayang.

***

Masalah TKI, teroris, hingga permasalahan batas negara ditambah permasalahan budaya tersebut makin meruncingkan buruknya hubungan antar kedua negara.

Yang paling terakhir adalah wacana pengganyangan hingga perang dengan Malaysia yang walau kemudian berakhir dengan pidato presiden RI yang dianggap lemah dan tidak mengangkat derajat, harkat, dan martabat bangsa. Seakan-akan Malaysia adalah musuh yang sangat licik. Segala bentuk keterikatan kedua negara yang telah ada bahkan semenjak dataran di bumi ini masih satu sepertinya telah hilang dan dilupakan. Yang ada adalah nasionalisme yang berbalut emosi.

Sebagai warga negara yang cinta tanah air, perasaan marah dan terhina sungguh amat wajar terjadi. Namun miris mengakui bahwa perasaan itu benar tapi lebih berbalut emosi kanak-kanak.

Bukan cerita baru lagi bahwa kebudayaan negeri ini banyak yang tergerus modernitas yang ditunggangi oleh kapitalitas. Yang tidak tergerus mulai tertimbun oleh aneka pembaharuan di segala lini kehidupan. Bahasa lainnya adalah kebudayaan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan terancam punah!

Di sinilah letak kelucuannya. Ketika Malaysia mengklaim budaya Indonesia, kenapa warga Indonesia musti marah? Marah karena budayanya diklaim sembarangan? Sementara anak bangsa sendiri yang menelantarkan budaya.

Banyak napak tilas sejarah yang tidak berarti apa-apa karena tidak dirawat dan dikembangkan. Nantilah setelah Malaysia mengklaim -tapi dengan perawatan dan pengembangan yang super hingga sejarah tersebut bernilai- barulah kemudian Indonesia merasa berang dan berteriak-teriak beringas.

Sungguh miris. Kesadaran untuk bersyukur akan kepemilikan kekayaan yang bernama budaya timbul justru ketika budaya tersebut telah jatuh ke tangan yang lain.

***

Jargon-jargon penyelamatan budaya mulai sering wara-wiri di media-media seantero tanah air, juga terpampang lewat pamflet-pamflet atau spanduk di pinggir jalan. Paling tidak, sedikit demi sedikit kesadaran akan penjagaan dan pelestarian budaya mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dari mulai bergeliatnya pentas-pentas budaya dari tingkat pelajar, mahasiswa, hingga komunitas-komunitas seni.

Namunpun demikian, perkembangan ini masih dalam skala kecil. Belum menjadi tren obrolan masa kini.

Lalu adakah cara yang efektif selain menunggu presentase yang semakin kecil?

Mungkin apa yang telah dilakukan Malaysia ada benarnya. Mungkin prasangka baik bisa kita tujukan kepada Malaysia. Mungkin Malaysia jenuh melihat Indonesia –tetangganya- tidak pernah menjaga dan melestarikan begitu banyak sisa-sisa sejarah dan budaya yang dimilikinya. Karena itu Malaysia mencoba menegur Indonesia dengan cara mengusik zona nyaman Indonesia dan kemudian seterusnya diambilah budaya-budaya Indonesia agar kemudian Indonesia menyadari ada yang hilang darinya dan kemudian lebih menjaga budaya dan jejak sejarah tersebut.

Agar Indonesia merasa kehilangan. Agar Indonesa tahu sebenarnya tidak usah jauh-jauh, negeri sendiri pun sudah luar biasa. Sungguh luar biasa.

Silakan mencemooh. Tapi saat ini sepertinya saya memang sedang ingin berpikiran baik. Toh, kalau Malaysia justru seperti pikiran buruk sebagian besar dari kita juga tak apa buat saya. Saya toh dapat pahala karena berpikiran positif.

UNTUK PERANG

Apakah perang adalah solusi? Tidak pernahkan teman-teman berpikir bahwa Malaysia pikirannya pun telah ditunggangi? Ditunggangi oleh mereka aktor dunia yang tidak suka melihat kedamaian. Mereka dalah penjahat kelas internasional yang tidak suka melihat negara-negara sebangsa Indonesia, Malaysia, Afghanistan, Irak, Arab Saudi dan Palestina maju dan berkembang. Diadulah kita. Diaraklah kita ke dalam ring tinju dunia. Afghanistan, Irak, dan Palestina telah tumbang, Arab Saudi sudah tunduk dan tidak berdaya dan ketika Indonesia-Malaysia perang saudara, tertawalah mereka semua. Mereka berhasil memberangus kita satu-satu tanpa mengotori tangan mereka dengan tanah dan darah. Cerdas.

Sekarang. Masih geram pada Malaysia?

Jangan cuma pada Malaysia, jangan cuma presiden RI dengan pidatonya, jangan cuma pada pemerintah dan anggota dewan. Geramlah pada generasi muda seperti kita yang hilang kepekaan, hilang semangat belajar, malu pada budaya sendiri, malu memakai kebaya, malu suka lagu dangdut, gemar mengikuti mode, cari uang lewat judi ala poker, lihai menyontek saat ujian, bangga sudah buang sampah sembarangan, jenuh mengejar prestasi. Ya, geramlah pada semua itu. Geramlah!

Ketika banyak yang mengatakan Prambanan sudah dibuat tiruannya dengan nama Menara Kembar Petronas, tidaklah perlu menantikan Borobudur dibuat memakai emas dan berlian. Namun komentar itu sepertinya terlalu sarkas untuk Petronas yang megah. Toh, belum ada bukti yang membenarkan hal itu.

Mudah-mudahan saya, kamu, kita semua cepat sadar. Indonesia butuh kita, sekarang.

25 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s