my stuff · Setangkup Roti Cokelat

DMME FT-UH dan Yudikator

Ada pernyataan yang entahlah dianggap sebagai sebuah penghinaan atau justru menggelitik  para insan-insan legislator sekaligus yudikator di lembaga kemahasiswaan tingkat jurusan Elektro. Pernyataan itu adalah : dewan itu kerjanya sidang terus! Tidak produktif.”

Bergelut di dunia legislatif sekaligus yudikatif bukan pekerjaan yang mau dilirik oleh mayoritas organistoris. Seperti para anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat di Senayan sana, aktivitas para anggota dewan tidak jauh-jauh dari sidang, sidang, dan sidang.

Pernyataan terlucu sekaligus  terbodoh adalah ketika aktivitas “sidang” tersebut dianggap tidak produktif. Kalau sekedar “kesan” mungkin iya. Kesan seperti itu wajar jika terlontar dari mereka orang-orang non dewan yang mungkin lebih senang langsung bekerja daripada harus berpikir dan menenggelamkan diri dalam sidang-sidang yang menjemukan.

Tingkat keberhasilan sebuah organisasi pada satu periode dapat dilihat dari banyak hal. Salah satu parameter paling sederhana yang bisa dijadikan tolak ukur adalah sejauh mana roda organisasi berjalan pada rel-rel program-program kerja kepengurusan dengan berlandaskan pada Pedoman Dasar Organisasi.

Dalam konsep filosofi Yin dan Yang. Semua elemen di dunia itu diciptakan berpasang-pasangan. Baik itu yang hidup maupun benda mati. Masing-masing adalah elemen penyeimbang bagi yang lainnya. Tanpa salah satunya, maka elemen yang sendiri ini pasti tidak akan mengalami keseimbangan hidup. Hidupnya akan timpang.

Begitupun dalam sebuah organisasi. Lembaga eksekutif walaupun sedemikian sempurnyanya konsep organisasinya seperiode  dengan berlandaskan pada pedoman dasar organisasi, tetap saja butuh lembaga legistlatif dan yudikatif. Bukan sebagai lembaga tambahan atau bahkan lembaga yang secara structural berada di bawah legislatif tapi lebih dari itu, lembaga legsilatif dan yudikatif kemudian secara bersama-sama bekerja saling melengkapi satu sama lain  dalam rangka tercapainya tujuan organisasi.

Dalam lingkup OKJE FT-UH, DMME FT-UH hadir sebagai lembaga legislatif sekaligus lembaga yudikatif yang memegang peranan penting dalam kehidupan organisasi.

Dalam lima poin teratas dari tugas dan wewenang DMME yaitu : Menjabarkan dan mensosialisasikan PDOKJE FT-UH dan GBHOKJE FT-UH; Menampung dan menyalurkan aspirasi Mahasiswa Elektro kepada pihak terkait, mengawasi jalannya mekanisme organisasi dan pelaksanaan program kerja HME FT-UH, memberi saran, pendapat dan teguran kepada pengurus HME FT-UH; dan meminta Laporan pertanggung jawaban tertulis dari ketua Umum HME FT-UH tercermin bagaimana kompleksnya tugas dari sebuah lembaga legislatif dan yudikatif tingkat jurusan elektro. Ini pun baru dari lingkup OKJE FT-UH.

Lebih luas lagi, pengawasan lembaga terhadap kebijakan eksternal OKJE seperti dengan birokrat, misalnya, juga merupakan satu titik perhatian yang pening untuk dilaksanakan. Bagaimana kebijakan birokrat, misalnya, terhadap OKJE FT-UH, apakah merupakan kebijakan yang mendukung atau justru menjerumuskan. Hal ini bisa dianalisa sesuai dengan Statuta Perguruan Tinggi, Statuta Universitas Hasanuddin, dan Pedoman Dasar Organisasi Kemahasiswaan Mahasiswa Elektro. Ketiga landasan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi lembaga eksekutif ekaligus yudikatif dalam melihat berbagai kebijakan yang diberlakukan kepada lembaga Himpunan Mahasiswa Elektro.

Semoga bermanfaat.

Hidup Teknik!

Jayalah Elektro!

Wallahu’alambishawab

*Tulisan ini dibuat tahun 2009 sebagai tugas essai bakal calon Ketua DMME FT-UH PEriode 2009-2010… ^____^

2 thoughts on “DMME FT-UH dan Yudikator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s