.::bisikan kalbu::. · puisi · Setangkup Roti Cokelat

Cinta itu Kamu

Kepada Kamu, Rindu Itu

Aku tak pernah bisa marah
Karena bagiku kau adalah anugerah terindah
Yang mendekap barisan hariku penuh bahagia tumpah ruah
Sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja,
Menghapus kesalku jadi tawa merekah
Dan rinduku tiba-tiba dipenuhi keindahan yang berlimpah

 

Cinta Dalam Sepotong Cerita

Sepertinya aku memang tak bisa menyingkirkan kesetiaanku. Mencintaimu dengan napas terengah dan kepala tengadah menghimpun doa:

“Tuhan, aku selalu ingin menghabiskan setiap detik bersamanya.”

Siapa lagi kalau bukan engkau, yang di mataku tak pernah basi. Seperti pagi yang selalu memberikan benderang untuk bumi. Setelah malam membabi buta menenggelamkannya dalam gelap.

……………………………………..

“Detak yang menjepit detik. Ketuk yang mematuk hampa. Bergulat tiada, mengalir air mata dan melebur  dalam duka. Tangis ini karena tak kuasa, tangis ini jadi pertanda. Ada cinta yang tak terlupa.”

Cinta, Tanda-Tandanya

Menjamu pagi, tanpamu.
Seperti biasa, kangen pun hadir sebagai tamu tanpa jemu.

Sedang apa kamu???

Demimu, aku mau. Demimu, aku mampu−jadi ‘rumah tujuan’ untuk tawa dan tangismu.

Menapak jejak, merunut kata hati  untuk segera bertemu denganmu.
Kangen ini begitu sederhana tapi pasti..selalu datang dan datang lagi.

Pada Satu Rindu, Untukmu

Sadarku tak pernah nyata. Selalu saja berharap,  padahal mungkin sia-sia.
Biarkan saja. Daripada gelisah dan rinduku terkurung  diam di singgasananya, tak berdaya!

Ketika Gelisah Menyapa…

Hanya kosong yang menyekat setiap inci ruang batin.

Bahagia sepertinya tengah angkuh dan menjauh dari tepiku.

Dalam wirid lemah, aku hanya bisa pasrah: temaniku Tuhan dalam kehampaan ini.

Kata-kata Cinta dalam Dua Tanda

Di dekatmu…aku seperti tak lagi butuh kata-kata untuk mengurai arti bahagia.

Aku hanya tahu: kebahagiaan itu ada dan mencetak jejak di setiap inci lajunya.

Jika ini Cinta…

“..jika suatu hari kau temukan cinta, jangan kau terima sebelum kau tersiksa dan terlunta-lunta olehnya.”

Kenapa?

“…karena itu memang jalannya.”

Haruskah dengan derita baru bisa menemukan cinta?

“ …setidaknya, begitulah aku pernah mengalaminya. Dalam lebur penantian yang tersia-sia, dalam gelisah yang menguras logika, dalam belitan asa yang menciumi puncak pengharapan membabi buta.”

Dan akhirnya?

“…tak  juga kutemukan cinta.”

Kurang dalamkah kau tersiksa atau…?

“….sepertinya. Penantian, gelisah, dan gunungan asa yang kualamatkan untuk satu nama, ternyata masih menyisakan pamrih dalam alurnya. Aku berharap ia membalas cintaku. Itu pamrihku. Padahal, itu tak semestinya kulakukan. Cinta semestinya kubangun tanpa syarat, tanpa imbalan apa-apa.”

Lalu untuk apa kau tetap menanti?

“…karena setidaknya, bisa mencintainya meski tak berbalas, itu adalah sebuah anugerah tak terhingga. Bisa mencintai saja, telah cukup buatku.”

Atas Nama Apa, Cintamu?

…………………………………..

Tak ada tanda yang kau jelmakan. Tak ada sinyal yang kau gaungkan. Tak ada sepatah kata pun terucap di bibirmu. Hanya sebaris kata dan sejuta luka yang kau sisakan untukku.

Atas nama apakah kedekatan kita selama ini?

Begitu sederhana kau memulakan, begitu menyakitkan kau mengakhirkan.

Ikhlas Demi Dia

Menangislah…

jika itu membuatmu terbebas dari segala beban cinta yang menjeratmu.

Setelah itu…

tertawalah jika kau yakin,

ikhlasmu telah menjadikanmu ratu yang paling berbahagia

Bahagia…

oleh air mata,

oleh cinta yang sebenarnya.

Dan…

relakan dia dalam rengkuhan cintanya.

Kepada Hatimu: yang Bukan Untukku

“…..untuk kesekian kalinya aku mencoba menyapa cintamu. Tapi tak ada jawab. Yang kutemui hanya lembap udara yang berembus panas. Tak ada gerimis turun, membuat terik matahari bebas menerabas daun-daun dan jatuh di wajah tanah merah dan aspal. Gerah segera berubah peluh. Menyatu bersama degup jantungku yang mulai kehilangan jejakmu.

…………………………………………..

“….Terima kasih untuk setiap sentimeter kebahagiaan yang telah kau berikan. Berbahagialah dengan kekasih pilihan hatimu. Aku akan coba untuk rela; merelakan hatimu untuk orang lain, bukan untukku.

Saatnya Melupakan, Mungkin…

Mungkin ini sudah saatnya aku harus mulai belajar melupakanmu. Mungkin ini saatnya juga aku memilih  untuk belajar  menjadi teman saja, buatmu. Meski kenangan tentangmu tak mudah  kuhapuskan, biarlah semua membusuk bersama-sama luka yang hidup dalam kesia-siaan. Tapi aku akan tetap setia menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu. Setidaknya aku berzikir lemah untuk pilihanmu. Semoga bahagia menjemput, setia memayungi cintamu.

“ Semuanya memang telah berakhir,” desisnya.

Terpuruk kecewa, mengucap selamat tinggal pada bahagia.

Kuyup letihku bertabur sepi dan sendiri

Cinta dan penantianku berakhir di ujung sia-sia, sirna tak bersisa

Dan, semuanya karenamu jua.

Cinta Di Titik Nol

Apa yang akan kau ucapkan saat hatimu tak bisa lagi berlari dari nyata. Selalu saja berpihak pada mimpi yang kau yakini suatu saat akan menghadirkan getar bahagia untuk harimu….

Dan ternyata,

Semua masih sama. Satu cinta yang kau iba-iba tetap saja tak sejalan dengan maunya hati. Setia menggantungkan segala harapan yang kau ikat pada altar jiwamu di kaki langit yang bersemu mendung yang bisu tanpa kata-kata….

Dan ternyata,

Jejak awal yang kau mulai, dan telah melewati gulungan hari, tetap kembali pada jalur semula. Seribu jejak tetap bermakna satu jejak. Hati yang kau pilih untuk kau singgahi sebagai pelabuhan mimpi, hanya mengibarkan bendera hampa. Sekejap sapa yang luruh, secuil senyum yang tumpah, dan serentet cerita yang merajut hari, tak memberikan jawaban apa-apa.

Masih sama. Selain sepotong kebersamaan bersemu getar gelisah dan lilitan cinta yang menyisir sunyi, selebihnya adalahnol.

*****

Kepada kamu, cinta itu….

ingin kuawalkan

−dan kuakhirkan.

[dikutip tanpa perubahan apapun dari “Cinta itu, kamu..”, Moammar Emka]

4 thoughts on “Cinta itu Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s