.::bisikan kalbu::. · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Setelah Cinta dan Setia, Kata Untukmu Adalah Percaya

“Aku harus percaya yang mana?”tanyaku setengah putus asa.

“Masih tanya juga? Aku sudah berkali-kali bilang percaya saja padanya.”kata seorang teman.

Aku hanya bisa menghela napas.

“Tanyakan pada hatimu, kalau begitu.”katanya lagi melihat kerutan di dahiku.

Tidak. Tidak perlu. Aku sudah pernah bertanya pada hati. Sering berdialog dengan hati. Dan beruntunglah karena hatiku menjawab…

“Ya. Aku percaya padanya.”kataku kemudian.

Dialog itu kemudian tak berlanjut lagi. Yang tersisa hanyalah aku dan seulas senyum.

Aku percaya padamu.

Bukankah itu keren? Aku yakinkan diriku bahwa aku percaya padamu. Keyakinan itu akan membuat tubuhku mengeluarkan energi positif yang selanjutnya dijawab oleh alam semesta yang akan mengalirkan energi-energi positif baru kemudian… BAANGGGG!!!!…kamu menjadi sosok yang memang benar-benar terpercaya.

Bukankah itu ide yang brilian?

***

“Huh! Aku sudah malas mengurusi kalian!”keluh seorang sahabat yang berulang kali (baca=selalu) kurepoti dengan curhatan-curhatan tak mutu, baik itu secara langsung, via sms tengah malam, ataupun pesan-pesan di dunia maya.

“Iyahh… Maaf…”kataku menggantung nada.

“Ehh, maksudku bukan begitu, sayang! Masalahnya apapun yang kuperbuat juga tidak mengubah keadaaan jadi lebih baik.”katanya lagi.

“Iya. Aku mengerti. Kau sudah ada di sini saja itu sudah cukup.”kataku nyengir. Ia menatap setengah khawatir.

***

Untuk percaya, bahkan ketika kau bilang tak usah percaya, aku tetap saja bersikukuh untuk percaya.

Bukankah aku selalu berusaha mengabulkan permintaanmu? Bahkan ketika kau meminta untuk pergi?

Ya, aku tidak sedang berbuat apa-apa. Hanya sedang mengabulkan permintaanmu dan percaya… percaya bahwa semua yang kau katakan adalah benar. Percaya bahwa waktu akan menjawab segalanya. Percaya bahwa semua akan indah pada waktunya –apapun akhir cerita ini-.

“Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Kau dan aku tegak berdiri, menyusuri hutan-hutan yang menjdi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin…”[soe hok gie]

Aku selalu percaya ini akan berakhir bahagia… Selamat berjuang!

Sembilan – Lima – Sebelas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s