Uncategorized

Some Shhh…..

Merasa bodoh saja. Harus merengek-rengek pada dia, sementara dia justru jijik dan menganggapku gila. Dasar perempuan bodoh! Itu katanya dalam hati. *sok jago baca hati…

Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu… ingat lagunya Ten 2 Five yang satu ini. Huft.

Netralkan saja. Mari kita redam sama-sama.”

Ohh… Baiklah, kalau itu yang kau mau… :’)

Ugh, dulu… Waktu zaman dahulu aku pernah melakukan hal seperti itu. Melakukan semuanya dalam diam. Tanpa memberi tanda. Tanda mengirim sinyal apa-apa.

And then…

Semuanya berakhir sia-sia. Tahun demi tahun yang dijaga itu tidak ada artinya. Karena dia akhirnya memilih bersama orang lain yang mungkin lebih mudah mengatakan “aku cinta padamu” seperti mudahnya dia mengalungkan lengannya di lehermu. Dan ya… kau serasi dengannya.

Karena itu! Karena itu sekarang aku lebih suka membuka dan mengumbar. Jujur, memendam itu sakit. Apapun itu. Karena tidak semua orang bisa membaca kata di balik diammnya kita. Tidak banyak yang bisa menerjemahkan senyum kesakitan. Tidak. Sungguh tidak banyak.

Di sini ada yang berderai air mata, dan di sana dia terwa-tawa.

Mau menyalahkan dia? Tidak bisa lah… Dia kan tidak tahu!!! Dia sungguh tidak tahu. Dan karena itu dia tidak bersalah… Dia tidak boleh disalahkan. Dia tidak bersalah…

Lalu kalau begitu, kenapa kemudian “mengumbar” itu jadi salah?

Memangnya kenapa?

Aku toh tidak pernah menyebut namanya di setiap catatanku! Tidak pernah.

Enak, saja! Tidak mau, aku! >_<

Toh aku juga tidak pernah minta apa-apa. Semua fasilitas yang bisa kuberikan itu gratis. Tidak usah dia bayar. *terus kenapa kamu marah-marah padahal kamu bilang tidak minta apa-apa? Iya juga yah… Kalau begitu aku punya cinta yang berpamrih. Ingin balasan… Betul. Balasan. *lalu kalau tidak ada balasan? Mau sok-sok nyanyi lagunya Gwyneth yang forget you? Huh, dasar labil! >_<

Cinta Dalam Sepotong Cerita

Sepertinya aku memang tak bisa menyingkirkan kesetiaanku. Mencintaimu dengan napas terengah dan kepala tengadah menghimpun doa:

“Tuhan, aku selalu ingin menghabiskan setiap detik bersamanya.”

Siapa lagi kalau bukan engkau, yang di mataku tak pernah basi. Seperti pagi yang selalu memberikan benderang untuk bumi. Setelah malam membabi buta menenggelamkannya dalam gelap.

……………………………………..

“Detak yang menjepit detik. Ketuk yang mematuk hampa. Bergulat tiada, mengalir air mata dan melebur dalam duka. Tangis ini karena tak kuasa, tangis ini jadi pertanda. Ada cinta yang tak terlupa.”

-moammar emka. cinta itu kamu-

dibuat dengan penuh ketidakjelasan

Lima Lima Duaribu Sebelas

4 thoughts on “Some Shhh…..

    1. ohh…hehe… na saya juga msih belajar ji kodong…

      ayokmi kita sama2 belajar…

      tanya2 mka apa yang Dhita mau tanya… kalau se tau se jawab
      kalo ndak, kita cari sama2… :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s