Setangkup Roti Cokelat

TIDAK BOLEH ADA BINA AKRAB!

*tulisan lama…

Sore itu cerah, tidak mendung. Walau demikian mentari tidak bersinar garang. Tidak garang. Yang garang justru pernyataan itu. Pernyataan yang menjadi judul catatanku ini. Tidak boleh ada bina akrab!!! Karena prosesi penerimaan mahasiswa baru hanya terdiri dari dua hal yang dianggap amazing dan teramat sangat efektif untuk mahasiswa baru: PMB (penerimaan mahasiswa baru) dan BSS (basic study skill)… >.<

Tersenyum kecut dan mataku tertuju pada barisan mahasiswa baru mesin yang berbaris rapi di bawah sana. Ada teriakan, “MATAMU!!!”, ada juga, “WOI! TUNDUKKO CILAKA!!!”, atau di  hari yang lain : POSISIKO!!!!

Bukan. Demi Tuhan bukan iri. Aku hanya teringat bagaimana para senior dari senior termuda hingga tertua yang kutemui saat maba dulu memperlakukan kami dengan tegas, eh, garang, tapi tetap manusiawi. Betapa pengumpulan tingkat jurusan jauh lebih banyak pengunjungnya daripada pengumpulan yang lain. Kenapa? Karena Elektro begitu damai. Elektro begitu baik? Terlalu lembek?

Apa yang Mesti Ditakutkan dari BINA AKRAB?

Tadi malam aku sangat malas mengerjakan tugas kuliah. Maaf, bukan malas. Sedang bosan. Bosan karena terlalu banyak. Alah, kau yang baca tidak usah sok rajin lah. Seperti tidak pernah malas kerja tugas saja….^^

Oke. Lanjut. Kemudian di tengah kemalasanku itu aku membongkar-bongkar file-file foto lama. Foto-foto anak teknik. Foto-foto bina akrab. Bina akrab beberapa angkatan. Bina Akrabku

Dan biar lebih mantab, daftar lagu-lagu cadas dan dangdut di winampku segera kugantikan dengan lagu : Jikustik-Teman Seperjuangan, Kunci-1=sama, Naff-Sahabat, Peterpan-Bintang di Surga, Cokelat-Tak Pernah Padam

WHUAA!!!!!

Teramat sangat lebay tapi aku benar-benar rindu dengan bina akrab. Dan demi Allah jika bina akrabku diulang (bina akrab angkatan cess nah, bukan angkatan yang lain, hehe), maka aku akan dengan senang hati mengikutinya kembali. Menjadi peserta bina akrab adalah posisi paling menyenangkan sebenarnya. Paling membahagiakan. Maka lewat tulisan  ini pula kusampaikan kembali rasa terima kasih angkatanku kepada para Kanda-Kanda senior yang telah mempersiapkan perhelatan sakral ini. Terima kasih buat segala kerja keras yang tulus ikhlas. Terima kasih. Aku sudah ingin menangis sekarang. Huhu. Lebay.

***

Sekali lagi : Apa yang mesti ditakutkan dari Bina Akrab (Elektro)?

Aku heran. Begitu heran. Sangat heran ketika ada pihak-pihak tertentu yang begitu fobia dengan bau-bau perpeloncoan. Mungkin sedikit wajar akibat terjadinya beberapa kasus tidak menyenangkan buah dari proses pengaderan di jurusan lain. Tapi itu tidak membuat kita menjadi takut berlebihan, bukan? Tidak membuat kita selalu berpikir negatif, bukan? Toh, bukti selalu menunjukkan prosesi yang selama ini sejak jaman dahulu kala selalu berakhir bahagia. Tidak pernah rusuh. Tidak ada yang berdarah. Bahkan Bapak Ketua Jurusan –pada saat itu- sempat bernostalgia dan mengenang masa-masa beliau saat menjadi Ketua Himpunan dan Ketua Senat. Atau bagaimana para dosen yang menghadiri salah satu bina akrab menjadikan itu sebagai ajang rekreasi (baca: mandi-mandi di sungai).

Haloo!!! Kami –anak elektro- masih manusia juga. Kami anak elektro, bukan bangsa Barbar!!!

Kami memakai komponen-komponen elektronika untuk membuat rangkaian, bukan untuk mencolok mata mahasiswa baru atau menggebuk kepala mereka hingga berdarah dengan oscilloscope. Tidak. Tidak sekejam itu. Toh, oscilloscope mahal harganya.

Kami hanya ingin punya adik baru dengan karakter mereka masing-masing tapi yang telah terluruskan hati, jiwa, dan pikirannya. Kami hanya ingin adik-adik kami berhasil menjadi mahasiswa seutuhnya. Mahasiswa yang cerdas, kreatif, dan inofatif. Mahasiswa yang peka terhadap kondisi sosial. Mahasiswa yang memikirkan bagaimana cara membantu dan mengabdi pada masyarakat dengan bekal ilmu yang dimiliki saat ini. Mahasiswa yang sopan, santun dan baik pada dosen, senior dan teman-temannya sendiri. Mahasiswa yang merakyat, suka meleburkan sekat-sekat golongan seperti suku, agama, berasal dari SMA yang sama, dan kekayaan saat berkumpul bersama.

Bukan mahasiswa yang ke-siswaan. Bukan mahasiswa yang timpang hidupnya. Akademik, akademiiik terus (sementara softskillnya tidak terasah). Bukan pula mahasiswa yang kerjanya berlembagaaaaa terus (sementara IP-nya jeblok). Apalagi mahasiswa yang orientasi hidupnya adalah hura-hura. Poin terakhir mungkin lebih terkhusus pada mereka yang hedonis, yang menjadikan hura-hura jauh lebih wajib daripada membaca Al-Quran. Eh, nyambung nda, ya? Hoho.

Dan satu lagi. Kami tak mau ditakuti berlebihan. Cukup santun dan hargai kami (awas ada yang bertanya, “mau dihargai berapa?” -_-; ).

Anggap kami kakak. Seperti kakak kandung kalau perlu.

Jadi, apa yang mesti ditakutkan?

Ah, sudahlah. Aku sudahi saja. Nanti malah dikira memprovokasi, padahal aku kan cuma memengaruhi. hahaha.

Nanti aku diancam skorsing lagi! Dua semester, gan! -_-;

Atau nanti aku dihina di depan mahasiswa baru lagi!

Beuh. Tak sudi.

Mending aku sekarang memutar ulang lagu-lagu angkatan 2003-2009 dan mengenang masa-masa indah menjadi mahasiswa baru. Masa-masa menyenangkan PENGUMPULAN dan BINA AKRAB.

Kalo mereka tidak mau ya tidak usah.

Dari dulu kubilang, mending angkatanku jadi mahasiswa baru abadi saja!!!  x_x

8 Desember 2009

12 thoughts on “TIDAK BOLEH ADA BINA AKRAB!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s