.::bisikan kalbu::. · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Edisi Narsis – Ketika Emon Badmood

Kebahagiaan itu tidak kita tunggu untuk datang sendiri. Kebahagiaan itu buat Emon mesti diusahakan… Jadi, kebahagiaan apa yang akan kita jemput hari ini? ^^

Sudah beberapa hari ini si Emon kerasukan jin badmood yang tidak mau keluar-keluar. Mungkin karena Emon lupa mengirim e-mail seserahan ke jin badmood berisi poto ayam hitam dan telur ayam warna putih yang diedit pake photoshop dengan konsep “emo”. *ngasal!

Memang kalo urusan badmood itu menjadi rumit kalau keterusan dan susah disembuhkan. Dan si Emon kalau begini sih asiknya dibelai dengan manja, didekap lalu didorong ke danau Unhas.

Angel sound : tapi Emon kan tidak bisa berenang!

Devil sound : kan nanti ada pangeran penolong datang! :evilsmirk:

Angel sound : siapa? Penjual bakpao?

Sudahlah. Bukan penjual bakpao yang diharapkan Emon muncul saat Emon menghadapi kesulitan. Bukan penjual bakpao tapi dia. Hanya dia! Cuma dia! Emon cuma mau dia! Halah! Ngarep kok berlebihan, Jeng? Hahaha

Jadi begitulah ceritanya. Emon badmood teramat sangat. Hingga pada suatu hari seorang kakak senior Emon tiba-tiba bertanya padanya. Hari itu hari ketiga Emon badmood.

“Kenapaki, Dek?”si Kakak bertanya. Lokasi percakapan ini kira-kira di dalam LPLK. Saat itu Emon sendiri bengong menatap Monika –laptopnya-. Yang ditatap cuma malu-malu kadal.

“Eh, ndak jie, Kak. Kenapakah, Kak?”tanya Emon balik sambil sok memasang wajah tidak mengerti.

“Lagi ada masalah, ya? Kenapa sabar sekaliki hari ini?”tanya beliau lagi. Sampai di sini Emon langsung memasang senyum paling tulus sedunia. Eits, yang ini tulus dari dalam hati. Si Emon tiba-tiba senang karena ada yang bertanya seperti itu padanya.

“Hehehe. Tidak jie, Kak…”jawab Emon sambil nyengir. Sebenarnya alasan Emon nyengir kuda begitu adalah karena kata “sabar” yang dilontarkan si kakak. Sabar? Artinya selama ini aku bagaimana? Binal dan liar, gitu?  Ckckckckck.

***

Semenjak percakapan sederhana itu Emon pun merasa tengah jatuh cinta. Hahaha. Tidak lah… Semenjak hari itu Emon jadi sadar. Kalau beberapa hari kemarin ia ternyata gagal memasang ekspresi datar dan tidak ada apa-apa. Ahhh… ekspres cool itu memangnya bagaimanakah? -_-a

Kesadaran pun perlahan mengusir jin badmood tadi. Badmood melulu hanya sia-sia. Badmood hanya menjauhkan kita dari rasa senang dan bahagia. Siapa yang bisa membuat kita bahagia selain diri kita sendiri? Kalau bukan kita siapa lagi? Menunggu orang lain? Jadi, kalau tidak kunjung datang orang-orang yang bisa membuat kita bahagia kita mau apa? Bunuh diri? Bodoh. Create your own happiness!

Semangat!   /   /   /

Dan Emon pun beranjak keluar laboratorium yang bau apek itu. Ia membuka pintu perlahan dan menghirup udara yang tidak segar. Huaaahhhhhhhhh… Create your own happiness! Ulang batin Emon dalam hati sambil berjalan menuju tangga di dekat meja pak Ruslan.

***

Lokasi : Bangku kayu panjang depan meja Pak Ruslan, lantai tiga Elektro Unhas

“Halo, cantik…!”Emon menyapa kekasih hatinya yang tak lain dan tak bukan adalah Husnul Khatimah Mansur alias Nunung dan rekan kerjanya paling tersayang Nirmalasari. Ini sih seperti pancingan saja. Soalnya entah kenapa kedua perempuan itu juga memasang wajah datar.

Ini jin badmood pindah orangkah? Batin Emon asal.

“Ke atas dulu ambil kunci motor nah.”tiba-tiba Mala bergegas turun ke lantai empat. Hehehe. Naik ke lantai empat, maksudnya! Ya iyalah. Elektro Unhas kan cuma empat lantai! *garing

Dan begitulah. Sepeninggal Mala, Emon dan Nunung pun saling bertatapan mesra. Tidak ada orang lain di situ. Meja dan kursi pak Ruslan –pegawai jurusan- kosong.

Emon menahan napas, mencoba menghalau segala sesak yang ada di dalam dadanya. Ada ribuan kata cinta yang hendak tumpah ruah tapi ditahannya kuat-kuat. Ya Allah, mungkin ini bukan saat yang tepat mengatakannya. Emon beseru kepada Ilahi dengan lirih.

Di sebelahnya Nunung yang juga tengah menatap mata Emon langsung menundukkan pandangannya. Ya Allah, aku terlambat menundukkan pandangan. Nunung, menyesal dalam hati. Ia tahu ini tidak semestinya mereka lakukan. Tidak. Ini salah. Ini tidak benar.

Emon kemudian ikut menunduk. Ia menelan ludahnya dan berusaha tenang.

“Nunung…”panggil Emon pelan. Mesra.

“Mon…”Nunung membalas dengan khusuk.

“Emon, ayok kita pi makan rujak!”kata Nunung sambil menghela napas lega. Akhirnya lepaslah perasaannya. Akhirnya semua kata yang tadinya ia tahan dapat keluar dengan mudah. Ternyata jujur pada perasaan sendiri itu menyenangkan dan melegakan.

Emon tersenyum manis. Langit sore yang belum merah itu mengangguk puas melihat anggukan Emon yang senang.

*ngeek!

***

Di tempat rujak, pondokan, Unhas.

Mala dan Nunung duduk di kursi panjang. Emon berdiri di hadapan keduanya. Mulutnya komat-kamit. Nada suaranya bergelombang, mengalun naik dan turun mengikuti konteks kalimat yang diucapkannya. Eits, jangan salah sangka. Emon bukan sedang konser atau sok jadi penyiar berita dengan suaranya yang lebay dan bikin mau muntah seperti biasa. Karena Emon sedang > ngomel-ngomel. Hehehe.

Bukan mengomeli kedua perempuan paling baik sedunia itu. Si Emon sedang curhat tentang hal yang membuatnya sering kosong pikiran dan akhirnya kesambet jin badmood beberapa hari kemarin.

Emon terus nyerocos begitu saja dan tidak terkendali. Tidak peduli kalau di situ banyak orang. Emon tidak peduli bahwa si tukang rujak sudah mengarahkan pisau dan biji mangga ke arahnya dan sebentar lagi mengarahkan tepat ke kepala Emon. Si tukang rujak tadinya mengira Emon sedang orasi di tengah-tengah pelanggannya bahwa semangka tidak boleh dimakan dengan gula merah. Karena itu si tukang rujak mesti membuang semangka dari daftar campuran rujaknya atau robot BAE 2010 akan datang dan merusak gerobak tukang rujak tanpa welas asih. Hayo, pilih mana?  -_-;

***

Mentari sore mulai memerahkan langit. Emon sudah mulai diam. Bukan karena apa, tapi lebih karena Emon sedang mengunyah rujak dengan lahap. Setelah curhat panjang lebar, moodnya kembali baik. Napsu makannya tiba-tiba meningkat tajam. Lebih dari itu karena di sampingnya ada Mala dan Nunung tersayang yang saat itu bergantian berkomentar tentang permasalahan yang sedang mereka obrolkan.

“Tidak ada jie yang berpikiran buruk ke kau.”kata Mala sambil mencocol pepaya ke gula merah.

“Iyo. Setelah dengar cerita lengkapnya ternyata se baru tau penjahatnya bukan cuma kau.” gantian Nunung yang berkomentar sambil ketawa.

Emon mengunyah nanas dengan pasrah. “Masalahnya, jelek mi lagi namaku kesian.”

“Sudahmi deh. Jangan mi diungkit-ungkit lagi.”

Emon menghela napas. “Bukan persoalan ini masalah disudahi atau dilanjut. Ini persoalan persepsi orang ke saya.”

Kepala Emon lalu ditoyor dengan lembut sebagai ganti teriakan “ We! Posisiko!” dari Mala. Emon lalu tersenyum. Mungkin mengakhiri semuanya adalah solusi terbaik saat ini.

Langit sore kembali menjadi saksi. Si jin badmood kalah telak oleh cinta dan persahabatan dan rujak dan si tukang rujak (tawwa mau sekali disebut-sebut juga).

“Nung, mauka bungkus satu rujak. Pinjem duitmu nah…”si Emon merayu.

“Mdedeh. Berhutang demi cinta!”Nunung mengejek. Emon tertawa.

“Dompetku di lab… Se nda bawa duit sekarang! Se ganti sebentar. Tunai! ”Emon keukeuh merayu.

Sore itu indah. Emon, Nunung, dan Mala kembali ke lantai tiga. Si jin badmood berencana terjun ke danau Unhas. Dan kisah ini pun berakhir bahagia.

Tamat

My room, 23 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s