cerita pendek

. SAMPUL .

Cerita ini terinspirasi dari Atti dan Rifad di kelas Medan… Mudah-mudahan mereka ingat…

“Yippi!!!” Liana jerit-jerit kegirangan sambil  menjunjung tinggi beberapa lembar kertas dengan kedua tangannya. Ekspresinya…bisa dikategorikan seperti ekspresi atlet yang dapat medali emas atau bisa juga seperti ekspresi pasien sembelit yang akhirnya bisa defekasi dengan sempurna. Hmm…yang terakhir sepertinya berlebihan. Hapus saja yah… ^^

Jadi begitulah ceritanya. Si Liana senang sekali karena akhirnya setelah dua jam berkutat dengan 5 nomor soal Medan Elektromagnetik, soal-soal yang sangat menjunjung tinggi kepekaan otak dan imajinasi itu selesai dengan sempurna.

Hebat yah, Liana?

Flashback…

Dua jam yang lalu…

“Ya Allah… Ya Robbi…”desah Liana penuh kekhusyukan. Ia menggeleng pelan penuh perasaan dengan dahi mengerut tujuh kali. Seperti terdampar di pulau tak berpenghuni seorang diri, melihat soal-soal pe-er Medan Elektromagnetikanya itu Liana merasa asing dan tidak mengerti alam semesta sama sekali.

Huft. Sekali lagi Liana menggeleng tak berdaya. Tak satupun soal yang sepertinya bisa diselesaikannya. Padahal tugas itu dikumpul esok pagi pukul 07.30.

“Ya Allah!!!”kali ini Liana menjerit tertahan.

***

Satu setengah jam yang lalu…

“Aduhhh!!! Kenapa tidak ada yang aktif???”Liana menggerutu karena hampir semua nomor ponsel teman-teman perempuannya tidak ada yang aktif. Yang aktif pun tidak diangkat.

Liana sudah hampir menangis.

Mungkin aku harus sedikit berusaha. Liana menabahkan hatinya sambil menyalakan laptop sambil menyesali kenapa selama kuliah berlangsung ia tidak pernah konsentrasi. Mata kuliah apa itu? Nggak ngerti!!! Gerutunya dalam hati. Liana… Liana… belajar yang ikhlas, dong!

Satu menit –booting

Dua menit – starting up

Sip… Liana kemudian mencari bahan kuliah yang terkenal suka meneror mahasiswa elektro sedunia itu. Hiyy…

Dapat! Liana bersorak dalam hati. Ia kemudian membuka beberapa file pdf yang dirasa punya kesempatan besar menyelesaikan pe-ernya. Sebuah senyum mengembang di bibirnya.

Tapi sayang beribu sayang. Mungkin sudah lima belas menit berlalu, mata Liana tidak berpindah dari layar monitor LCD itu. Tentu saja ini bukan pertanda baik. Ini berarti Liana sama sekali belum menemukan solusi dari pe-ernya itu.

Sekali lagi Liana menggeleng tak berdaya. Matanya sudah berkaca-kaca. Mustahil ia menyelesaikan soal itu. Liana menyerah. Kepalanya dibawanya jauh-jauh ke belakang dan dibiarkan menggantung beberapa detik di udara.

Huahhh!!! Ayoo Lianaaaa… ayo semangat!!!! Ayo online sajaaaa…!!!

Dasar Liana! Bukannya terus usaha mengerjakan pe-ernya, ia malah memutuskan untuk menghentikan pencariannya dan memilih untuk online.

Evdo-ku mana yah??? Dalam hati Liana bertanya. Tangannya sibuk membongkar-bongkar.

“yeiyy!!! Dapat!!!!”sahutnya senang. Modemnya diangkat tinggi-tinggi berlebihan. Berlebihan bau ketek, maksudnya.

Tidak lama kemudian Liana sudah tenggelam di kehidupan maya yang terang benderang. Setelah membuka beberapa situs yang wajib ia kunjungi, Liana membuka sebuah situs mesin pencari paling terkenal di seluruh dunia. Google.

Iseng-iseng Liana mengetikkan soal pe-ernya itu di google setelah mencoba mencari namanya sendiri di Liana Putria. Ini bukan iseng lagi tapi memang kurang kerjaan!

Wushh… hembusan angin terdengar jelas. Hening dan sepi. Kalau ada jarum yang jatuh pasti bunyinya bisa kedengaran. Napas liana pun jelas…eh, tidak ada suara napas Liana! Tidak ada!

Ternyata si Liana sedang menahan napas. Matanya membelalak dan tertumpu pada layar LCD laptopnya. Liana menemukan situs yang… membahas lima nomor soal pe-er medan elektromagnetiknya!!!

Hanya beberapa detik si Liana pun tak tahan menahan napas. Ia serta-merta bangkit berdiri dan mencari lantai yang lapang. Dengan khusyuk dan hati yang basah Liana segera sujud syukur.

Duhh Gusti Allah… nuwun sewu… thank you… arigatou…

Tanpa menunggu godaan berleha-leha lain si Liana pun segera menyontek lurus jawaban soal-soal itu. Dua jam semua sudah tersalin sempurna. Dan untuk menghilangkan jejak serta aroma kalasi, Liana membuat beberapa gambar dengan spidol warna-warni. Biar kelihatan rajin dan tekun. Dasar!

***

Ngiiing… Tret…tret… treeeeettttt… Ngiiik….ngikk…. treeeetttt…..

Ini bunyi printer tua punya Liana. Setelah selesai menulis tugas, sekarang saatnya mencetak sampul. Dan di sinilah inti cerita ini dimulai. Sementara membuat sampul, Liana tiba-tiba teringat dengan Fahri. Fahri itu teman kampusnya Liana. Liana suka Fahri.

“Aku mau buatin Fahri sampul, ahh…”Liana membatin.

“Eh, tapi nanti disorakin temen-temen gimana?”ia bertanya pada dirinya. Betul juga. Kalau Liana membuatkan Fahri sampul tanpa sebab, teman-teman pasti akan menjahilinya lagi.

“Ah iya..  aku buatkan saja sampul untuk teman-teman sekelas!” Liana mengangguk senang.

Sampul untuk teman sekelas? Ternyata cinta itu butuh modal, yah?

***

Di kampus.

“Fahri! Fahri!” Liana setengah berteriak memanggil Fahri yang sebenarnya sedang berjalan menuju ke arahnya. Satu lagi, cinta ternyata membuat orang jadi agak bodoh.

“Yah? Ada apa, Liana?” Fahri bertanya sopan. Ini salah satu yang membuat Liana jatuh hati.

Liana mengacungkan sampul Fahri.

“Nih, sampul buat kamu!”Liana tersenyum bahagia. Lebay.

Fahri menerima sampul itu dan tersenyum.

“Waduh, Na! Aku kok jadi ngerepotin kamu! Makasih banget, Na!” Fahri tersenyum tulus dan menekuk wajah berterima kasih dalam-dalam. Hati Liana jumpalitan bahkan salto di udara.

***

“Liana!” Liana yang sedang membereskan diktat kuliahnya menoleh dengan cepat. Itu suara Pak Ridwan, dosennya.

“Iya, pak?”jawab Liana sambil mendekat.

Pak dosen itu memberikan setumpuk kertas kepada Liana.

“Ini tugas teman-teman kamu. Tolong bawa ke meja saya ya! Saya harus ke rektorat sekarang.”pinta Pak Ridwan.

Liana mengangguk dan mengambil tumpukan tugas itu dan melangkah keluar kelas. Sambil berjalan Liana sempat membolak-balik tugas-tugas itu tanpa tujuan. Cuma ingin membolak-balik saja. Sudah! Jangan mengomentari keanehan perilaku Liana sekarang karena yang punya cerita sedang tertegun. Ada apa, Liana?

Fahri Latif. Itu tugas Fahri tapi sampulnya beda. Bukan sampul yang Liana buatkan. Liana manyun.

***

Karena ini cerita sudut pandang tiga penulis serba tahu, maka lokasi selanjutnya adalah di RUMAH FAHRI.

Sudah hampir larut malam. Pukul sepuluh lewat empat puluh enam menit. Fahri baru tiba di kamarnya yang bersahaja. Setelah cuci muka dan gosok gigi, Fahri merapikan isi tasnya yang acak-acakan. Diktat tebal, laptop 14 inchi, dan map hitam. Dari dalam map hitam itu Fahri mengeluarkan selembar kertas. Itu sampul yang Liana buatkan untuk Fahri. Eh, kurang dramatis. Itu sampul dari Liana!!! /

Fahri tersenyum lembut dan membawa sampul itu ke mading di samping meja belajarnya. Dengan pin warna merah muda, Fahri menempelkan sampul itu di madingnya di samping jadwal kuliahnya penuh hati-hati. Setelah itu Fahri memandangi sampul itu beberapa menit sambil memasang senyum malu-malu. Setelah itu Fahri menuju tempat tidur, membaca doa, dan segera terlelap kelelahan.

Kalau kupasang di tugas yang tadi, sampul itu hanya jadi sampah. Tidak berarti apa-apa. Kalau di praifet madingku, ini bisa jadi luar biasa. Kata batin Fahri sesaat sebelum tidur.

Di luar sana bintang bersinar biasa. Bulan juga bersinar biasa. Alam berjalan seperti biasa. Seperti biasa.

Selesai

Makassar, 29 Maret 2011

5 thoughts on “. SAMPUL .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s