.::bisikan kalbu::. · cerita pendek · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

Ketika Aku dan Ibu Pertiwi

Aku pulang larut senja. Mesjid sudah berbunyi. Saatnya sholat maghrib. Dan Ibu, kau masih saja sibuk meninabobokan seisi negeri.

Ah, Ibu yang tak pernah memarahiku karena pulang larut malam. Tak pernah mengeluh karena aku sibuk terus dengan urusan dunia. Urusan dunia yang menyibukkan tapi sepertinya tidak menghasilkan apa-apa. Tidak menghasilkan sesuatu yang berarti untuk negeri.

Ibu. Kau bertanya mengapa selepas sholat aku langsung masuk kamar dan menyalakan komputer lalu mengerjakan tugas. Kau menyerahkan remote tivi. Kau menyuruhku menonton televisi.

“Tengok keadaan saudara-saudaramu di belahan bumi yang lain.”sahutmu pelan. Aku mengangguk walau enggan padamu yang lalu kembali menjahit sesuatu. Entahlah. Mungkin bendera pusaka yang ujungnya koyak ditarik adik.

“Pagi ini Merapi meletus lagi. Korban Mentawai masih luntang-lantung. Dan kini Wasior tak pernah dipublikasi lagi.”sahut Ibu agak keras dari dalam kamar.

Aku tertegun. Mendengar kata-kata ibu sambil menyaksikan para korban bencana yang begitu menyedihkan kelihatannya.

“Kalau kau? Apa ceritamu hari ini? Apa yang kau tahu hari ini?”tanya Ibu.

Aku tertegun dan kini mataku berembun.

Aku? Umm…pertemuan antara senior-junior yang hampir berkelahi hanya karena spanduk bergambar tengkorak. Gosip tentang senior yang memakai celana botol. Memarahi adik junior hanya karena terlambat menyapu. Murka karena tidak diberi nasi. Curhat karena cemburu tidak beralasan. Membaca novel remaja dan bermain facebook.

Diam-diam aku mengelap air mata. Aku malu kalau ibu sampai melihat. Aku mengerti tentang kesia-siaan sehari ini. Permasalah egoisme, sekat angkatan, harga diri senior, harga diri junior, cemburu kepada orang yang mungkin justru menganggapku gila, dan bermain facebook. Sementara mereka yang kena bencana, para lansia, para perempuan tak berdaya, para pemuda putus asa, para anak-anak yang walau menderita begitu masih saja bermain dan tertawa-tawa betul-betul sedang membutuhkan bantuan. Tidak hanya sekedar bantuan finansial, tapi lebih dari itu mereka butuh bantuan moril.

Bantuan moril dari siapa? Dari kami –anak muda- yang bermental kerupuk? Yang nyaris menyikat junior-senior sendiri? Yang masih takut ujian sendiri tanpa mencontek? Kami yang lebih sering tertawa-tawa daripada merenungi separuh negeri yang telah hancur lebur? Kalau besok giliran kami, bagaimana?

Entahlah, dadaku sudah bergemuruh. Aku menghela napas pelan.

Berita sudah berganti dengan pejabat korup yang dibebaskan dari segala tuntutan dilanjutkan dengan jemaah haji yang terlantar di negeri orang. Yang paling bagus adalah para anggota dewan mulia yang sepertinya kesasar di Yunani karena tak pulang-pulang juga sampai sekarang.

Aku menghela napas. Berkali-kali. Kalut. Merasa tidak berdaya.

Ibu. Ibu pertiwi. Aku tahu ia tengah terisak pula. Isakan yang dalam karena dikhianati anak negeri. Yang diculasi anak sendiri. Yang dikotori oleh buah hati. Oleh mereka yang telah diberi tenah air untuk hidup. Udara bersih untuk bernapas. Tanah yang subur untuk bercocok tanam. Ikan-ikan untuk dimakan. Dan cinta dari seantero alam negeri.

Ah, ibu. Aku minta maaf. Sungguh minta maaf.

“Makan malam dulu, Putriku. Lalu kerjakan tugas dari dosenmu. Jangan lupa matikan televisi.”ibu kembali bersuara. Aku mengangguk seolah-olah ibu dapat melihatnya.

Maaf, Bu. Maaf.

 

6 November 2010

 

4 thoughts on “Ketika Aku dan Ibu Pertiwi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s