.::bisikan kalbu::. · cerita pendek · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

.Eagle Queen.

Catatan lama, empat tahun yang lalu

Ini kisah hidup seekor elang kecil. la terlahir dari suatu tempat berisi keturunan elang-elang perkasa yang belakangan diketahui namanya : Kerajaan Eeiilaaang.

Hobi si elang kecil adalah mengamati segala perilaku dan tindak-tanduk elang-elang dewasa, terutama mengamati elang pemimin yang membawahi seluruh elang-elang yang ada di Kerajaan Eeiilaaang. Bagi elang kecil, elang-elang dewasa itu begitu perkasa di matanya, begitu hebat, begitu kuat, hingga memandangnya membuat bulu kuduk elang kecil berdiri. Si elang kecil pun bertekad agar suatu hari nanti ia bisa seperkasa mereka dan kemudian menjadi elang pemimpin.

Sejak itu elang kecil terus berlatih dengan tekun. Si elang kecil memantapkan mental dan fisiknya agar kuat dan hebat seperti elang pemimpin yang perkasa. Berkat usaha dan latihan kerasnya, si elang kecil menjadi terkenal di kalangan keluarga Kerajaan Eeiilaaang. Elang-elang yang ada di kota Eeiilaaang mulai melirik padanya, mulai mengaguminya dan mereka juga berkata dalam hati bahwa si elang kecil memiliki aura elang pemimpin dan kelak akan menggantikan posisi elang pemimpin. Tiap kali ada elang yang bertemu dengan elang kecil, maka elang itu akan memanggil elang kecil dengan sapaan, “Hai calon Elang Pemimpin!” atau ada yang berkata dalam sebuah percakapan “elang kecil, aku yakin kelak kau yang akan menjadi elang pemimpin!”. Tak terkecuali teman-teman elang kecil.   Jika mereka sedang bersama-sama, elang-elang kecil lainnya suka menggoda, “eh, Elang Pemimpin masa depan, ayo sinil” atau, “Hari ini mau main apa, Elang Pemimpin kecil?”.

Elang kecil pun menyadarinya. Elang kecil tahu akan kenyaataan bahwa banyak elang yang ternyata mendukungnya untuk menjadi elang pemimpin. Ditambah dengan sifat dasar elang kecil yang narsis dan ya… rada sombong dengan kemampuannya, elang kecil bertambah bahkan teramat sangat yakin ia adalah elang pemimpin generasi selanjutnya.

Waktu terus berlalu. Tumbuhlah sudah si elang kecil menjadi elang dewasa. Makin matanglah segala persiapannya selama ini. Makin matanglah kesiapan dan keyakinannya untuk menjadi elang pemimpin. la bahkan telah menyusun program kerja yang akan dilaksanakannya nanti. Dan untuk mempermantap keyakinannya, si elang menciptakan sebuah gelar. Gelar yang untuk sementara hanya dia yang tahu, sampai hari pelantikannya sebagai elang pemimpin, ketika ia telah resmi memegang tampuk pemerintahan. Gelar itu : The Eagle Queen.

Sejak saat itu, ia selalu memanggil dirinya sendiri Eagle Queen walau tak seorang pun yang tahu…

Setiap punya kesempatan, Eagle Queen akan pergi memandang singgasana elang pemimpin di atas pohon terbesar di puncak gunung tertinggi Kerajaan Eeiilaaang. Eagle Queen begitu mengagumi singgasana itu dan yakin saat­-saat dirinya untuk bertengger di singgasana itu tinggal menunggu waktu. Ya. Tinggal menunggu waktu. Bukankah semua elang sudah mendukungnya? Bahkan para elang-elang perkasa yang sudah sesepuh juga mendukungnya. Elang-elang sesepuh itu juga bahkan telah menanyakan kesiapan Eagle Queen untuk menjadi seekor elang pemimpin. Jawaban Eagle Queen? Tentu saja ia menyanggupinya.

Waktu seakan berlari membiarkan dirinya, terus dikejar oleh semua mimpi Eagle Queen. Kini waktunya bagi elang pemimpin untuk melepaskan tahtanya. Hal ini membuat Eagle Queen tidak pernah tenang. Dadanya berdebar menantikan saat-saat penobatan dirinya menjadi elang pemimpin. la sudah membayangkan saat-saat ketika ia dipersilahkan untuk terbang dan bertengger di singgasana Elang Pemimpin.

***

Esok elang pemimpin akan turun tahta. Singgasananya segera kosong dan segera pula akan diisi dengan elang pemimpin baru. Eagle Queen telah siap, bahkan telah sangat siap.

Eagle Queen mempunyai setumpuk lembaran kulit kayu yang tidak lentur. Digunakannya lembaran kayu itu untuk menorehkan hal-hal penting dan indah yang pernah dia alami. Dan untuk perhelatan akbar esok hari, ia telah mengeringkan selembar kulit kayu terbaik dan tak lupa sebatok kelapa darah ular sebagai tintanya. Ia yakin esok akan menorehkan : Elang Pemimpin baru : Eagle Queen.

***

Di tempat lain…

“Besok adalah hari pemilihan Elang Pemimpin. Bagaimana dengan calon kita?”tanya seekor elang dalam rapat rahasia antara para elang sesepuh malam itu.

“Si elang yang terkenal itu (The Eagle Queen.red)?”tanya elang lain sambil membersihkan paruhnya dari bekas darah ular.

“Siapa lagi kalau bukan elang yang sangat suka duduk menatap singgasana elang pemimpin?” kata elang yang tampaknya paling tua di antara elang lain.

“Dulu aku dengan sepenuh hati memilihnya juga. Tapi kudengar, dia telah mendapatkan doktrin dari elang putih yang tinggal di Gunung Selatan. Kau tahu kan Elang Putih? Pemikirannya selalu bertentangan dengan kita.”

“Benarkah itu? Tahu dari mana?”dengan heran si elang yang bulunya berdiri, heran.

”Aku sempat bertemu dengan salah seorang sahabat si calon elang pemimpin itu. Katanya ia pernah melihat si calon elang pemimpin mengadakan pertemuan rahasia di goa utama Gunung Selatan.”

“Ya… Tuhan! Ini gawat. Artinya si calon elang pemimpin itu telah mendapat doktrin yang kuat. Otaknya pasti telah diisi dengan ide-ide elang putih!”

“Kalau begitu, si calon elang pemimpin haram menjadi Elang Pemimpin!!!!”

“Sepakat…sepakat..otak elang pilihan kita telah dicuci oleh Elang Putih. Bagaimanapun si elang itu tak boleh lagi menjadi Elang Pemimpin. Kalau sampai dia naik tahta, dia pasti akan lebih memihak pada Elang Putih. Lalu kita-kita ini pasti akan dilengserkan dari pemerintahan Kerajaan Haliaslur Indus.” kata elang yang duduk dalam kegelapan dengan geram.

”Tapi, terlalu banyak elang di kota ini yang sudah mendukungnya?”

“Gampang. Kita bicara saja pada semua elang-elang di kota ini secara terang-terangan tapi tetap gelap-gelapan.”

“Maksudnya?”

“Jangan sampai si elang calon Elang Pemimpin itu mengetahui kalau kita melakukan semacam doktrin pada elang­-elang di sini untuk beralih pilihan. Lalu sebagai calon pengganti, kita pilih saja elang salah satu sahabat si calon kita.”

“Sahabatnya? Bagaimana dengan perasaan si calon kita yang pertama?”

“Persetan dengan itu. Lagipula mungkin sahabatnya bisa mengajak kembali si elang calon kita yang pertama untuk kembali berpihak pada kita. Dan yang paling penting, sahabatnya itulah yang paling berjasa, karena telah memberitahu kita bahwa telah terjadi percakapan persekongkolan antara si calon elang pemimpin dengan Elang Putih.”

“Bagaimanapun, elang-elang yang ada di kota ini tidak boleh lagi memilih si calon elang pemimpin itu untuk menjadi Elang Pemimpin baru. Tidak boleh!!!”

“Betul. Kita harus menyusun cara agar bukan si elang calon kita yang pertama yang menyentuh singgasana Elang Pemimpin, tapi si elang sahabatnya itu.”

Ketika matahari terbit, Eagle Queen berdiri dipuncak sebuah bukit. Di bawahnya terbentang pemandangan Kerajaan Haliaslur Indus. la sangat gelisah dengan pemilihan yang akan dilaksanakan ketika matahari tepat berada di atas kepala. Untuk mengurangi gelisahnya, Eagle Queen memikirkan bagaimana senyum yang harus dikeluarkan ketika telah bertengger di singgasana, bagaimana kata sambutan ketika,dirinya nanti dilantik, bagaimana susunan kabinet yang nanti akan dibentuknya. Eagle Queen kembali tersenyum. Sebenarnya ia pernah dicalonkan menjadi Pemimpin Spiritual elang-elang betina di kota Haliaslur Indus, tapi demi impiannya menjadi elang pemimpin, ia lebih memilih melepaskan jabatan itu dengan terus membesarkan hatinya, tidak apa-apa tidak jadi menjadi Pemimpin Spiritual, toh aku akan menjadi Elang Pemimpin.

***

Matahari tepat berada di atas kepala. Siang itu adalah siang bersejarah. Singgasana Elang Pemimpin akan dihinggapi oleh Elang Pemimpin baru. Sedari tadi Eagle Queen sudah bersiap-siap. Disikatnya bulu sayapnya sampai bersih dan wangi, si gosoknya paruhnya hingga licin mengkilap. Eagle Queen bahkan sempat menitikkan air mata antara terharu dan membayangkan tanggung jawab yang akan dipikulnya nanti. Elang-elang lainpun ikut bersiap-siap. Beberapa sahabat Eagle Queen terus saja memberikan dorongan emosional, memberikan dukungan dan semangat agar Eagle Queen tidak gentar.

***

­Eagle Queen mengambil tempat di bukit dekat puncak gunung, agar jalan menuju singgasana Elang Pemimpin lebih mudah. Eagle Queen menghitung mundur. Tiga… dua… satu… Eagle Queen mulai terbang. Sayapnya membentang gagah dan sangat berwibawa. Hatinya sangat senang walaupun tetap gelisah. Segala angan dan impiannya seakan telah nyata. Seuntai senyum manis terlukis di wajahnya…

* * *

The Eagle Queen. Di pahatnya nama itu di pohon tempat tinggalnya, dipatuknya berkali-kali, lalu dicakarnya, lalu kemudian dipukulkannya kedua sayapnya. ke pohon itu sampai berdarah. Eagle Queen terduduk memikirkan semua yang telah terjadi. Memikirkan perubahan yang menurutnya terlalu cepat. Memikirkan kenyataan yang -jujur saja- belum bisa diterimanya dengan betul-betul ikhlas.

Eagle Queen lalu pergi ke pantai. la mencoba menenangkan dirinya dengan memandangi lautan dan langit yang biru. Tapi tidak berhasil. la mengepakkan sayapnya -yang berdarah- kuat-kuat hingga sekitarnya menjadi bergetar. la menjerit dengan sekuat tenaga hingga makhluk-makhluk lain lari karena terkejut dan ketakutan. Siapapun yang mendengar dan melihat itu pasti tahu bahwa Eagle Queen tengah terluka parah. Sangat terluka parah. Terlalu terluka parah. Atau apapun yang lebih tigggi lagi tingkatannya dari semua “keparahan” itu. Mimpi-mimpi, khayalan-khayalan, persiapan-persiapan, yang telah direncanakannya baik-baik sejak ia kecil hingga dewasa, pujian-pujian, harapan-harapan, dipanggilnya dirinya dengan sapaan “calon Elang Pemimpin!”, gelar The Eagle Queen yang diciptakannya sendiri apabila ia duduk di singgasana Elang Pemimpin, selama ini, semua itu telah berhasil mengangkatnya begitu tinggi, begitu tinggi, begitu tinggi, begitu tinggi. Hingga akhirnya ketika ia harus terjatuh, maka yang terjadi adalah ia betul-betul hancur, betul.betul hancur, betul-betul hancur, betul-betul hancur!!

Karena yang lebih dulu sampai ke singgasana Elang Pemimpin bukan dia. Karena yang berhasil menjadi Elang Pemimpin bukan Eagle Queen. Tapi elang lain………

Epilog

“Hai Eagle Queen…!”tegur hamster betina, salah seorang sahabat The Eagle Queen. Ini sudah hari ke seratus setelah pemilihan Elang Pemimpin dan sudah seratus sore Eagle Queen pergi ke pantai sendirian.

“Jangan memanggilku seperti itu.”Eagle Queen menjawab datar sambil terus memandangi lautan.

“Sudahlah. Jangan memikirkan pemilihan itu. Semua ini terjadi pasti ada sisi baiknya. Ingat, Tuhan tak kan pernah­ mendzalimi makhluknya.”nasehat si hamster.

“Aku hanya menyesali pengkhianatan, sahabatku. Kau sudah tahu bukan? Aku bersama si Elang Pemimpin baru waktu menemui Elang Putih. Dan tidak ada persekongkolan apapun diantara aku dan Elang Putih. Dia tahu itu! Tapi kenapa dia tega mengkhianatiku?”tutur Eagle Queen lirih.

YahIde Elang Putih untuk merubah sistem Kerajaan Elang menjadi sistem yang lebih realistis dan masuk akal kini sudah tandas. Tapi paling tidak, aku sebagai wakil Elang Pemimpin baru masih bisa menyuarakan ide itu.” tambah Eagle Queen lagi.

“Kadang kebenaran memang terlihat salah, begitupun sebaliknya.”kata si hamster setelah mereka sempat membisu.

Si hamster lalu mendekatkan tubuhnya ke sayap Eagle Queen dan menatapnya dalam-dalam.

“Tegarlah sahabatku. Inilah yang namanya keperkasaan. Jika kau mampu tetap tegar tanpa mahkota itu, berarti kau telah berhasil menjadi seekor elang perkasa. Lagipula, walau bagaimanapun, kau tetap Eagle Queenku walau dunia tak mau mengakuinya.”nasehatnya tulus.

Sudah seratus hari Eagle Queen tak pernah tersenyum. Namun kini, bersama si hamster, Eagle Queen dapat tersenyum, hangat.                                                                     .

s e l e s a i

 

http://oya-yugi.deviantart.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s