cerita pendek · Setangkup Roti Cokelat

Lelaki Beranak dan Perempuan yang Ingin Terawih

Perempuan itu tidak gendut, nyaris ringkih. Kantung matanya mengabu bergradasi dengan kulit wajahnya yang sawo matang pucat. Tapi tetap saja ada senyum di wajahnya. Senyum seribu makna.

Di depannya sedang makan kolak dengan lahap seorang lelaki tegap, badan padat berisi, dan tampak bahagia.

“Mau pergi tarawih, Daeng?”tanya si perempuan pada lelaki tegap, suaminya.

“Iya. Tarawih saya tidak boleh bolong tahun ini!”ujar di suami dengan semangat.

“Allah menciptakan bulan Ramadhan cuma sekali setahun, istriku!”tambahnya lagi sambil mengunyah suapan terakhir.

“Alhamdulillah… masakannmu selalu enak, sayang!”sahut suaminya setelah melap mulut dan minum.

Si istri masih saja tersenyum. Dan demi melihat senyum istrinya itu si suami melenyapkan senyumnya dan menekuk wajah sungguh-sungguh dalam-dalam.

“kau ingin tarawih di mesjid juga, sayang?”katanya lembut sambil menatap mata istrinya.

Lagi-lagi si istri tersenyum dan menjatuhkan pandangannya pada pintu kamar berwarna merah muda yang sedikit terbuka. Dari pintu itu terlihat separuh wajah balita kecil  yang sedang tidur kekenyangan.

“Lebih baik sholat di rumah, Daeng. Anak kita masih terlalu kecil untuk dibawa ke mesjid.”sahut si Istri sungguh-sungguh dan lagi-lagi sambil tersenyum.

Si suami menghela napas. “Aku menghargai segala usahamu menjaga dan merawat surga kecil kita dan segala isinya, sayangku.”kata suaminya sambil menyampirkan sajadah beludru hijau di bahunya. “Aku pergi dulu, ya! Assalamu’alaykum…”

“Wa’alaykum salam…”

***

Setelah mengantar suaminya sampai menghilang dari pandangannya, si istri segera menutup pintu dan bergegas menuju kamar anak semata wayangnya, seorang gadis mungil berumur 1 tahun 4 bulan, yang masih tertidur. Si istri tersenyum melihat betapa teduh dan damainya wajah mungil itu. baginya hilang sudah segala lelah dan letih seharian ini karena sibuk mengajar, membersihkan rumah dan memasak serta tentu saja mengasuh si kecil yang sudah bisa lari-lari dan memecahkan gelas karena dianggap mainan.

Lebih baik aku wudhu, sholat isya dan tarawih… batin si istri.

Dan di samping tempat tidur anaknya, ia kemudian sholat isya dengan khusyuk  untuk menghaturkan ucapan syukur yang dalam atas nikmat hari ini. Selesai sholat isya, ia melirik pada anaknya yang masih tertidur lalu bangkit dan memulai rakaat pertama tarawihnya.

“Ibu…?”suara rengekan.

Anakku!! Pekik si istri dalam sholatnya. Astagfirullah…khusyuk..khusyuk… Bismillahirrohmanirrohiim… Yaasiin… si istri mencoba meneruskan sholatnya walau anaknya itu sudah turun dari tempat tidur dan berdiri di sampingnya.

Krekk. Suara pintu terbuka. Anaknya memang sudah pandai membuka dan menutup pintu sendiri. Aku meneruskan terawihku atau bagaimana? Konsentrasinya kembali terpecah tapi ia memilih untuk meneruskan terawihnya.

PRRAANGGG!!!!! Suara sesuatu pecah! Tanpa pikir panjang dan masih mengenakan mukenah, si istri segera melesat menuju suara pecah itu. Di atas meja makan, gadis mungilnya itu  sudah berdiri sambil nyengir melihat ibunya datang.

“mau mimi es lapa, tapi gelasynya bodo’ jadi ditendang!”kata si anak sambil memandang wajah ibunya yang panik.

“Astagfirullah!!! Kenapa ditendang? Dengar sayang, apapun itu semua barang-barang di rumah kita tidak boleh ditendang, dilempar atau dibuang! Mengerti?”berondongnya. ia pun tidak yakin anaknya itu mengerti atau tidak walau dari mulut mungilnya keluar kata, “Iya…”sambil mengangguk-angguk.

Sambil berjinjit takut kena beling kemudian mendudukkan anaknya di kursi si ibu mengambil sapu dan berkata, “jangan turun dari kursi sampai ibu selesai menyapu ya! Kalo turun ke lantai, kaki adek bisa berdarah. Mau kalau kakinya berdarah?” dan anaknya lalu menggeleng dua kali.

Si ibu pun mulai membersihkan pecahan gelas itu sambil sekali-sekali berlari ke arah anakknya yang terus saja mencoba turun. Sekali-sekali juga menyambung nyanyian anaknya yang masih cadel. Dasar bocah! Selalu berada dalam zona nyamannya walau ia baru saja membuat kegaduhan lagi. Dan ibunya? What a mother! Merasa geram, kesal, tapi lucu dan sayang dalam waktu yang bersamaan!

***

Sholatullah salamullah… si ibu bersenandung pelan sambil sedikit menggeser posisi baringnya agar lebih nyaman. Di lengannya si kecil baru saja tertidur setelah disusui tepat setelah gelas yang dipecahkannya selesai dibersihkan. Ia merasa sangat lelah. Sangat lelah.

Si ibu menatap wajah damai anaknya lalu menatap nanar mukenah yang belum dilipatnya. Ia kemudian meletakkan kepala anaknya di atas bantal dengan sangat pelan kemudian melipat mukenah dengan takzim, bergegas ke dapur untuk menghangatkan makan malam karena suaminya sebentar lagi pulang dari tarawih.

***

“Si adek mana?”tanya suaminya sambil memeriksa meja makan.

“Baru saja tidur. Tahu apa yang baru saja dia lakukan?”tanya si Istri sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya. Si suami hanya menggeleng.

“Tiga belas! Ia telah memecahkan gelas ke-13! Dan bukannya merasa bersalah, Tiara malah menyanyi sambil aku membersihkan pecahan gelasnya.”kata si istri dengan nada sedikit mengadu.

“Ia makin cerdas saja.”komentar suaminya sambil terkekeh. Si istri mendelik dan itu membuat suaminya tambah terkekeh.

 

“Tahukah kau, istriku? Anak kita akan tumbuh menjadi anak yang pintar di bawah pengasuhanmu. Mudah-mudahan ia akan melindungi kita dari siksa api neraka. Kau ingat kan? Cerita tentang anak perempuan yang menjadi tirai orangtuanya dari api neraka?”

“Kalau itu anak perempuannya harus ada tiga!”si istri mengoreksi.

“Tentu saja. Kita akan punya tiga anak perempuan segera!”sahut suminya sambil tersenyum jahil. Lagi-lagi si istri mendelik lalu mencubit lengan suaminya.

“aku tidur dulu, sayang! Aku akan bangun tengah malam nanti untuk sholat lail.”

“tidur di samping Tiara dulu, ya! Aku masih harus beres-beres.”kata si istri yang dijawab dengan anggukan oleh suaminya.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Si istri tengah duduk di meja makan dan minum segelas air putih.

Ayo…ayo…saatnya aku sholat tarawih…..!

“Huaa!!!! Ibu…!!!!”suara si kecil, Tiara, mengejutkannya.

“kenapa sayang?”sahut ibunya khawatir. Sisa-sisa air wudhu masih membasahi wajahnya.

“Ia tiba-tiba terbangun dan menangis. Mungkin mimpi buruk.”kata suaminya.

“Adek sama ayah saja ya?”bujuk ibunya.

“Mau cama ibu!! Cama Ibu!!!”kini anaknya menjerit.

“Iya..iya…sama ibu. Ayok, kita tidur lagi, ya!” si kecil mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada ibunya.

***

“Sayang…ayo bangun…”

“Heh? Ayah!!! Jaga Tiara dulu, yah! Aku mau sholat tarawih!”si istri terkejut karena dibangunkan tiba-tiba oleh suaminya. Ternyata ia ketiduran di kamar anaknya.

“sekarang sudah jam tiga, sayang.”

Si istri terkejut. “Jam tiga? Ya Allah… aku harus menyiapkan sahur!”

Melihat keterkejutan istrinya, si suami hanya memandang gelisah.

“Ayah jaga Tiara dulu, ya?”pinta istrinya. Si suami hanya mengangguk lemah.

Setelah punggung istrinya sudah menghilang di balik pintu, si suami menghela napasnya beberapa kali.

Ya Allah, ini sudah Ramadhan ke-16…dan tarawih istriku masih bisa dihitung jari….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s