.::bisikan kalbu::.

Melepasmu Pelan-pelan

deviantart.com


-sebuah percakapan direct current-

Aku melihatmu hari ini. Di sudut ruang yang biasa. Sinar mentari –yang tak lain pengejewantahan dirimu- mendaratkan berkas-berkas emasnya di wajah tegasmu yang biasa tapi sangat indah seperti biasa. Aku suka seperti biasa.

Kau boleh berbangga hati. Tak apa. Kau memang patut berbangga hati.

Entahlah, entah bagaimana caranya, aku jadi bertanya-tanya tentang kilasan mendung yang menggantung di keningmu. Apa yang sedang kau pikirkan? Kau merasa sesak akan sesuatu? Kau mengkhawatirkan sesuatu? Kau ada masalah?

Ah, maaf. Aku tak bisa lagi bertanya seperti itu. Bukan kuasaku lagi untuk sekedar menyamankan hari-harimu. Maaf. Aku tidak bisa lagi. Aku tak boleh lagi.

Ada balutan yang memburamkan penglihatanku sore ini. Ah, aku benci mengatakannya. Tapi tak apa. Benar-benar tidak apa-apa.

Cuma ingin berkata. Ternyata langit tetap biru di luar sana. Pun dedaunan hijau mengangguk-angguk yang , hey, menggoda mengira kita masih berada dalam cerita yang sama.

Ah, kicauan para burung gereja itu pula! Mereka tak tahu bahwa ini adalah akhir kisahnya? Kau tak memberi tahu mereka? Kenapa tak kau kabarkan?

Tidak. Kau saja yang melakukannya. Jangan suruh aku. Sepertinya aku tidak akan sanggup. Mengganti keyword telepon seluluerku saja sulitnya minta ampun.

Ah, kau tersenyum pada dinding yang beku. Tapi aku tak dapat lagi menerjemahkan itu berarti apa. Karena telah kulepaskan seperangkat teknologi using yang sering kupakai untuk melihat jauh ke dalam jiwamu. Kulepaskan karena keusangannya tak bisa menembus dalam-dalam pikiranmu dan berakhir dengan ketidaktahuanku tentang dirimu.

Kau tertawa melihat apa yang kugoreskan ini? Tak apa. Aku juga sedang tertawa.

Ini mungkin tulisan perpisahan. Ah, tidak. Terlalu dini untuk mengatakan selamat tinggal. Ini hanya sedikit tulisan biasa karena aku tak punya ruang lagi untuk berbicara denganmu dari hati ke hati. Kau tampak tidak mau.

Aku cuma ingin kau tahu, aku telah melepasmu dengan tenang dan tidak tergesa-gesa dari dalam diriku. Ini agar kau lega. Ini agar kau tidak perlu lagi merasa terganggu. Ini agar kau tak perlu lagi merasa kesal karena sikap ku yang tidak jelas dan kekanak-kanakan. ^^

Aku melepasmu pelan-pelan.

Kau senang, sekarang?

My room, 13 Agustus 2010 …backsound > Nelly Furtado – In God’s Hands.. :’)

8 thoughts on “Melepasmu Pelan-pelan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s