.::bisikan kalbu::. · harihariku · Setangkup Roti Cokelat

I.d.d.a.h

Seorang perempuan yang baru saja putus ikatan pernikahannya diwajibkan tidak menikah sebelum masa iddahnya berakhir.

Tapi kupikir aku juga perlu istilah “iddah” itu.

Bukan. Bukan karena aku jadi janda. Nau’dzubillah. Menikah pun belum. Tapi aku memang butuh sesuatu yang bermakna seperti “iddah” itu.

“Bebaskan hatimu. Berlabuhlah pada sosok yang baru.”kalimat dengan aneka variasi yang sering diguraukan teman-teman.

Aku tersenyum menggeleng. Tidak semudah itu, kawan, jika kau terlanjur jatuh begitu dalam.

Itulah kenapa sesuatu yang seperti iddah itu dibutuhkan. Dibutuhkan untuk menetralisir hati. Mengkalibrasi hati. Menepatkan jarum penunjuknya di angka nol lagi.

Agar tak ada nada sumbang, “dia cuma pelampiasan!”. Agar tak ada komentar pedas, “dasar genit!”.

Cocok?

My room, 13 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s