Setangkup Roti Cokelat

Mengantarmu Pulang

Di dalam kultur kami, perempuan adalah simbol dari sesuatu yang punya kedudukan spesial. Perempuan harus diutamakan. Perempuan harus dijaga baik-baik. Karena itu saya ingat sekali. Pada malam-malam latihan inaugurasi 2007, saat teman-teman dari divisi acara harus latihan sampai pukul sepuluh malam, para teman-teman lelaki kami –secara kultural- harus memastikan agar teman-teman perempuan mereka selamat sampai tujuan. Bagaimana caranya? Ya di antar pulang!

Ada aksi dari salah satu jurusan (tidak usah saya sebutkan) yang membuat saya berdecak kagum saat itu. Mereka secara sukarela menunggui teman-teman perempuan kami yang berasal dari jurusannya hingga selesai latihan acara dan mengantar mereka satu per satu. Padahal mereka bukan dari divisi acara. Mereka khusus datang dan menunggu teman-teman perempuan kami dengan rapi.

Tidak. Tidak masalah karena mereka datang dengan maksud menunggui teman-teman perempuan dari “jurusan” mereka sendiri. Ini bukan masalah arogansi jurusan. Memang sudah pantas jika “tanggung jawab” itu dimiliki oleh masing-masing jurusan. Tanggung jawab mereka mahasiwa kepada mahasiswi sejurusan masing-masing. Secara logika, seharusnya bukan ini masalahnya. Masalahnya adalah, apakah teman-teman lelaki dari jurusan lain ada yang seperti ini kepada teman-teman perempuan sejurusannya? Mereka –para lelaki penjemput- itu tentu saja tidak akan keberatan jika ternyata ada teman yang butuh tumpangan dari jurusan lain. Intinya adalah mereka harus memastikan teman-teman perempuan mereka selamat sampai rumah.

Maaf kalau ini membuat beberapa pihak tersinggung. Saya juga ingat sekali malam itu ketika seorang teman perempuan saya meminta untuk diantar pulang oleh teman-teman lelaki sejurusan kami. Apa yang mereka lakukan? Menyodorkan helm kah? Tidak. Mereka berkumpul dan berdiskusi dan astaga… mereka saling suruh menyuruh untuk mengantar teman perempuan saya pulang. Saya mengernyitkan dahi, begitupun teman perempuan saya itu.

Pada malam yang lain selepas pulang latihan. Tak seorang pun teman perempuan saya yang membawa motor dan bisa mengantar pulang. Saya paling malas meminta diantar pulang tapi sekaligus khawatir teramat sangat harus pulang naik pete-pete jam sepuluh malam. Mana tempat latihan acara bukan jalan poros. Tidak ada pete-pete yang lewat di situ. Saya masih harus berjalan kaki gelap-gelap seandainya mau naik pete-pete.

Saya pun berdiri di depan pagar. Tidak jauh dari gerombolan teman-teman sejurusan. Saya berdiri dalam diam dan memasang ekspresi “antar duleh!”. Sekitar limabelas menit dan tak satupun dari lelaki itu yang menawarkan diri. Saya mulai gelisah sekaligus kesal. Tidak mengertikah mereka?

Tiba-tiba seorang teman dari jurusan lain datang dengan motornya.

“Antar duleh…”saya meminta agak ragu.

Sambil menyerahkan helm, “Iyo, ayokmi. Se kira pulang mko dari tadi. Kenapa masih nunggu di situ?”katanya.

Saya hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Saya malu mempermalukan teman-teman dengan mengatakan, “tak ada yang menawarkan tumpangan”. Dan saya pergi tanpa menyapa atau pamit pada gerombolan teman-teman saya itu.

Kenapa? Kalian pikir mereka mengira saya sedang menunggu jemputan? Kalau saya jadi mereka, saya akan bertanya, “Tunggu siapa? Adaji yang antarko pulang?”.

***

Yahh…sebenarnya di hari-hari yang lain teman-teman lelaki sejurusan saya ada juga yang mau mengantar pulang. Adaji tawwa juga… Hihihihi, daripada saya benjol karena menyudutkan teman-teman sejurusan saya. ^^

***

Saya menulis ini bukan berarti saya melegalkan bahwa perempuan dibonceng lelaki itu dianjurkan atau diperbolehkan atau apa, tidak. Saya tahu sebaiknya tidak, walau saya sendiri terkadang masih melakukaannya juga. Tapi yang ingin saya tunjukkan di sini adalah kepedulian dan keikhlasan dalam menolong, dalam menjaga teman-teman perempuan mereka yang secara kulturan menempati posisi yang amat sangat terlindungi. Karena mereka perempuan.

Mudah-mudahan tidak bermanfaat.

Sekian.

*antarka duleh pulang…

Kamar Pink, 31 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s